Trilogi Dunia Gaib


Saat ini, dunia tergemparkan oleh Klinik Tong Fang, Cewek Jogja, dan Tentang enaknya skripsi yang menjadi trending topik dan membuat perbincangan yang menggelitik di dunia gaib (*maya). Ya, mungkin kepopuleran The Lord Of the Ringpun hanya sebatas biji jagung jika dibandingkan dengan Trilogi Dunia Gaib saat ini. Sungguh Trilogi diatas, jadi satu kiasan tersendiri, bagaimana dunia gaibpun, bisa melahirkan satu cerita

Alih-alih karena ini menjadi trending topik pembahasan dunia gaib, membuat saya semakin penasaran, ketika hubungan antara ketiga hal tersebut, bisa memberikan kita satu gambaran. Gambaran? Tentang hidup? Ah bukan, tentang Cinta? Bukan. Tentang kerinduan? Bukan, bukan. Lalu, tentang apa? Tentang kekuatan dan keyakinan. Emang ada? Ya meskipun agak maksa, namun saya yakin cita rasa jari-jariku ini memilih terpikat dengan judul itu, kurasa tepat, apalagi Trilogi Dunia Gaib pun mulai menggelitik saya. Open-mouthed smile


***

gambar-anak-kecilSuatu saat klinik tong fang telah membuka cabang di mana-mana, simpang sana, simpang sini. Hingga suatu saat, pembicaraan mengenai klinik tong fangpun sudah menyebar, bukan hanya dikalangan eksekutif konglomerasi, tapi berlanjut hingga sekolah beratap daun pinggir desa di dekat jembatan itu pun tak habis-habisnya menyebut nama Tong Fang. Mereka takjub akan kesuksesan klinik tong fang, yang kian lama kian mencengkeram bumi, menuai benih di seluruh pelosok negeri.

Besarnya tongfang, tidak luput dari kualitas kepemimpinan Tansen. Namanya mungkin sama dengan kesuksesan Tansen ala madre, semangatnya pun sama, tapi Tansen ala Tong Fang tidak ber-literatur yang diejawantahkan dalam satu buku Dee. Dia masih bebas, menggarap klinik Tong Fang tanpa ada bahan yang khusus seperti madre dalam cerita Tan De Bakker.

Bukan bualan, (dalam bisikku) ketika kesuksesan itu dia raih dengan sempurna, gelar diploma tidak menyurutkan langkahnya untuk menjejakkan nama Tong Fang di seluruh negeri. Satu, dua, tiga dalam satu tahun, meningkat tajam dalam 5 tahun berikutnya. Mungkin, jika dikaitkan dengan MLM, dia sudah dalam posisi gold ku kira. Yatch, kapal pesiar? Bukan, lupakan tentang MLM, kita sedang fokus bagaimana Tansen mengubah Tong Fang menjadi sang mahakarya.

Tansen memiliki murid, satu orang. Namanya mawar. Ah, aku juga tidak tahu nama sebenarnya, asalnya pun aku masih kurang mengerti. Tapi yang ku tahu, dia dari pinggiran kota jogja. Ku pangil saja dia mawar. Tubuh yang semampai, dibalut dengan jilbab yang menjulur panjang tak salah jika dia ku panggil mawar. Tutur katanya lembut, wajahnya selalu terpancar buih-buih optimisme keyakinan. Senyumannya biasa, tak terlalu lebar, tak terlalu sempit, tapi pas. Sungguh serasi jika ku panggil dia mawar. Ah, tak usah dibayangkan, cukup bayangkan mawar, maksudku bunga mawar. 

Skripsi. Ya, kali ini aku yakin dengan pasti. Skripsilah yang mempertemukan dia dengan sang-raja-di-raja Tong Fang. Siapa lagi kalau bukan Tansen. Kelihaiannya mengolah obat, memilih satu demi satu bahan, meracik satu ramuan dengan ramuan yang lain, hingga alur Matriks Na-Montmorillonit pun dia sangat paham. Disolusi teofilin? Huh? Sudah bukan barang praktek lagi. Levelnya udah tinggi, setingkat S3 mungkin, dan dia mendapatkan itu bukan dari bangku kuliah, tapi karena kerja kerasnya, ajiiiiiiiiib mungkin kata orang Arab jika mendengar kisah si Tansen.

“Guru . .”, Ia bertanya.

“Ono opo to nduk?”, Tansen menjawab. (*sayapun baru tahu, ternyata Tansen bisa bahasa Jawa, –arti: Ada apa to nak? Light bulb)

“Aku galau. Gimana ini skripsiku. Penelitian tak kunjung usai, data tak kunjung terisi, yang ada semua memuai perlahan-lahan. Semangatku tidak sekuat dulu ketika aku baru saja mengambil itu di semester mudaku?”, nada memelasnya pun kini terurai.

“Hehehehe. . “, Tansen tersenyum kecil.

“Udah, jangan sedih seperti itu. Inget ya. Skripsi itu masterpiece. Punya makna tersendiri yang berbeda masing-masing orang. Jalannya pun gak seindah yang dibayangkan, tapi tiap langkahnya punya cerita yang bisa jadi bahan buat nulis buku best seller mungkin. Beruntung lo, orang yang lagi ngerjain skripsi, apapun dapat jadi ibadah. Ketemu dosen di tolak, sabarrrrrrrr, jadi ibadah. Nyari data kesana, kemari, abis duit banyak, niatin buat sedekah, jadilah ibadah. Pusing, stress ke kampus banyakin senyum sambil tengok kanan, kiri, atas, bawah, jadi ibadah. Sampe ngurus printer buat ngeprint pun bisa jadi ibadah. *eh. Yang penting yakin bahwa kamu bisa melewati ini. Semua pilar kehidupan dibangun atas keyakinan. Banyak sesuatu yang mustahil datang, tapi hadir karena mereka yakin. Dan jangan cuma yakin, tapi ada usaha yang menjadi pasak untuk menjaga agar keyakinan itu tidak beranjak kesana kemari. Banyak orang sukses karena mereka yakin. Percaya gak? Adam Khoo, seorang anak kecil bodoh yang kini jadi pengusaha suksespun menerapkan ilmu ini untuk sukses, begitu juga dengan orang-orang sukses yang lain, Mark Zuckerberg, Oprah Winfrey, Steve Jobs pun berjalan dengan faktor yakin yang gak cuma yakin, tapi yakin yang gila, gila tapi terarah. Cobalah terapkan ilmu itu dulu, Tong Fang juga dibangun atas dasar keyakinan, gak mungkin Klinik ini jadi besar ketika banyak cercaan disimpan jadi tabungan yang selalu ber-bunga. Milikilah satu hati yang tak kenal lelah nduk, milikilah satu hati yang tak surut menerjang ombak, karena itu jadi ilmu kamu yang tak kamu dapatkan di bangku sekolah”, pesan (panjang lebar) Tansen kepada mawar.

“Iya guru”, ucapan mawar pertanda mengiyakan Tansen.

“Udah sana, belajar. Saya mau buka toko dulu. Udah siang!!”, sahut Tansen sembari memegang kunci klinik yang dari tadi ia pegang. [klinikkkkkkk apa pembaca? KLINIK TONG FANG Thumbs up]

***


Semoga bermanfaat menikmati permainan fiksi ini, nama dan tempat bukan suatu kesengajaan yang tidak terlalu disengaja. Semoga bisa mengambil hikmah dari klinik Tong Fang dalam trilogi dunia gaib yang sedang merekah di seantero blog + menambah semangat saya buat ngerjain skripsi. Smile

Bandung, 8 Agustus 2012 – selepas, pusing ngoding –

61 thoughts on “Trilogi Dunia Gaib

      • Teguh Puja says:

        Tulisan parodi fiksi kayak gini bagus lho Mas.😀

        Betewe, masih belum liat mas Yoga nulis duet. :p udah ada yang siap dipinang olehmu mas?

      • Triyoga Adi Perdana says:

        Saya gak tahu malahan mas, ini namanya parodi fiksi. Padahal konsepannya cuma memuntahkan apa yang ada di pikiran aja.😀

        Iya nih mas. Lagi buat aplikasi kantor yang belajar dari awal, interest nulis masih belum gak jelas. hehehe

        Kalo masalah meminang, insya Allah udah ada, tinggal lanjutkan aja nih.😀

      • Teguh Puja says:

        Seneng lho mas. Banyak yang kreatif ternyata. Hihi. Follow orang2 yang keren dan mau terus berbagi kayak mas ini beneran ngejaga pikiran tetep waras. Soalnya diingatkan terus.😀
        😛

        Siapa yang dipinangnya mas?😛

      • Triyoga Adi Perdana says:

        hehehe. .
        Saya tu asal nulis aja mas. Gak tahu dah itu termasuk apa.
        Wah wah, sampe kewarasan juga ngaruhnya mas?😀

        Wah, tunggu aja tanggal mainnya mas.
        Semoga bisa sampe goal deh.😀
        Tapi sementara udah saya khitbah. Hehehehe #plak

  1. violetcactus says:

    wua..ketemu klinik tong fang lagi, rupanya lagi di puncak jaya ini..
    saya suka ceritanya, boleh request sequelnya mas?
    *trbayang gimana hebatnya petuah2na tansen di lapangan*
    moga sukses ya, dan segera putus hubungan dengan skripsi😀

  2. Ely Meyer says:

    terus terang sebelumnya aku nggak ngeh yg namanya klinik tongfang itu apa, ternyata iklan heboh itu di sana ya, pantas ada yg komentar di blogku nyinggung soal hal ini

    kreatif juga ya kamu bikin fiksi spt di atas, moga sukses skripsinya

Please, give me advice for my articles!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s