“Raisa” Berbaju Merah


Hari ini, aku pergi ke suatu tempat dimana mentari bersembunyi di balik pepohonan. Hujan sedari pukul dua belas, mulai menyangsikan kaki untuk segera beranjak. Lucunya, pernikahan buatku sudah menjadi mimpi siang bolong yang kemudian diwujudkan oleh temanku siang ini. Dan kesepuluh orang jones, membawa bekal sakit hati yang tak kunjung sirna oleh datangnya (bidadari) pujaan hati.


Pukul dua tepat, iringan-iringan penganten menuju ke pelaminan sudah dimulai. Tepat di depannya, –sudah duduk dengan rapi– barisan demi barisan orang tua serta anak-anak kecil yang sembari tadi menggoyang tablet-tablet canggihnya. Gak lupa, ibu-ibu gaul juga ngaca buat ngebenerin lipstik sama alis mereka di layar tablet, sambil monyong-monyongin bibir mereka yang sudah udzur. Mereka juga sibuk mempersiapkan kamera dan smartphone buat jeprat jepret hasil menang arisan bulan lalu. Tapi yang paling keren, dipojok paling ujung sebelah kanan ku lihat tongsis sudah mantap dalam genggaman lelaki dengan perempuan manis di sebelahnya. Aduhai. . . –Dan kami para jones-, hanya sekedar memakan kue-kue di depan mata, menghadap belakang sambil lambaikan tangan memendam hati yang terluka, ala-ala uji nyali saat malam tiba.

Baluran warna merah terlihat cerah dengan wajah manis penerima tamu. Senyum manisnya berpadu dengan lesung pipit di pipi kirinya. Mirip Raisa, namun dengan pakaian kebaya merah plus cincin “masih” di jari tengah. Setidaknya, sekilas mata memandang, jones tak perlu mengelus dada atau bahkan terperangah. Terlihat, cincin itu menandakan masih ada kesempatan untuk menimba mimpi tanpa baluran keluh kesah. Atau, yang paling simple malah mungkin ada kesempatan bilang sama mamah papah segera ngelamar neng Raisa berbaju merah.

Semut-semut berjalan beriringan dengan girang. Kali ini masih tetap yang dibahas berwarna merah, semut-semut merah. Mereka beriringan membawa bekal untuk membangun rumah istananya. Sama seperti temanku saat ini, duduk berdua bercanda ria, seperti seorang raja dengan selir barunya. Meniadakan kesenangan esok atau lusa, berdiri dalam dunia yang berasa miliknya. Para tamu, seakan menjadi bidak-bidak hingga panglima perangnya. Mereka berjalan dalam ganasnya medan perang. Sedangkan raja dan selirnya enak-enakkan dalam tandu, minum wedang jahe sambil ngemil ubi cilembu. Lalu jones? Tak terlihat keberadaannya. Ketimbang perang, mereka malah memilih pergi ke gua sambil muhasabah buat “move on” gara-gara bingung gimana cara ngeyakinin mamah papah mereka tentang Raisa berbaju merah.

Ah . . . .
Biarkan hari ini tetap seperti ini.
Merah berbalut lesung pipit tadi ku bawa pulang saja ya, buat kembali merajut asa. Entah sampai kapan, aku rasa mudah saja. Asal cincin si merah itu masih ada di jari tengahnya.

(Lah, itu tadi si jones gimana jadinya?)

[…]

8 thoughts on ““Raisa” Berbaju Merah

Please, give me advice for my articles!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s