Menikmati Senja di Bukit Joko Tuwo



Ini adalah artikel berseri dari trip saya (dan istri) ke Karimun Jawa. Perjalanan kami di Karimun Jawa tidak begitu banyak, hanya beberapa spot di Karimun Jawa baik darat maupun laut yang berhasil kami kunjungi.

  • [#1] [Yuk! Island Hopping ke Karimun Jawa] = berisikan informasi persiapan perjalanan ke Karimun jawa. Pemilihan waktu, jenis transportasi, informasi sewa motor, serta estimasi budgeting untuk transportasi menuju ke Karimun Jawa. Wajib dibaca untuk temen-temen yang pertama kalinya ke Karimun Jawa

Hari pertama sampai di Karimun Jawa gak banyak yang dilakukan karena begitu sampai di penginapan malah tepar. #kekekeke. Akhirnya cuma bisa main ke Bukit Joko Tuwo. Satu-satunya alasan kenapa kami pilih Bukit Joko Tuwo karena letaknya paling dekat dengan penginapan. Mungkin sekitar 1-2 km dari alun-alun ke arah utara ya. Plus sudah jam 5 sore. Jadi berangkatlah kami  ke Bukit Joko Tuwo. Tiket masuknya sendiri 10ribu. Dan perlu agak sedikit naik tangga dari tempat parkir motor. 

Saya jelaskan dulu ya history penting dari tempat ini.

  1. Nama Joko Tuwo ini tidak lepas dari keberadaan kerangka tulang ikan (paus) yang berada di salah satu bagian dari Bukit Joko Tuwo. Panjangnya sekitar 3m dengan kondisi yang sudah sangat tua dan banyak bagiannya di topang oleh kayu karena sudah lumayan rapuh (serapuh hatiku). Cerita mengenai kerangka tulang ikan paus ini ada yang bilang seperti ini. Dulu ada ikan paus raksasa jantan (joko tuwo -artinya hampir sama seperti perjaka tua/orang yang belum menikah tetapi sudah berumur-) yang menunggu kekasihnya di pantai Karimun Jawa. Nah setelah lama menunggu, datanglah ikan paus betina yang menghampiri. Dua sejoli ini hidup rukun-adem-ayem-tentrem-sentosa-suka menolong-rajin menabung hingga mati di perairan ini. Setelah mati, kemudian tulang belulang disimpan oleh warga Karimun Jawa.  Yang jantan yang ada di Bukit Joko Tuwo, sedangkan yang betina disimpan di Museum Kartini, Jepara
  2. Selain terdapat kerangka tulang ikan, di Bukit Joko Tuwo terdapat Tasbih Raksasa. Menurut info yang kami peroleh, tasbih ini beratnya 1 ton dibawa dari Bukit Donorojo (Jepara) yang katanya sih sebagai pertapaan Ratu Kalinyamat

Selain dua hal diatas, buat saya pribadi Bukit Joko Tuwo adalah salah satu tempat paling “mbois” untuk menikmati sunset. Jika dibandingkan dengan Bukit Love, saat ini saya lebih memilih Bukit Joko Tuwo untuk sunset. Meskipun jika dilihat sih, sebenernya Karimun Jawa ini adalah salah satu tempat yang punya banyak lokasi menikmati sunset, baik darat maupun laut. 

Ini hasil spot hunting disana. 


Random thing

Sebelum ke Bukit Joko Tuwo saya sempatkan makan siang di dekat alun-alun pinggir dermaga Karimun Jawa. Sekali makan (tergantung lauk ya) mungkin estimasinya 10ribu-30ribu. Nah, yang paling asyik, warung makan ini pas banget ngadep laut. Jadi disamping makan-makan nyempetin juga jeprat-jepret sekitar warung makan.


Tips-tips

  1. Jangan salah waktu ya, Bukit Joko Tuwo itu bagus buat sunset jadi golden moment untuk naik dan menikmati kesana adalah sore hari
  2. Tidak terlalu banyak peneduh di lokasi. Siang hari kemungkinan akan panas kecuali kalo pas hujan. Dingin-dingin empuk. #pffffttt
  3. Saya sebenernya pengen hunting view malam dari sini. Tapi, kok gelap-gelap ngeri gimana. #heuheuheu
  4. Dari atas Bukit Joko Tuwo, bisa lihat view laut dan rumah-rumah masyarakat Karimun Jawa. Jangan lupa bawa bekal, biar agak menikmati sepoi-sepoi angin dan suara deburan ombak dari kejauhan. Apalagi kalo ditambah bawa gitar terus main lagunya Ratih Purwasih “Kau Tercipta Bukan Untukku”. #joooooooos
  5. Paling terakhir, jangan lupa untuk bawa pasangan masing-masing. Karena senja tak pernah bisa berbicara banyak jika hanya sendiri menikmatinya (@kutudjangkrik). 

Salam jepret! Mari selamatkan generasi bangsa dari bahaya kurang piknik dan jarang di foto.
Jakarta, 2 Februari 2017

Advertisements

10 thoughts on “Menikmati Senja di Bukit Joko Tuwo

  1. ina wahyu says:

    jika ingin jalan-jalan ke sana, enaknya menggunakan paket perjalanan atau jalan sendiri ya?
    kalau jalan sendiri, bagaimana dengan transportasinya ya, mudahkah?
    terima kasih

    • Triyoga AP says:

      Nah kalo ini, sekali lagi tergantung mba. Sendiri atau rombongan. Kalo sendiri dan mau simple, enakan pake paketan dan kebanyakan sih emang explorenya island hopping ya, daratnya kurang. (bisa bagus lagi kalo di mix. Paketan terus extend). Kalo mau santai, ngegembel aja tanpa pake paketan. Bisa jelajah darat dan laut. Tapi kekurangannya, kadang explore laut gak semua ada jadwal. Kalo misal rombongan saya sarankan gak usah pake paketan aja. Lebih flexible karena bisa sewa perahu sendiri. 🙂

      *Nanti ku jelasin di 1 postingan sendiri ya. 🙂

  2. SITI FATIMAH AHMAD says:

    Assalaamu’alaikum wr.wb, Triyoga…

    Membaca sejarah Joko Tuwo itu sangat mengesankan. Begitu cintanya sejati untuk menemui sang kekasih hati semasa hidupnya sudah tertunai. tetapi kenapa setelah mereka mati, jasadnya terpisah jauh. Kalau keduanya masih hidup pasti sedih dan merintih. Ketikan fotonya keren dan menarik sekali.

    Salam sejahtera dari Sarikei, Sarawak.

    • Triyoga AP says:

      Waalykmussalam Wr Wb. Betul bu, mungkin dalam benak saya karena untuk menjaga kelestarian sejarah dan agar tidak rusak tulang rangkanya. Sedangkan yang ditinggalkan di pulau, agar menjadi salah satu daya tarik wisata karena nilai sejarahnya. CMIIW 🙂

      Terima kasih pujiannya, semoga selalu bisa menghasilkan karya yang terbaik. 🙂

      Salah sejahtera dari Jakarta, Indonesia.

Yuks!! Ngobrol di mari.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s