Broto-Jani, Simbol “Gaul” Orang-orang Kampung


Kayaknya lucu juga ya, sekarang dunia ini sudah berisi wayang-wayang orang jaman sekarang. Mungkin kalau dilihat, gegara sinetron Mahabaratha dan Jodha Akbar yang sekarang sedang naik pamor di kalangan masyarakat desa, saya akhirnya lebih suka dengan kata wayang-wayang ketimbang orang-orang. Gak tahu juga, biar beda saya coba katakan seperti itu saja kali ya. hehehehe. . –Tapi anu, bukan berarti saya sering liat dua film itu lho ya

Gini. Saya itu agak heran, coba kalian pikir. Kalo sinetronnya, “mbak Dewi Sandra” yang CHSI itu sudah hilang, plus “acara terong-terongan” sudah khatam dari peredarannya, saya yakin mayoritas masyarakat desa pada liat berita-berita yang sekarang sedang banyak dipergunjingkan diantara orang-orang sekitar. Pak RT, Bu RT, imam mushola, tukang bakso, sampe tukang kebun pasti gak bakal bicarain masalah Syahrini, atau bahkan Marshanda yang kini sudah “berbeda”. Apalagi ibu-ibu arisan, yang notabene jadi ajang silaturahmi tapi berkedok gosip itu. Heuheuheu. . Coba bayangkan, seandainya sudah khatam itu acara-acara sinetron gandul-gandulan eh terong-terongan, sekarang pasti mereka bakal lebih “gokil” ngegosipnya. Sudah berani ngomongin pemerintah, partai bahkan kasus PSSI. Lagipula, saya yakin ibu-ibu sudah “move on” gara-gara masalah Dude Herlino yang nikah kemarin lalu dan bahkan bapak-bapak yang juga sudah “move on” gara-gara Briptu Eka menikah beberapa waktu lalu. Heuheuheu. .

Di gardu siskamling ini yang paling beda. Kalo cemilan, udah kayak rengginang. Kemriyik, Gurih.

Ada Pak Broto, sama Pak Jani yang sudah 20 tahun mengabdikan diri jadi hansip komplek. Uniknya, saya lihat mereka tiap hari gak pernah tuh, nonton acara selain berita, berita dan berita. Saya gak heran, kalo tiap hari banyak yang “nge-retweet” sama “repath” omongannya Pak Broto sama Pak Jani di medsos. Dari orang sekampung, dua orang inilah yang paling banyak followernya. Sambil ngeronda, biasanya di tangan mereka sudah ada smartphone yang buat jeprat-jepret atau nulis berita-berita update. Dulu saya pernah dengar mereka diajukan untuk jadi balon camat dan wakilnya, tapi anehnya mereka nolak cuma karena takut followernya nambah. Kata mereka, follower banyak itu jadi pikiran. Tiap hari harus bisa “mainin jempol” dengan bijak, gak bisa asal ceplos ceplos apalagi bisa bawa sesat orang. Begitu kata Pak Broto sambil ngudud rokok elektrik yang katanya kemarin baru beli online di jaknot.

Gak sampai se-sruput saya minum Kopi Kemiren (*Kopi asli Banyuwangi), Pak Jani lanjut cerita.

“Biar gaul mas. Kita ini sudah susah jangan malah tambah susah. Jadi harus ngikutin perkembangan jaman. Lagian ya, mau gimana lagi mas, lah wong sekarang jempol udah gak bisa di umbar lagi. Bayangkan, mau ngasih jempol ke presiden, kayaknya gak pantas, mau kasih jempol ke aparat juga kayaknya gak pantas, mau kasih jempol ke pak polisi, pejabat pemerintah, pegawai kecamatan, ya kayaknya juga udah gak pantas. Sekarang, mending nge-gosip aja kasih-kasih jempol di socmed. Hehehe…”. Salute. .

Dari sekian banyak yang mereka omongin, saya lebih suka omongan mereka tentang korupsi. Kata Pak Broto, korupsi itu sudah jadi tradisi. Dimana sekarang, manusia sudah melihat dengan mata batin yang buta. Telinga yang sudah tidak ada lubang-lubangnya. Kalo ada orang ngomongin, bukan lagi masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Bukan. Tapi belum masuk ke telinga kanan, malah sudah “mlengos” duluan entah kemana. Mau dicari juga gak akan pernah ada. Mungkin kayak kamu kali ya. #eh (*maaf agak sedikit typo). Korupsi itu kalo sudah makan pimpinan, orang-orang kroco kayak kami ini ya mung bisa cengar-cengir mas. Cuma bisa ngopi sambil main ke warkop seberang. Makannya gak pakai makanan pembuka, makanan inti dan makanan penutup. Cukup pesen indomie rebus pakai telor, nikmatnya maknyooos.

Lain cerita dengan Pak Jani. Mantan preman kampung yang suka sama “Kimberly Rider” gara-gara nonton Manusia Setengah Salmon ini malah menganggap korupsi sudah jadi bukti kegagalan era reformasi. Kata dia, sebenarnya masa reformasi adalah masa yang menganggap bahwa korupsi itu “haram” jika hanya untuk sendiri. Sudah bertahun-tahun transisi, tapi nyaris tak ada pemimpin yang bisa mengatur negeri. Bahkan MK, yang digadang-gadang menjadi lembaga tinggi peradilan negeri nyatanya malah tergerus masalah suap korupsi yang melibatkan seorang bupati. Maka jika memang seperti ini, “Dimanakah kalian yang berteriak janji-janji masa reformasi? Masih perlukah terulang kembali tragedi Trisakti? Atau kalian sudah nyaman dengan kursi-kursi hasil suap anak-anak negeri?”. Dan karena tulisan inilah, 1000 “retweet” terkumpul hanya dalam hitungan menit. Luar biasa!!

Buat saya sendiri, mereka berdua sudah jadi trendsetter simbol “gahol” ala-ala orang kampung. Mindsetnya pun sudah mulai beranjak ke arah masyarakat jaman modern. Coba bayangkan saja, dulu orang kampung hanya berkutat dengan masalah bajak sawah, sekarang sudah mulai bajak status orang. Dulu orang kampung hanya berkutat dengan masalah mistis pake cerita babi ngepet, sekarang pun juga masih ngepet tapi tulisannya sudah beda (nge-path). Pak Jani, malah pernah cerita, “Kita itu mas, sudah menganggap dolanan path tiap hari adalah kewajiban yang harus dijaga istiqomahnya. Jadi terkadang kita sudah nentuin rundown buat update status dolanan (path -red) semalam sebelumnya. Yang gak kalah pentingnya, saya juga selalu baca buku biar update-an path saya gak patek ndeso. Saya ini sekarang lagi cari inspirasi lewat buku The New Digital Age nya Mas Eric Schmidt sama Jared Cohen pegawai Google itu lo. Biar kita bisa ngobrolin sama bisa ngasih pendapat kalau misal ada anak-anak kampus KKN kesini ngomongin masalah Cloud Computing, Internet Of Things atau bahkan Startup Companies paling bagus kedepannya.”. Edan!!

Ya seperti itulah Pak Broto dan Pak Jani. Keduanya, sudah jadi cikal bakal gaul ala ala masyarakat jaman edan eh jaman sekarang. Media sosial dijadikan dolanan buat jempol-jempol yang kehausan arti dan makna memberikan penghargaan. Karena mereka (jempol -red), sudah kehilangan kesempatan untuk show up. Tapi buat saya sih aman-aman saja, karena masalah seperti itulah kemudian media sosial mulai beranjak naik. Dimana sekarang, jempol lebih berarti ketimbang omongan orang. Otak sekarang tempatnya sudah di jempol, bukan di kepala. Lha, terus di kepala apa? -Apapun, yang penting bukan Syahrini.

Hahahaha. .

Jakarta, dalam kantor. 10 Juni 2015

2 thoughts on “Broto-Jani, Simbol “Gaul” Orang-orang Kampung

Please, give me advice for my articles!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s