Tombo Ngantuk


Hari ini, -seperti biasa- rutinitas kerja yang mungkin terbilang monoton di kantor. Untung ada dua kotak nasi hasil dari dua rapat. Lumayan, itung-itung ngirit isi dompet keluar demi beli sebongkah berlian dan sekarung gandum untuk ngelamar anak orang. Oh ya, satu lagi. Sama gak ketinggalan ngelamarnya pakai seperangkat alat mendaki gunung, photography dan snorkeling. (*kodegariskeras*). Sok lah kalo misalnya ketiga perangkat tersebut jadi inspirasi pembaca sekalian. :) 

Masih dengan tajuk yang sama. Sebulan yang lalu, pendakian Merbabu terlaksana. Plan “selingkuhan” dari yang rencana ke Pulau Sempu (Malang) akhirnya gagal gara-gara tiket kehabisan. Bulan ini, nyaris belum ada plan ngebolang. Rencana ngecamp di Semak Daun diundur sampai waktu yang tidak ditentukan. Adapun nanti untuk planning mbolang Bulan November sedang di rebus sedemikian rupa itenerary pendakian Gunung Slamet via Bambangan. Semoga bisa diberi kesempatan merasakan dinginnya hatiku, eh dinginnya suasana di 3432 MDPL.

Berbicara naik gunung, saya malah ingat Pak Broto dan Pak Jani. Masih ingat kan, tulisan beberapa waktu lalu tentang dua orang itu? Jadi Pak Broto dan Pak Jani ini dulunya ikutan Pramuka sama Pecinta Alam. Selain gaul di sosmed, beliau ini aktif juga di Ikatan Pemuda Pecinta Alam se Kelurahan. Kalo dilihat sih dua orang ini sense of gear-nya sudah bagus. Tas carrier sama daypack-nya saja sudah pake deuter. Belum kalo misal minum, sudah gak pakai botol mineral lagi. Mereka lebih suka “nyedot” air dari waterblader/streamer yang sudah diselundupin di dalam carrier/daypack mereka. Pokoknya dari ujung kepala sampai ujung kaki, standar safety-nya sudah matang. Makannya gak heran kalo ngebolangnya mereka sudah anti mainstream. Dulu saja, saya lihat di TL mereka sedang ada di Amerika buat trekking di Pacific Crest Trail. Itu lo, lintasan trekking yang panjangnya 4286 km. Kalo diukur, Pemalang-Jakarta bolak balik 10 kali lebih jalan kaki. Mungkin ini yang jadi inspirasi lagunya Peter Pan kali ya. Yang salah satu liriknya, “Kaki di Kepala, Kepala di Kaki”. Dan lucunya, mereka masih sehat wal afiat. Masih sering ngobrol cas cis cus di seminar-seminar pecinta alam. Ya meskipun saya sendiri tahu, kalo mereka berdua gak suka sama “alam”, tapi sukanya sama Raisa.

Pas kemarin ketemu, saya tanya. “Kok Raisa pak?”. Ya mas, kalo pas jaman saya muda itu ibarat para bapak-bapak dulu sambil siskamling liat film suzanna. Dua kata sih buat ngegambarin itu.

“Lah apa pak?” –penasaran

“Tombo ngantuuuuuuk“, sahut Pak Jani sambil nyengir.

*heuheuheuheu*

Tulisan ini iseng-iseng dibuat dalam agenda *One Post in 60 Minutes* bersama Hery Setiawan. Tema oleh Reni Windari.

Jakarta, 15 September 2015

28 thoughts on “Tombo Ngantuk

  1. Kakmoly says:

    Aku baru nyadar kalau belum nge-follow walau sudah menjejak-jejak -_-‘

    Boleh kali kak ikutan nebeng kalau ada rencana naik, hehe
    Tapi saya pendaki pemula, baru hapal jalan ke Papandayan doang ^^v

Please, give me advice for my articles!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s