Blackbox Sistem Birokrasi


Selamat malam, langit sudah mulai gelap. –saatnya menulis

Buat saya pribadi berada di lingkungan kerjaan yang memang menganut paham “birokrasi-isme” rasanya sungguh luar biasa. Anak teknik yang memang terkadang gak suka yang namanya ribet apalagi banyak aturan eh malah sekali kecemplung ke kolam, kecemplungnya di kolam dengan sistem pengairan yang berjenjang. Hierarchy. Up to down level yang terkadang buat saya pribadi menilai pekerjaan satu jam bisa molor jadi pekerjaan satu hari.

Saya mengibaratkan birokrasi adalah black box. Black box saya ibaratkan “sistem birokrasi”. Karena memang black box, jadi kita sendiri tidak akan tahu di dalam bentuknya seperti apa. Seberapa panjang jalan informasinya, seberapa cepat kecepatan antar medianya, seberapa besar kapasitas penampungan informasi antara satu titik dengan titik yang lain dan yang lebih ngeri lagi tidak ada skema yang paten menjelaskan bagaimana birokrasi itu dibentuk. Sama seperti security sistem yang mempunyai enkripsi dari ribuan pola kriptografi modern saat ini. Banyak sekali. .

Tapi jika ditanya seperti apa bentuk birokrasi dari luar, jawabannya malah lebih simple. Gampang saja, jika diibaratkan dua buah motor yaitu motor A dengan kecepatan 80 km/jam dan B 90 km/jam masuk ke dalam black box, maka motor itu akan keluar dengan kecepatan 20 km/jam dan 30 km/jam. Dan tidak menutup kemungkinan, motor tersebut hanya mempunyai peak kecepatan yang sudah jauh dari kecepatan normal. Itu lah yang saya sebut Blackbox Sistem Birokrasi.

Ilustrasi Black box sebagai Sistem Birokrasi

Ilustrasi Black box sebagai Sistem Birokrasi

Lalu salahnya dimana?

Saya kutip dari wikipedia mengenai birokrasi, bahwa pengertian birokrasi sendiri adalah suatu organisasi yang memiliki rantai komando dengan bentuk piramida, dimana lebih banyak orang berada ditingkat bawah dari pada tingkat atas, biasanya ditemui pada instansi yang sifatnya administratif maupun militer. […]. Organisasi ini pun memiliki aturan dan prosedur ketat sehingga cenderung kurang fleksibel.

Dalam benak saya, bahwa proses rantai komando itulah yang terkadang membuat lama. Pola lama inilah yang membuat orang-orang yang mempunyai –ya anggap saja- kerja cepat menjadi lambat dikarenakan posisi level atas yang terlalu lama atau bahkan jalan ke atas yang terlalu panjang. Birokrasi dalam benak saya melahirkan kebiasaan “tunduk”. Pimpinan memiliki suara dewa. Dan lebih parahnya lagi, konsep inilah yang membentuk pimpinan mempunyai gaya bos. Tunjuk sana-tunjuk sini, heboh sana-heboh sini, yang mumet ya level bawah. Dueer. .

Gak salah, seandainya banyak sekali generasi Y (gen Y) yang berontak karena melihat bahwa sistem bossing ini timbul hanya karena sistem birokrasi membentuk skema itu. Why, atau Gen Why (Karena selalu tanya kenapa-kenapa-kenapa) selalu berpikir kritis. Dalam bahasa yang lebih nancep, buat saya pribadi orang-orang yang berada di dalam generasi itu adalah orang-orang yang tidak hanya mau “meneruskan” sejarah tapi mendobrak sejarah. Pimpinan tidak melulu diagung-agungkan jika tanpa sebab. Ingat!! Tanpa sebab ya. Karena sekali lagi, –dalam kumpulan mereka– melihat pimpinan itu lebih melek, mereka “mungkin dalam tanda kutip” tidak akan segan jika pimpinan tidak bisa memberikan sosok figuritas yang pas untuk dicontoh.

Lalu, adalagi yang menyebutkan bahwa birokrasi mematikan potensi. Karena birokrasi memang selalu susah hukumnya jika ingin melakukan eksperimen. Apalagi jika ujung-ujungnya karena urusan PP lah, peraturan ini lah dan itu lah. Akibatnya ya stack, kita dikurung di dalam kotak yang kita sendiri gak bisa keluar. Yang kita bisa hanya “melihat” keluar. Tapi ya melihat saja, gak bisa kemana-mana. Kemudian menua –lalu kreatifitas terhenti– emm bukan, kreatifitas “mati”. Ibarat seperti seekor singa yang lapar, kemudian di bunuh otaknya untuk menjadi puppy yang penurut. Yang tidak penurut, disingkirkan jauh-jauh. Dibungkam dengan mulut tertutup.

Dalam skala nasional, gaung reformasi birokrasi pun pasti sudah tak asing dalam benak kita. Perubahan besar-besaran guna meningkatkan good goverment dilakukan guna mendapatkan kembali kepercayaan publik yang mungkin sudah menipis. Coba saja, (correct me if i’m wrong), lebih percaya mana pelayanan RS pemerintah atau swasta? Lebih enakan mana asuransi non plat merah dibanding dengan asuransi plat merah? Gampang atau gak ngurus surat-surat yang berhubungan dengan pemerintah? Mau desa, kecamatan, kabupaten, dll pun saya rasa sama. Kementerian Keuangan sendiri dalam reformasi birokrasi merumuskan tiga pilar yang digunakan sebagai dasar perubahan untuk menuju good goverment. Tiga pilar itu adalah aspek kelembagaan (organisasi), ketatalaksanaan (proses bisnis), dan sumber daya manusia (SDM). Dalam bahasa yang sederhana, tiga pilar tersebut meliputi perampingan organisasi, penyederhanaan layanan dan peningkatan kualitas SDM.

Yang paling menarik tentunya adalah peningkatan kualitas SDM. Saya tidak mengesampingkan dua hal sebelumnya, tapi jika dilihat PR terbesar dari reformasi birokrasi tidak lain adalah SDMnya. Merubah kebiasaan tidak seperti simsalabim abra kadabra. Atau seperti aladin yang tinggal gosok, sebut permintaan terus terwujud. Bahkan tidak mungkin juga seperti Dragon Ball yang tinggal ngumpulin bola terus naga muncul mengabulkan permintaan-permintaan anehnya. Change management, tentu jadi permasalahan yang tidak pernah ada habisnya. Contoh kecil saja, masalah IT-nisasi atau mungkin online-nisasi guna menuju green office. Meminimalisasi penggunaan kertas, mengefisiensikan disposisi, terbiasa login dan melihat aplikasi, terbiasa report online, terbiasa dengan membaca laporan dalam bentuk softcopy saja susahnya minta ampun. Malah lebih ekstrimnya saya berpikir, apakah ketika change management sudah tidak bisa dicapai sejalankah dengan pernyataan yang agak menggelitik bahwa change management itu ujung-ujungnya adalah peremajaan karyawan? Peremajaan pimpinan? Peremajaan struktur? Peremajaan proses? Atau peremajaan apalagi?

Tapi dari itu semua, –entah benar atau tidak– satu yang saya pelajari bahwa ternyata birokrasi tidak melulu kesalahan sistem. Di mata teman saya -yang kemudian saya amini- bahwa permasalahan birokrasi bukan karena masalah sistem, tapi karena orangnya. Seperti itu?

Emm. . Bisa jadi. .

Bersambung. . . [..] | Jakarta, 26 Juni 2015

17 thoughts on “Blackbox Sistem Birokrasi

  1. Citra Taslim says:

    Saya juga lebih setuju karena orangnya.
    Tiap kali berurusan dengan birokrasi khususnya lembaga pemerintah, saya sepaham ada downgrade yang besar. Bad to say but true, satu-satunya hal yang bisa menjadi katalis adalah ‘uang’.
    Ada kalanya memang sistem rantai komando yang berbelit yang membuat proses nya menjadi terlalu lama, tapi ada juga yang memang sengaja memperlama agar katalis penyemangat kerja (red:uang) dikeluarkan oleh pihak yang membutuhkan jasa yang bersangkutan.

Please, give me advice for my articles!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s