Suntuk


Sepenggal tulisan lama dari tumpukan sisa-sisa kegiatan menulis satu tahun yang lalu ketika patah tulang.

Pemalang, 12 Maret 2014

Hampir 3 bulan sudah, terkapar lebih banyak di rumah. Menikmati udara lembab musim penghujan. Membuat keluar untuk melihat udara sekitar saja malasnya minta ampun. Hujan setiap hari, apalagi luka balut yang harus dijaga untuk tidak terkena air membuat “lagi-lagi” memilih untuk di rumah. Belum jalan yang agak rusak akibat pengikisan oleh hebatnya tubrukan air yang turun dari langit. Goncangan sedikit saja, tangan yang patah masih belum bisa mentoleransi hal itu. Padahal, sudah hampir 3 bulan.

 

Suntuk? Wajar. Membiasakan diri dengan rutinitas yang sama setiap hari, mau itu orang sekaya apapun, se-sehat apapun, se-keren apapun pasti punya titik jenuh. Titik, dimana setelah rutinitas itu berada diambang batas, kalian ingin sekali lompat 1800 tanpa sekalipun berbalik ataupun hanya menoleh untuk sekedar melihat. Aku ingin seperti itu, tapi nyatanya mustahil. Mau berpikir se-positif apapun, saat suntuk tiba, otak secara tak sadar, membuat sebuah tembok yang tinggi, tebal, kokoh. Bertugas sebagai penghalang semua hal baik yang akan masuk ke otak.

Bekerja dengan satu tangan yang normal susahnya minta ampun. Beradaptasi dengan hal itu, memang agak susah. Apalagi dengan memakai arm-sling untuk menyangga tangan yang patah agar tidak terlalu mempunyai tumpuan beban lengan bawah yang masih bekerja dengan gravitasi bumi. Si arm-sling biru panggilannya, si penyangga lengan atas yang patah. Teman setia bepergian setelah daypack, sendal gunung, dan ruff. Lucunya, saat kalian melihatku dari jauh, arm-sling yang ku maksudkan benar-benar mirip dengan gendongan bayi pengganti jarit di jaman sekarang. Ya, bapak muda pengasuh bayi tapi belum menikah. Eh, bentar. Ku ganti redaksinya. Emm. . “Ya, bapak muda pengasuh bayi, yang sedang mencari tanggal yang tepat untuk menikah”. Tepat!!

Internet. Ya, satu-satunya hal yang paling absurd, tapi paling dikangenin tiap hari. Hape? Ada. Internet yang nemplok di hape juga ada. Tapi cuma EDGE. Mau tethering? Ampuuuun. Mending wow sambil bilang koprol buat ngenet lewat cara yang satu ini. Deritanya orang yang suka ngeblog yang lagi sakit yang tinggal tak jauh dari kaki gunung Slamet ya seperti ini. Nulis di Windows Live Writer, sudah menggunung, tapi gak sempet di post. Dan anehnya, pas mau di post, berasa sudah gak hot lagi. Sudah bukan konsumsi publik. Sama saja bahas Anang cerai dengan KD, padahal sekarang sudah sama-sama punya pasangan hidupnya lagi. Entah. .

Realitas acara TV yang ada sekarang juga menyedihkan. Setelah mengharamkan liat TransTV dari jam 19.30-23.30 gara-gara ada acara stripping yang pemainnya itu-itu saja, eh malah ada gantinya sekarang di Indosiar. Stripping dangdut dari jam 6an sore hingga pukul 10an malam. Dangdutnya gak papa, tapi banyak ngomongnya itu, ampuuuuuun. Akibatnya, acara-acara bermutu yang bisa menambah wawasan tenggelam ke dasar laut, gara-gara orang serumah termasuk dalam jamaah setia sinetron eh acara stripping dangdut di Indosiar setiap harinya. Bukan semakin tahu berita-berita ter-update dari pelosok negeri, tapi malah semakin tahu lirik lagu “Minyak Wangi”-nya Ayu Tong Tong.

Entah, suntuk mulai menjerat perlahan, memperkosaku untuk semakin lama berpikir.

4 thoughts on “Suntuk

  1. titantitin says:

    tadi liat komen di postingan lama, dan jadi klik blog ini.

    ya ampun yoga.. *ko ya ampun –‘😀
    innalillahi, itu tangan kenapa?

    *ahaha.. ini juga pertanyaan gak hot, tapi rapopo drpd ra takon😀
    udh peprgian kemanamana yak.. sekrg😀

Please, give me advice for my articles!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s