Sila Pertama: “Keuangan” Yang Maha Esa


Kemarin coba motoran dari Margonda ke Cikini jam 10 malam, ternyata cepat juga ya. 40 menitan lah, udah kepotong sama lampu merah pancoran yang lama banget, plus kecepatan motor yang udah mentok gak mau di geber lagi. (heuheuheu) Belum termasuk bawaan yang lumayan hits banget.

Jakarta malam hari itu enaknya minta ampun. Asal gak ada begal sama preman yang berhentiin motor loh🙂. Seminggu yang lalu, dengan rute Cikini-Margonda berangkat habis maghrib waktu tempuh 2 jam. Waktu yang sama naik pesawat Jakarta-Medan atau Jakarta-Yogyakarta (PP) atau waktu yang sama buat pertandingan bola sudah plus perpanjangan waktu dan waktu istirahat. Mungkin udah termasuk waktu buat foto-foto juga sama fans-fans kali. Atau malah itu ukuran waktu yang lumayan panjang buat nge-po-in diskon-diskon di Zalora, atau bahkan ngeliatin instanya @raisa6690 sama yang lagi terkenal @kutudjangkrik dari post terbaru sampai post paling buncit.:mrgreen:

Sejenak berpikir, merapihkan segelas kopi di sebelah kanan keyboard, kemudian melanjutkan menulis.

Jika dipikir, permasalahan yang selalu hangat-hangat tai ayam hingga saat ini ya paling cuma ada dua untuk transportasi darat menurut saya, kalo misal gak macet karena kendaraan kebanyakan atau ya paling jalanan rusak sehingga harus goyang-goyang mobilnya kalo misal dilihat dari belakang. Tapi bukan goyang ngebor lo ya, karena kalau ngebor nanti malah jalanan tambah lubang-lubang. Kenapa kok sekalian Goyang ngecor? atau Goyang bebek? atau malah Goyang itik? -Ah, sudah-sudah, jangan banyak protes!!-

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Peribahasa itu memang gak ada kaitannya dengan apa yang saya tuliskan. Tapi yang saya ingin katakan adalah toh ternyata gak beda jauh tuh permasalahan laik jalannya di Jakarta bahkan di Pemalang. Atau malah karena masih satu ladang kali ya, ladang Indonesia. Ladang yang kemarin di bakar habis-habisan, sehingga hastag #MelawanAsap sempat jadi trending topic atau bahkan sampai negara tetangga yang sudah kebakaran jenggot karena level PSI (Pollutant Standards Index) yang sudah dikatakan berada di level berbahaya.

Berbicara tentang Pemalang, pertengahan bulan ini saya pulang kampung lewat jalur selatan. Jadi, Pemalang itu berbatasan dengan Kabupaten Purbalingga kalo dari Selatan. Yang unik dari jalur selatan ini adalah jalannya. Sebuah obrolan singkat dengan orang-orang sekitar yang menggelitik (maaf), “bahkan orang yang buta sekalipun, bisa membedakan posisi saat ini sudah ada dimana, masih di Purbalingga atau sudah masuk Pemalang. Pokoke, kalo sudah mak jregul-jregul ya berarti sudah masuk Pemalang. Tapi kalo masih mulus tuh jalan ya berarti masih di Purbalingga.” Miris ya, tapi mau gimana lagi emang kenyataan Pemalang ya seperti itu.

Nah ini mungkin hanya sekedar pemikiran saya saja. Tolong jangan di dramatisir. Kalo bener ya berarti seirama, nek gak salah ya berarti bener. Ceritanya, sekarang jalan udah mulus dari perbatasan. Dan bukan cuma itu, kayaknya memang rata-rata jalan besar juga kena dampaknya, perbaikan jalan bahkan pengecoran jalan di titik-titik yang jadi proyek abadi Kabupaten Pemalang rata-rata sedang diperbaiki. Yang buat terharu adalah “Why now?”. Mengapa baru di tahun yang akan diselenggarakan pemilihan umum? Kemana rencana perbaikan jalan sebelum itu? Atau kita harus tersenyum menikmati jalanan halus setiap 5 tahun sekali? 

Kalo kata Pak Broto pas ditanya gitu sih jawabannya mudah saja, “Mungkin karena sila pertama Pancasila sudah berubah”.

-end 

Jakarta, 30 September 2015

11 thoughts on “Sila Pertama: “Keuangan” Yang Maha Esa

  1. wikfa says:

    Sepertinya kejadian yang sama terjadi di beberapa kota yang lain😀 lucu dan keren juga istilahnya “ASPAL POLITIK” dan masih berharap masih akan ada pemimpin-pemimpin amanah, aamiin

  2. Jejak Parmantos says:

    Kuaitas aspal di Jateng emang parah mas… kalo mas melintasi JLS dari Jatim ke Jogja, pasti akan merasakan begitu menyedihkannya jalanan Jateng dan hal itu sudah bertahun2… entah salahnya dimana.

  3. Nevi Nurdidah says:

    aku pengin comment ga….
    aku ngekek baca artikel mu di akhir-akhir tentang jalanan…
    kmrin aku jg pulang ke pemalang dan kebetulan di jemput bapak, dan aku protes kok jalannya ngaspalnya ga rata di jalan yang kanan kirinya sawah jregul2 tapi daerah dekat perumahan ato BTN alus sedangkan daerah desa jregul2.. (ngatoni omahe nneg ndeso :D)
    dan jawabah perne bapakku adalah.. “ASPAL POLITIK”
    itulah kenapa di daerah perbatasan di seluruh daerah pemalang jegrul2 soale g ada yg bakal nyoblos nnti pas pemilu.. :)) kan penduduknya jarang…
    sampe aspal aja berbau pemilu…
    semoga pemimpin yang nnti terpilih lebih bijak lagi dalam memimpin..🙂

Please, give me advice for my articles!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s