Filosofi “Wani Piro” dalam Kasus Gratifikasi Seks


Gilaaa!!

Perjalanan pulang Bandung-Pemalang kemarin hampir memakan waktu 10 jam lewat jalur selatan. Kalo dilihat itenary-nya, perjalanan pulang kemarin sampai Purwokerto saja sudah 247 km, belum menembus Pemalang. Badan, jiwa dan raga yang sudah semakin “menua” ini, hampir rontok di tengah jalan. Perjalanan dari Bandung-Rancaekek-Malangbong-Ciamis-Banjar lumayan berjalan mulus, jalan-jalan pun lumayan bagus, tapi lah kok setelah masuk perbatasan Jawa Tengah-Jawa Barat jalan yang tadinya alus mulus ‘kayak rajin facial sama luluran’ malah berubah drastis. Sangat disayangkan, ini lah kok jalan masih saja gak jelas. Padahal Pemprov Jawa Tengah mencanangkan Visit Jateng 2013. Memang kata bebasan “Jer Basuki Mawa Beya” itu sangat pas kalo dijadikan pondasi cerita ini, penegasan semua hal itu selalu butuh “modal” memang kudu, tapi jelas infrastruktur jalan juga harus diperhatikan, jangan hanya sekedar ngaruh-ngaruhi objek wisata saja tetapi akses menuju objek wisata malah dilupakan toh?

Tapi kali ini yang jadi topik hangat di pikiran selama perjalanan itu bukan masalah jalan, bukan pula masalah jiwa dan raga yang hampir rontok, tapi masalah Gratifikasi Seks (GS) para pemimpin negeri. Masalah gratifikasi seks ini baru pernah saya denger gara-gara Ahmad Fathonah yang ditangkap bebarengan dengan Rani (sebut saja bunga melati mewangi sepanjang hari/BMMSH). Itu loh, yang kemarin sempet jadi berita penyisip pas ada berita #siBiru yang kebakaran jenggot gara-gara hasil survey-nya mbak Grace Natalie. 

Continue reading “Filosofi “Wani Piro” dalam Kasus Gratifikasi Seks”

%d bloggers like this: