[/stickpost] Sugeng Rawuh


Pengumuman:

  1. Buat ngelihat artikel-artikel sebelumnya
  2. Kalo mau kunjungan balik di About aja ya!😀

Best Regards.
Triyoga Adi Perdana

Sila Pertama: “Keuangan” Yang Maha Esa


Kemarin coba motoran dari Margonda ke Cikini jam 10 malam, ternyata cepat juga ya. 40 menitan lah, udah kepotong sama lampu merah pancoran yang lama banget, plus kecepatan motor yang udah mentok gak mau di geber lagi. (heuheuheu) Belum termasuk bawaan yang lumayan hits banget.

Jakarta malam hari itu enaknya minta ampun. Asal gak ada begal sama preman yang berhentiin motor loh🙂. Seminggu yang lalu, dengan rute Cikini-Margonda berangkat habis maghrib waktu tempuh 2 jam. Waktu yang sama naik pesawat Jakarta-Medan atau Jakarta-Yogyakarta (PP) atau waktu yang sama buat pertandingan bola sudah plus perpanjangan waktu dan waktu istirahat. Mungkin udah termasuk waktu buat foto-foto juga sama fans-fans kali. Atau malah itu ukuran waktu yang lumayan panjang buat nge-po-in diskon-diskon di Zalora, atau bahkan ngeliatin instanya @raisa6690 sama yang lagi terkenal @kutudjangkrik dari post terbaru sampai post paling buncit.:mrgreen:

Continue reading

Tombo Ngantuk


Hari ini, -seperti biasa- rutinitas kerja yang mungkin terbilang monoton di kantor. Untung ada dua kotak nasi hasil dari dua rapat. Lumayan, itung-itung ngirit isi dompet keluar demi beli sebongkah berlian dan sekarung gandum untuk ngelamar anak orang. Oh ya, satu lagi. Sama gak ketinggalan ngelamarnya pakai seperangkat alat mendaki gunung, photography dan snorkeling. (*kodegariskeras*). Sok lah kalo misalnya ketiga perangkat tersebut jadi inspirasi pembaca sekalian. :)  Continue reading

Manusia (yang katanya) Sebagai Intangible Asset


Setelah sebelumnya saya menulis opini tentang bagaimana birokrasi berpengaruh di dalam dunia kerja (Blackbox Sistem Birokrasi), kali ini saya mencoba memberikan sedikit opini mengenai Manusia sebagai Intangible Asset. Yang patut digarisbawahi, saya ini bukanlah bagian dari divisi Human Resource Development atau pemangku kepentingan yang bergelut di bidang pengelolaan aset manusia, tulisan ini hanya merupakan opini/preferensi saya pribadi dalam keterbatasan ilmu yang saya miliki. Perbedaan opini atau –mungkin dapat dikatakan– lebih cocok memilih kearah mana, saya serahkan sesuai dengan fatwa hati masing-masing pembaca.

Dalam dunia kerja, saya beranggapan bahwa manusia itu adalah aset yang paling berharga di suatu perusahaan. Karena disebut aset, maka pemeliharaan aset menjadi kewajiban. Pemeliharaan itu adalah tindakan untuk menjaga, agar aset tetap sesuai dengan kapasitas yang ada. Sehingga dari hal tersebut, aset bisa memberikan impact seperti yang diharapkan. Pemeliharaan juga bisa berarti proses upgrade. Kenapa diklasifikasikan sebagai upgrade? Karena kebutuhan masa depan semakin meningkat. Ilmu yang ada sekarang, belum tentu bisa available untuk satu tahun, lima tahun atau 10 tahun kedepan. Oleh karenanya, jika tidak mau tertinggal atau bahkan stag dengan kondisi perusahaan seperti saat ini, pastinya aset harus diupgrade. Anggap saja, upgrade itu harga mati.  Continue reading

Suntuk


Sepenggal tulisan lama dari tumpukan sisa-sisa kegiatan menulis satu tahun yang lalu ketika patah tulang.

Pemalang, 12 Maret 2014

Hampir 3 bulan sudah, terkapar lebih banyak di rumah. Menikmati udara lembab musim penghujan. Membuat keluar untuk melihat udara sekitar saja malasnya minta ampun. Hujan setiap hari, apalagi luka balut yang harus dijaga untuk tidak terkena air membuat “lagi-lagi” memilih untuk di rumah. Belum jalan yang agak rusak akibat pengikisan oleh hebatnya tubrukan air yang turun dari langit. Goncangan sedikit saja, tangan yang patah masih belum bisa mentoleransi hal itu. Padahal, sudah hampir 3 bulan.

Continue reading

Blackbox Sistem Birokrasi


Selamat malam, langit sudah mulai gelap. –saatnya menulis

Buat saya pribadi berada di lingkungan kerjaan yang memang menganut paham “birokrasi-isme” rasanya sungguh luar biasa. Anak teknik yang memang terkadang gak suka yang namanya ribet apalagi banyak aturan eh malah sekali kecemplung ke kolam, kecemplungnya di kolam dengan sistem pengairan yang berjenjang. Hierarchy. Up to down level yang terkadang buat saya pribadi menilai pekerjaan satu jam bisa molor jadi pekerjaan satu hari.

Saya mengibaratkan birokrasi adalah black box. Black box saya ibaratkan “sistem birokrasi”. Karena memang black box, jadi kita sendiri tidak akan tahu di dalam bentuknya seperti apa. Seberapa panjang jalan informasinya, seberapa cepat kecepatan antar medianya, seberapa besar kapasitas penampungan informasi antara satu titik dengan titik yang lain dan yang lebih ngeri lagi tidak ada skema yang paten menjelaskan bagaimana birokrasi itu dibentuk. Sama seperti security sistem yang mempunyai enkripsi dari ribuan pola kriptografi modern saat ini. Banyak sekali. . Continue reading

Hanya Permainan Rotasi


Dan lalu, kemudian, entah kenapa, hanya omongan saja yang digaungkan, actionnya kosong melompong, bak kacang polong yang sudah bolong-bolong.

Realitanya, memang gak selamanya orang baik, berujung baik, pun gak selamanya orang “buruk”, berujung buruk. Ternyata semua hanya masalah “hati”. Tapi itu seribu kali dipendam, ditutup rapat-rapat, diinjak keras-keras, karena yang dilihat hanya yang terlihat saja, atau yang diprioritaskan hanya yang terlihat saja.

Rupanya, semua hanya permainan rotasi saja.
Kamuflase!!

Jakarta | –ufuk timur berseri– 9 Juni 2015

. . . Karena Kau Menulis


“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari”. (Mama, 84) – Pramoedya Ananta Toer

Kuncinya?
1. Bangun “cinta” disana,
2. Biarkan dia menuntunmu.

Mari (sempatkan) Menulis. – penulis🙂

Jakarta | 12 Juni 2015 

Make Up Terbaikmu!


Bagiku, make up terbaikmu itu cuma satu, senyumanmu. Karena Ia tak lekang oleh waktu.🙂

Jakarta, 11 Juni 2015 

Broto-Jani, Simbol “Gaul” Orang-orang Kampung


Kayaknya lucu juga ya, sekarang dunia ini sudah berisi wayang-wayang orang jaman sekarang. Mungkin kalau dilihat, gegara sinetron Mahabaratha dan Jodha Akbar yang sekarang sedang naik pamor di kalangan masyarakat desa, saya akhirnya lebih suka dengan kata wayang-wayang ketimbang orang-orang. Gak tahu juga, biar beda saya coba katakan seperti itu saja kali ya. hehehehe. . –Tapi anu, bukan berarti saya sering liat dua film itu lho ya

Gini. Saya itu agak heran, coba kalian pikir. Kalo sinetronnya, “mbak Dewi Sandra” yang CHSI itu sudah hilang, plus “acara terong-terongan” sudah khatam dari peredarannya, saya yakin mayoritas masyarakat desa pada liat berita-berita yang sekarang sedang banyak dipergunjingkan diantara orang-orang sekitar. Pak RT, Bu RT, imam mushola, tukang bakso, sampe tukang kebun pasti gak bakal bicarain masalah Syahrini, atau bahkan Marshanda yang kini sudah “berbeda”. Apalagi ibu-ibu arisan, yang notabene jadi ajang silaturahmi tapi berkedok gosip itu. Heuheuheu. . Coba bayangkan, seandainya sudah khatam itu acara-acara sinetron gandul-gandulan eh terong-terongan, sekarang pasti mereka bakal lebih “gokil” ngegosipnya. Sudah berani ngomongin pemerintah, partai bahkan kasus PSSI. Lagipula, saya yakin ibu-ibu sudah “move on” gara-gara masalah Dude Herlino yang nikah kemarin lalu dan bahkan bapak-bapak yang juga sudah “move on” gara-gara Briptu Eka menikah beberapa waktu lalu. Heuheuheu. . Continue reading

Tanda Tanya dan Tanda Seru


(…)

Banyak sekali orang melihat dunia begitu kacau. Anehnya, mereka hanya sebatas berkicau tanpa membunuh kekacauan itu. Terkadang, –mereka malah yang saling bunuh– entah apa sebabnya. Mungkin jika dilihat, sama halnya menegaskan tanpa tanda seru dan menanyakan tanpa tanda tanya. Mungkin tak berarti bagi sebagian orang. Tapi terkadang, sedikit sederhana berkurang, keelokkan berangsur meluruh. Ya, diantara dua tanda itu.

Mari kita sebut saja, tanda seru sebagai ketegasan dan tanda tanya sebagai keraguan. Dua hal itu, mungkin bisa saja dilupakan olehmu, kalian atau siapapun yang sudah suntuk dengan kesabaran atau terlalu sulit mencari kesabaran. Terkadang, dibuang sayang, disimpan malah menjadi terbayang-bayang. Atau bahkan semakin dibuang semakin terbayang-bayang? Atau, malah semakin kau tegas yang ada malah semakin membekas? Sulit bukan?

Itu karena terkadang kita hanya membicarakan permasalahan massive saja. Akibatnya, yang kecil malah terabaikan, yang besar semakin menjadi besar. Tapi mungkin itu wajar, terkadang yang terlihat, lebih kita sukai ketimbang yang tak terlihat kan? Atau terkadang, malah yang tak terlihat membuat kita semakin menjadi lebih dekat? Atau seperti apa masalahmu?

Harusnya, dua tanda itu selalu hadir berdampingan. Karena dua hal itu, bisa menyenangkan jika kita bisa atur kadar hadirnya. Coba lihat, –anggap saja– ketegasan itu penting, karena sekarang yang terbuang biasanya karena ketegasan jadi barang cadangan atau terbuang karena tak ada yang meluruskan keraguan.

Dua hal itu, saling menguatkan. Atau bisa saja, saling menenggelamkan. .

(…)

Jakarta, 9 Juni 2015