Lembu Peteng dan Masalah “sexy” Jaman Dulu


Saya itu bingung, eh binguuuung. Cewek kok ya bisa kalo foto itu gayanya, aduuuuuuh, banyak sekali. Dari gaya pose selfie posisi hape diatas sambil ngacungin dua jari lambang peace terus di tempelin deket bibir. Bahkan, sampe ada yang bibirnya dimonyong-monyongin. Ada juga yang pipi di gelembungin, pun sambil monyong juga itu bibir. Pertanyaan saya, apakah sekarang monyong jadi lambang ke-sexy-an seorang perempuan? Karena gak sedikit loh yang monyongin bibir dengan gaya yang berbeda. Waaaah. . *hayoo yang cengar cengir!! :)*

Pas banget, habis psikotes di salah satu perusahaan traktor di Jogja hari ini (yang ternyata gak lolos. Heuheuheu), saya diajak temen ke Garden Cafe di depan kopma UNY. Masih teringat dulu, sewaktu jaman-jaman galau tugas akhir sempat mampir kesini. Mengelana dari Bandung, hingga pinggiran UNY cuma buat cari-cari apa saja yang emang perlu dicari. Itu dulu ya, sebelum putus sama aniTA. Eh, putus sama sinTA.

Disini, ketemu sama adik kelas. Ketemu adik kelas SMP juga SMA itu rasanya luar biasa. Berasa muda lagi. Masih inget dulu pas jaman ngospek, ikut OSIS sama pramuka, eeeeeh giliran ulangan banyak remidinya. Hehe. . Kebetulan juga tema bahasan kita ngobrol di Garden Cafe ini ya pas banget sama artikel ini, gak tahu pas atau gak, tapi pembahasannya berkutat masalah silsilah keraton *sopohayo*. Ceritanya adik kelasku ini lagi ada proyek ngebuat silsilah keraton pake bagan kotak-kotak yang jumlahnya ruatusaaan. Gara-gara raja itu dulu punya istri sampe puluhan -yang terdiri dari ratu sama selir-selirnya- ngeliat silsilah sampe puluhan lembar aja buat pusing. Bayangin aja satu raja misal punya istri 20. Dari satu istri anaknya 10. Satu keturunan sudah sampe 200 orang. Kalo dipikir sama keterkaitan artikel ini, coba pikir. Dulu para perempuan-perempuan gak pake selfie, apalagi sampe bibir dimonyong-monyongin kok raja bisa suka ya? Lantas apa?

Terlepas dari alasan apapun. Mari kita lihat secara positif.

Kalo saya pelajari masa-masa dahulu kala Indonesia masih berbasiskan jajahan para kerajaan. Berdasarkan apa yang tertulis pada narasi historis babad tanah jawa, ada satu istilah yang di populerkan oleh para raja Majapahit (Brawijaya) tentang masalah syahwat. Mungkin ada sedikit korelasi terkait para raja jaman dahulu. Orang-orang kala itu menyebutnya sebagai “Lembu Peteng”, atau keturunan ilegal sang raja pada masa jaya Kerajaan Majapahit.

Tidak hanya itu, cerita ini berlanjut bukan hanya pada masalah timbulnya lembu peteng, tetapi konon bahwa gejolak syahwat ini bukan sekedar melampiaskan nafsu saja, melainkan intrik kekuasaan. Ceritanya, dahulu banyak sekali istri dan gadis cantik dipaksa menjadi β€œselirβ€œ dadakan pada saat Brawijaya bersama para pengawal berkunjung ke daerah-daerah. Ibaratnya, ya kayak sekarang itu ada proker pejabat pusat yang berkunjung ke daerah-daerah. Cuma, akomodasi pejabat daerahnya pake plus-plus. Kalo saya bilang sih, ini kasusnya sama kayak gratifikasi seks namun dibalik dan tambah gragas. Bukan malah ditawarkan, cuma malah nyari-nyari. Heuheuheu. .

Berarti, kalo dilihat jaman dahulu kemungkinan alasan banyak istri itu dua, mereka meminta diperistri (maklum, istri raja sungguh bergelimang kemewahan. Berbanding terbalik dengan kondisi masyarakatnya) atau mereka diminta jadi istri/selir (untuk melampiaskan nafsu/pemekaran wilayah kekuasaan).

Gegara masalah pemekaran atau nafsu itulah persoalan simple yang sampai sekarang jadi masalah hukum malah gak diingat. Mungkin karena dahulu dasar hukumnya masih satu pintu, raja itu sendiri kali ya. Jadi dalam kata yang lebih simple, raja masih bisa berbuat “sak wudele dewe” asal kekuasaan bisa mulus. Padahal kalo di permasalahkan dengan keadaan sekarang, pertanyaan tentang sejarah masa lalu bakal susah di jabarkan. Kenapa? Ya karena satu, “keturunan dibuat berdasarkan apa?” Tahta kah, nafsu kah, molek kah, kasihan kah, atau malah memang karena cinta yang berada di atas segalanya? – Saking kompleksnya, kalau dipikir-pikir tidak ada satu literasi apapun yang menceritakan kisah cinta tentang raja-raja dahulu dalam satu buku kan? Atau mungkin saya yang belum tahu? Heuheuheu. .

Kisah “misterius” sang nomor satu kerajaan, memang tak bisa dianggap aneh hanya karena kata lembu peteng ini muncul dan eksis. Toh banyak juga raja yang baik hati-tidak sombong-dan rajin menabung mengukir cerita kisah-kisah jaman dahulu dengan menggoreskan cinta yang agung, menyandingkan kisah asmara dengan kuasa Tuhan yang tiada duanya. Dengan tampilan seadanya dan tidak terlalu mewah, toh nyatanya raja kepincut dengan perempuan meski ia tidak bergelimang harta dan dari kalangan biasa. Rasanya, hal-hal seperti inilah yang sudah mengalahkan “sexy” nya jaman sekarang. Gak perlu kok monyong-monyongin bibir pas selfie, gak perlu kok pake pakaian yang minim sampe mbenjendol-ehemehem, gak perlu kok pake make up sampe ndlewer-ndlewer gak karuan, gak perlu seperti itu. Buat beberapa laki-laki, sampe raja-raja jaman dulu (bisa jadi) sebenarnya sexy itu simple -meski hadir dalam varian yang massive jumlahnya-. Karena pintar, bisa jadi itu sexy. Karena sopan, sabar, baik, tepat waktu, disiplin, jujur, sederhana bisa jadi itu juga sexy. Atau malah banyak yang meng-iyakan sexy seperti itu, adalah sexy yang jarang orang punya. Karena derajat sexy yang jenisnya seperti itu sungguh sexy yang sangat luar biasa.

ya, seperti itulah. 😊

*(serpihan postingan lama, yang baru di selesaikan sekarang) | Tegal, 17 September 2014

7 thoughts on “Lembu Peteng dan Masalah “sexy” Jaman Dulu

Please, give me advice for my articles!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s