Teknologi sebagai “Pelayan” Masyarakat


Kebutuhan teknologi sebagai salah satu pengembang hadirnya era baru saat ini diyakini menjadi tren tersendiri yang bisa menghadirkan daya tarik lebih, apalagi dibarengi dengan berbagai layanan yang memang hadir bersamanya. Salah satu konteks yang memang paling anyar dilihat, adalah bagaimana dengan adanya teknologi jarak bukan lagi menjadi satu halangan bagi sesorang untuk terhubung. Pernah ingat dibenak saya, ketika telepon menjadi satu kebutuhan tertier, yang kala itu menjadi satu kebutuhan yang hanya bisa dinikmati oleh orang-orang mampu saja.

Kehadiran internet di Indonesia, ditambah dengan hadirnya dunia telepon seluler diyakini banyak sekali kemajuan, baik dari segi ekonomi, kebudayaan, hiburan dan segala macam bidang yang menaungi hal-hal tersebut. Hal ini juga dapat menjadi salah satu pesan yang dibawa akan baiknya teknologi. Bagi negara-negara Asia yang semakin disegani oleh dunia barat seperti Jepang, Cina, Korea, India, teknologi benar-benar sangat membantu dalam semua lini kehidupan.

Jika kita lakukan pengkajian terhadap era saat ini, keberadaan Indonesia dalam era informasi dianggap sebagai satu kemajuan tersendiri, apalagi jika dikaitkan Indonesia yang masih berada di negara berkembang. Saya akan sedikit mengulik bagaimana teknologi saat ini bisa sangat membantu negara berkembang untuk dapat bersaing dengan negara maju.

Di bidang ekonomi, penguatan ekonomi yang ada di Indonesia seharusnya sangat bisa dibangun atas dasar pemberdayaan UMKM/Usaha Mikro Kecil Menengah yang baik oleh pemerintah. Disatu sisi, pengentasan kemiskinan yang ada pada masyarakat juga harus segera dientaskan. Pernah saya baca dalam Strategi Peduli Kemiskinan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional1, menyebutkan bahwa ada 11 bidang yang kiranya berfungsi sebagai leading sektor untuk mengatasi kemiskinan yang ada di Indonesia. 11 bidang tersebut secara urut adalah sebagai berikut

Memberdayakan Masyarakat yang Kurang Beruntung dan Terpinggirkan
Mendorong Usaha Mikro
Meningkatkan Layanan Informasi Kesehatan Jarak Jauh
Memperbaiki Pendidikan Melalui e-Learning dan Pembelajaran Seumur Hidup
Mengembangkan Perdagangan Melalui e-commerce
Mengembangkan Ketataprajaan yang lebih Efisien dan Transparan Melalui e-governance
Mengembangkan Kemampuan
Memperkaya Kebudayaan
Menunjang Pertanian
Menciptakan Lapangan Kerja
Mendorong Mobilisasi Sosial

Jika kita lihat poin-poin di atas maka kita akan mendapatkan beberapa poin yang memang lebih cenderung pengentasan kemiskinan justru dengan penerapan teknologi, pun bagaimana pembangunan teknologi di atas hanya berkutat dengan dua bagian saja, yaitu perekonomian dan pendidikan. Pembangunan dua pilar pengentasan kemiskinan diatas, selanjutnya dikembangkan dalam arah teknologi yang dikembangkan di dalamnya.

Sedikit kita ulas tentang penerapan diatas. Mungkin kita sudah sering mendengar tentang perkembangan Cloud Computing yang akan digunakan di dalam UKM/UMKM. Hal ini selaras, karena salah satu kekurangan UMKM adalah bagian distribusi, serta manajemen yang buruk. Cloud Computing dikembangkan guna menutupi kekurangan diatas. Penerapan Cloud Computing terhadap UMKM juga tak dapat dianggap enteng, hal ini dikarenakan saat ini pelaku UMKM masih tergolong masyarakat yang masih kurang mengerti teknologi. Hal inilah yang seharusnya segera dipikir, mengingat pengenalan teknologi kepada masyarakat awam membutuhkan waktu yang tidak singkat.

Gambaran diatas setidaknya menjadi sebuah gambaran kepada kita, bahwa pengentasan kemiskinan dengan teknologi masih butuh banyak PR yang harus segera dicari solusi bersama. Keberadaan para penggiat teknologi yang ada sekarang dapat menjadi satu pelapis kekurangan-kekurangan yang ada. Bukanlah suatu hal yang sulit jika dikerjakan bersama, apalagi teknologi informasi telah terbukti ampuh mengentaskan kemiskinan di Peru, Cina, Kepulauan Solomon, Zimbabwe, dan India1

Di bidang pendidikan, Indonesia belum terlalu terbiasa memanfaatkan teknologi yang ada. Penerapan teknologi seperti penggunaan power point, flash di dalam presentasi masih alot dirasa. Apalagi dukungan guru yang tidak sepenuhnya mampu menjadi satu hal yang cukup sulit. Meskipun tidak semua seperti ini, namun diberbagai sekolah non kota, hal ini masih sering terjadi. Edukasi guru tentang teknologi juga sangat kurang. Padahal guru sebagai katalisator ilmu kepada siswa harus bisa mengikuti perkembangan siswanya apalagi jika dikaitkan dengan teknologi. Penerapan flash, power point ini bukan semata-mata gaul atau apapun. Tapi dengan kondisi siswa yang sudah melek sekarang, dirasa dengan pengajaran yang konvensional siswa lebih cenderung merasa jenuh. Oleh karena itu banyak yang memasukkan teknologi baru yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan semangat belajar peserta didik itu sendiri. Ini sedikit contoh yang bisa diambil saat teknologi yang ada memberikan kemudahan dan pemahaman yang beda dari cara konvensional, yang mana siswa hanya mendengar dan menulis apa yang guru katakan. Dengan adanya teknologi siswa dapat aktif dan bisa berinteraksi antara guru, media teknologi pembelajaran dan siswa itu sendiri.

Di bidang akuntansi/laporan keuanganpun sekarang dipermudah dengan hadirnya berbagai macam aplikasi seperti accurate, sap dll. Di statistika ada juga aplikasi seperti SPSS. Kita sudah sama-sama memahami bahwa kemudahan secara software sangat berbeda dengan manual. Hal ini sangat membantu apabila data yang ada sangatlah banyak. Mungkin untuk ukuran kecil-kecilan perhitungan manual masih bisa membantu, tapi dengan data seperti perusahaan, maka perhitungan manual sangatlah membuang-buang waktu. Disamping itu keterbatasan manusia sebagai makhluk yang mempunyai kebosanan tidak menutup bahwa kesalahan bisa saja terjadi bahkan mungkin.

Saya sangat bersyukur ada satu komunitas yang sangat concern menggarap dukungan IT terhadap seluruh lapisan masyarakat. Jika kita menginginkan penyebaran teknologi yang sangat meluas, apalagi tersebar bagi seluruh lapisan masyarakat di Indonesia, kita harus menggarapnya dari bagian-bagian yang kecil dan kemudian dari yang kecil itu menjadi satu trendsetter untuk yang lebih besar. Masih ingat mungkin bagaimana pemerintah memekikkan “Wajib Belajar 9 Tahun” (WB9T). Nyatanya sampai hari inipun masih banyak masyarakat tidak mengerti makna WB9T ini. Kurangnya penanganan sosialisasi serta kontinuitas masing-masing daerah ditambah terbatasnya media yang menggaungkan WB9T itu sendiri, menjadikan program ini masih kurang menyebar di pelosok-pelosok negeri. Ini sekaligus menjadi PR bahwa sebenarnya pemerintah tidak menggunakan media dan komunitas yang ada untuk melakukan pemahaman kepada masyarakat. Kita sebagai kaum muda seharusnya bisa lebih peka terhadap masalah seperti ini. Apalagi dengan adanya komunitas positif blogger, berita yang ada pasti akan lebih mudah untuk disebarkan. Kontinuitas juga pasti akan terjaga karena komunitas pasti lebih dekat dengan daerahnya. Keberagaman dari seluruh bidang juga pasti banyak, ada yang dari ekonomi, akutansi, teknik, pendidikan dan lain sebagainya. Ini menjadi satu wadah yang bisa memberikan kontribusinya masing-masing, yang mana masing-masing bidang berkolaborasi dengan bidang lain khususnya untuk pengenalan teknologi untuk masyarakat.

Pernah saya melihat tayangan tentang Geng Motor Imut (GMI) yang pernah dimuat di acara di salah satu stasiun TV swasta. Meskipun masih sebagai status geng, tapi kontribusi bagi daerahnya (Kupang, NTT) benar-benar sangat luar biasa. Mereka membuat Desalinator (pengubah air laut menjadi air tawar), bio gas (membuat bahan bakar dari limbah ternak), serta sosialisasi-sosialisasi untuk masyarakat. Sosialisasi yang mereka buat yaitu seperti pemanfaatan limbah ternak menjadi biogas, menjadi dukun ternak, obat tradisional untuk ternak, praktek pembuatan briket arang untuk kompof biomassa, bokashi semak bunga putih dan blok suplemen pakan gula lontar2.

Kita tidak usah membicarakan teknologi yang terlampau muluk. Tapi dari apa yang mereka buat, itu sudah sangat merepresentasikan teknologi tepat guna yang ada. Bagaimana teknologi yang dibuat sangat mendukung dengan kekurangan yang ada di daerahnya sendiri. Kupang merupakan daerah yang sangat kekurangan air tawar, keberadaan desalinator menjadi sebuah alat yang luar biasa dibutuhkan di daerah tersebut. Pembuatan bio gas merupakan salah satu jawaban karena disana BBM sangatlah langka bahkan tidak jarang stok BBM sangat sulit di pasok oleh pemerintah. Ini adalah salah satu contoh bagaimana penerapan teknologi bisa membantu masyarakat dan sesuai dengan kondisinya yang ada. Salah satu anggota dari GMI pernah berkata seperti ini

“Banyak orang senang kalau punya gelar magister, doktor bahkan profesor kata lainnya ‘ilmuwan’ tetapi ilmunya tidak dapat diaplikasikan oleh masyarakat, berarti ilmuwan itu telah gagal. Lebih gagal lagi kalau tidak sempat ia bagikan ke masyarakat luas tentang buah pikirannya itu dan hanya ajal yang menerima ilmunya.”

Mungkin hal-hal yang telah dipaparkan diatas dapat menjadi satu contoh bagaimana teknologi menjadi salah satu alternatif pilihan yang sangat membantu masyarakat. Bisa saya katakan pengaruhnya untuk semua bidang kehidupan. Seharusnya, sekarang adalah saatnya bagaimana kita sebagai kaum muda yang sudah melek teknologi peka terhadap lingkungan masyarakat sekitar. Saya yakin bahwa geliat kaum muda yang sudah terbiasa dengan teknologi mempunyai satu kesempatan untuk memajukan masing-masing daerah. Saya juga percaya bahwa tiap daerah mempunyai permasalahan tersendiri yang tidak akan bisa disamakan antara daerah yang satu dengan yang lain. Sebagai contoh daerah rawan longsor, bisa saja dibuat satu alat yang digunakan untuk deteksi dini longsor, daerah rawan banjir, bisa dibuat satu solusi pengairan dan penampungan air hujan yang berlimpah dan masih banyak lagi. Kepekaan kaum muda sekarang setidaknya menjadi satu inisiatif mengingat pemerintah baik pusat maupun daerah terkadang (atau mungkin realita mengatakan “sering”) tidak melihat ke bawah secara langsung dan mendalam. Selain melakukan penjelasan dan penggunaan teknologi yang ada, penggunaan teknologipun seringkali menuai kecaman akibat dari penyelewengan penggunaannya. Sebagai pengguna teknologi yang sehat, dukungan terhadap lingkungan dan pendidikan dini dari orang tua pasti akan menumbuhkan satu tameng/filter tersendiri bagi masing-masing individu pengguna teknologi. Oleh karenanya, dukungan dari semua pihak sangat dibutuhkan untuk mewujudkannya.

Mari teman-teman, sudah saatnya kita berpikir kritis, mendalam dan kemudian bergerak. Indonesia menunggu goresan tinta karya kita.

Umur kita ada batasnya, yang terpenting adalah bagaimana dengan rentang umur yang diberikan kepada kita, kita mempunyai karya yang luar biasa bagi semua.

Selamat berkarya!! Smile

Artikel terkait yang pernah saya buat: Tangisan Kota Kelahiran3 (semoga bisa menginspirasi).

Notes:

1. Untuk lebih jelasnya, silahkan merujuk pada dokumen Strategi Peduli Kemiskinan BPPN berikut: http://www.scribd.com/doc/49579735/propoorindoagung-20081123003821-956-0 (diakses pada tanggal 18 Juli 2012)

2. Untuk informasi silahkan buka tautan berikut [http://www.ceritamu.com/Ceritamu/Kiriman/Geng-Motor-iMuT]

3. Dapat dilihat disini [http://wp.me/pYt5N-i7]

Artikel ini dilombakan dalam event Ngawur writing contest (Ngawur sebagai salah satu komunitas Ngeblog Jawa Timur, Komunitas Ngawur) dengan tema “Pemanfaatan Teknologi Digital untuk Indonesia”.  Lomba ini didukung juga oleh Pusat Teknologi dan Blogger Indonesia.

Jangan lupa di like dulu:

Like This!

19 thoughts on “Teknologi sebagai “Pelayan” Masyarakat

Please, give me advice for my articles!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s