Taksu si Sabina


Sore ini saya masih berkutat dengan “move on” gara-gara bayar bookingan yang gagal terus. Apalagi kalo booking tiket kereta yang punya tenggat waktu gak ada satu jam, terus ATM gagal “move on”. Rasanya sama kayak main bola volly tapi gak pernah masuk, atau malah main bola volly pake gaya sepak takraw. Sense of playing-nya jadi kurang greget. Sama kayak dangdut sekarang yang sudah semakin menjadi-jadi dengan minimnya pakaian dan jogetan yang kurang pas, bukan lagi kayak jaman dahulu yang menjadikan dangdut jadi out of the box-nya rock, pop, jazz dan aliran-aliran musik bangsa kompeni kala itu.


Berbicara masalah volly, saya jadi heran sama trending topic sama dunia per-bolavolly-an saat ini. Ya bukan masalah olah raganya, tapi masalah berita pemain di dalamnya. Grup meme di negara ini juga lagi “gayeng-gayeng” ngebahas masalah satu ini. Tumben banget, kayaknya sih grup meme yang satu ini sudah “move on” dari berita kulit manggis ada ekstraknya, kalkulator ada ACnya, sampai gambar jari-dicelupin ke tinta pemilu- terus ada tulisannya, “Tinta pemilu bisa hilang dalam dua hari, tapi Tinta ku padamu tak lekang oleh waktu”. #eaaaagh

Masih masalah volly yang lagi hangat dibicarakan. Gak lain gak bukan ya tentang masalah kehadiran salah satu pemain volly asal Kazakhstan, Sabina Altynbekova yang katanya gak cocok jadi pemain volly gara-gara si doi kelewat cantik. Padahal baru 17 tahun. Ya kayak adik kelasku agak jauh dikitlah ya. Beritanya ini sama kayak dulu sapa itu si anak kecil iklan biskuit oreo yang pake syal. Emm ya kayak gitu. Hebohnya cukup mendominasi postingan di grup meme itu. Heuheuheu. . Malah denger-denger gara-gara terkenalnya si doi di Indonesia, si doi ada rencana mau didatangkan kesini oleh salah satu tim bola volly di Indonesia. Entah memang karena terampilnya si doi main volly atau karena cantiknya saya juga kurang tahu. Tapi gara-gara klub juga mengejar profit dalam bisnis, kayaknya sih alasan karena cantiknya itu bisa juga alasan mereka mendatangkan dek Sabina ini. Mungkin salah satunya sponsor atau banyaknya yang hadir saat pertandingan jadi pencapaian yang ingin dicapai untuk tujuan ini.

Lalu pertanyaannya, saat nanti dek Sabina ini jadi datang ke Indonesia, orang-orang liat volly itu karena dasar apa? Pertandingannya, atau malah karena Sabinanya? Sama halnya kayak Death Race (DR) yang di TV itu. Berkembangnya DR dalam segi pendapatan bisnis itu, karena penonton yang memang “demen” sama DR dari segi balapan, modifikasi mobil atau karena memang ada Frankenstein disana?

Kalo berbicara tentang masalah ini, saya teringat dengan salah satu istilah yang bagus untuk merepresentasikan hal ini yaitu taksu. Meskipun agak sulit karena memang kata ini gak ada definisi secara umum, dilihat dari kutipan masalah tentang volly tadi ya ini semua mungkin karena volly sudah kehilangan taksunya. Atau malah itu karena taksunya Sabina tadi. Ini malah jadi bingung Volly, Sabina atau masalah taksu? Hehehe. . Memang, saat kita mengatakan kata taksu bahkan jika kita search di gugel pasti yang muncul ya Bali. Belum ada yang menjelaskan kata ini apakah dari terjemah atau memang bahasa Bali, namun terlepas dari itu semua saya kok malah tertarik “nyambungin” masalah ini dengan Volly tadi.

Saya kasih gambaran lagi ya. Jadi taksu tuh misalnya gini, [http://bit.ly/1vf8Atd] jika kita tertarik pada suatu barang, tapi kita tidak tahu apa yang menyebabkan kita tertarik. Sama misalnya seperti tari bali, pernah lihat tari bali? Sama seperti tari yang lain, tari bali memiliki taksunya sendiri dan tari lain juga memiliki taksunya sendiri. Jadi orang ketika akan melihat tari bali akan merasa beda, oh ini tari bali dia memiliki taksunya sendiri yang tidak dimiliki oleh tari yang lain. Itulah taksu, yakni energi yang ada di obyek tersebut yang membuat ketertarikan. Nah sekarang kenapa Bali itu menjadi terkenal, itu tak lain karena taksu Bali yang masih sangat melekat hingga saat ini.

Dalam gambaran lain mengenai taksu [http://bit.ly/1vf84eG], Rieke Dyah Pitaloka kesehariannya adalah orang yang cerdas, politisi PDI Perjuangan, tetapi di sinteron ia memerankan orang yang bloon. Artinya, mereka itu “punya taksu”.[..] Yang terjadi di Bali saat ini adalah semakin sedikitnya orang yang secara total meleburkan diri dalam sebuah proses aktifitas, apakah itu aktifitas kesenian atau kebudayaan dalam arti luas. Penari joged hanya bisa goyang-goyang saja dan pengibingnya hanya bisa mencolak-colek membuat orang tertawa. Penari topeng hanya bisa bergerak sesuai pakem, tidak sepenuhnya menyatu dengan topeng yang dibawakan. Orang Bali bilang, semuanya sudah “campah”, tidak lagi “medengen”. Dan itulah ciri dari kehilangan taksu.[..] Bisa jadi tontonan itu sendiri sudah campah seutuhnya, sehingga penari pun sulit mendapatkan taksu dari kesenian itu. Bagaimana seorang Galuh dalam arja bisa mendapatkan taksu, kalau Inya dan Kartala selalu membuat banyolan di sampingnya. Bagaimana pengiring pratima pada saat melasti ke laut bisa berjalan dengan taksu, jika juru kidung sering bergurau dan gamelan sudah tak karuan bunyinya? Jika seseorang tidak sreg lagi naik ke atas pentas, dicari dengan cara apapun Sang Taksu tak akan muncul. Totalitas untuk menyatu dengan peran di panggung itu, tak akan ditemukan, padahal totalitas itulah syarat munculnya taksu.

Jadi kalo saya tangkap, yang dikatakan taksu itu seperti suatu kewibawaan, suatu kekhasan, atau jiwa dari sesuatu [silahkan koreksi jika memang saya salah]. Sama halnya dengan masalah volly tadi. Masyarakat sudah agak “keder” melihat volly dalam perspektif dari mana. Melihat volly dari skill pemain dalam saling kejar-mengejar poin, atau malah hanya karena kecantikan salah seorang pemain juga gak jelas kan? Sama halnya kayak apatisme pemilu lalu, banyaknya golongan yang menyuarakan golput tak memilih siapapun di tengah-tengah penggerak anti golput. Mungkin karena golongan minoritas itu menilai pemerintah, calon presiden, bahkan pejabat sekarang sudah kehilangan taksunya. Kehilangan wibawa dan totalitasnya. Mereka memandang karena kehilangan dua hal ini, wakil rakyat hanya sekedar mencari rejeki dan posisi, tanpa ada kerja nyata dari hati. Boro-boro totalitas, mungkin mereka mencari rejeki juga tanpa membutuhkan ridho ilahi. Heuheuheu. . (*eh, ya itu sih contoh lo ya. Mengenai apa yang ada, saya gak akan komentar lebih jauh. Kan ngomonginnya sekarang masalah volly.*)

Nah, jadi kesimpulannya dalam masalah volly yang saya paparkan, kalo masalahnya seperti ini karena emang volly sudah kehilangan taksunya, atau malah taksu Sabina ini yang mulai menggairahkan masyarakat tentang permainan volly-nya?

Hmmmmmmmm. . .

*Random (Pemalang, dalam suatu ketika)

5 thoughts on “Taksu si Sabina

Please, give me advice for my articles!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s