Mindset Botol dalam Eksepsionalisme Amerika


Kadang tu gini ya gais, seringkali kita berpikir tentang bagaimana nilai kita di mata orang lain ketimbang kita berpikir jadi diri sendiri. Kita lebih senang berpikir bagaimana orang lain berbicara tentang kita, ketimbang bagaimana kita bisa menjadi diri sendiri dan menjadi trendsetter bagi orang lain. Ya mungkin hanya beberapa dari kalian yang seperti ini. Tapi toh, banyak sekali kasus yang serupa entah dari mana asalnya kan?

Saya agak tersentak dengan apa yang terjadi di Amerika belakangan. Saat ini, bagi sebagian kalangan yang memang meneliti tentang perkembangan sepak bola di Amerika, pasti sudah tidak asing dengan istilah eksepsionalisme. Geliat masyarakat Amerika ketika pagelaran World Cup di Brasil beberapa bulan yang lalu, menimbulkan suatu opini baru tentang bagaimana warga Amerika berpikir tentang sepak bola.

Pada dasarnya, eksepsionalisme dapat diartikan bahwa keyakinan bahwa sebuah bangsa/masyarakat/kelompok adalah suatu pengecualian karena begitu luar biasa sehingga tak perlu mempelajari/mengikuti cara-cara atau aturan normal. Akibatnya, gegara kultur yang satu ini, sebuah bangsa mempunyai pola pikir bahwa mereka merasa berbeda dengan bangsa yang lain. Mereka menganggap mereka adalah luar biasa, adidaya, bahkan superpower.

Sepak bola (salah satunya), merupakan sebuah tradisi yang berangkat dari Eropa. Di Amerika sendiri, sepak bola berasal dari imigran-imigran yang bekerja sebagai buruh kapal pada akhir abad 19. Oleh karena itu, sepakbola dianggap sebagai olahraga kaum buruh dan hanya berkembang di tataran kaum sosialis. Keidealisan tentang keyakinan satu ini memang seringkali diorasikan oleh kaum konservatif. Di Amerika, kaum konservatif ini adalah kaum yang memiliki jabatan penting di depan publik seperti wartawan, politikus atau kolumnis. Mereka benar-benar tidak mau, menjadi pengikut tradisi luar negeri meskipun berbentuk olah raga yang hingga saat ini menjadi olah raga yang luar biasa. Mereka lebih mengungulkan NBA, NFL (American Football), MLB (Baseball), atau NHL (Hockey) ketimbang MLS yang pada dasarnya menjadi salah satu liga lokal yang sedang berkembang di tataran sepakbola. Mereka menganggap bahwa Amerika adalah negara yang mampu berdiri sendiri dan menjadi panutan bagi negara-negara lain, bukan semata-mata mengikuti negara lain.

Kecenderungan eksepsionalisme inilah yang terkadang memudahkan kita berpikir tentang alur masyarakat Amerika memandang “out of the box” segala hal tentang non Amerika. Cobalah sesaat bagaimana Amerika menjadi trendsetter teknologi canggih dalam segala bidang. Pertahanan, sosial ekonomi, politik bahkan industri perfilman yang luar biasa hebat. Mereka berhasil membentuk opini publik bahwa Amerika adalah negara adidaya yang tidak ada duanya. Film-film box office mempertontonkan Amerika sebagai negara yang luar biasa hebat tak pernah memperoleh kekalahan di setiap perangnya. Mereka benar-benar berperang secara mental terhadap pemikiran-pemikiran semua orang yang melihat. Pun, cukup sulit bagi saya menyimpulkan apa yang dihasilkan dari idealisme yang membabi buta seperti cerita diatas. Tapi toh, sulit juga mengartikan idealisme jenis itu untuk nasionalisme yang memang perlu dijaga hidupnya kan?

Satu hal yang saya suka dari opini-opini eksepsionalisme ini menghantarkan saya berpikir tentang mindset hidup dalam sebuah botol. Coba kalian pikirkan, bagaimana jikalau saat ini kalian diumpamakan hidup dalam sebuah botol. Kaca sebagai bentuk eksepsionalisme, dan tutup sebagai satu kultur yang menjadi pembatas antara mindsetmu dengan mindset di luar pikiranmu. Realitanya, sekuat apapun kaca yang dibuat, sekuat apapun opini eksepsionalisme itu dibuat, tanpa adanya tutup yang kuat maka perlahan-lahan mindset diluar pikiranmu akan masuk bercampur dengan mindset yang sudah kau buat selama ini. Oleh karena itulah, pandangan kaum konservatif seperti diatas, menurut saya hanya sebatas menjaga kultur agar menjadi gembok, atau bahkan filter agar orang-orang tetap berada di dalam opini-opini itu. Dan semacam inilah yang terkadang saya benci, karena pada dasarnya opini ini menjadi sebuah benteng ke-superpower-an salah satu kaum/bangsa. Mereka menganggap dirinya benar, tanpa pernah mendengar. Merasa dirinya kuat tanpa pernah melihat.

Entah, seperti apa kehidupan itu dijalankan, sebesar apa botol itu dibuat toh masih ada botol-botol lain yang mungkin saja akan menjadi pembeda antara botol yang satu dengan botol yang lain. Dunia terlalu luas untuk memelas, terlalu sempit untuk menjerit. Maka lempar saja botol itu dalam ombak yang kuat, biarkan Tuhan menjelaskan sedikit saja pelajaran, “bahwa sebesar apapun botol itu kau lempar, seberapa besar opini itu kau agung-agungkan, tak akan mampu menahan dahsyatnya ombak kehidupan yang Ia gambarkan. Entah itu sekarang, hingga jauhnya masa depan”.

Tapi, se-sederhana itukah makna kehidupan?

Pemalang, 23 Agustus 2014

One thought on “Mindset Botol dalam Eksepsionalisme Amerika

  1. mhilal says:

    Eksepsionalisme tampaknya menjangkiti setiap masyarakat, mas. Di Indonesia pun ada beberapa paham eksepsionalis yang kerap saya temui. Orang Jawa (yang sangat bangga dengan kejawaannya) kerap menceritakan keunggulannya di hadapan budaya lain, bahkan budaya luar negeri sekalipun.

Please, give me advice for my articles!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s