Jakarta dalam Senja


Senja di ufuk barat sangat mendamaikan. Peluh hari ini, kian lama kian menepi. Meluluhlantahkan buaian keringat satu demi satu. Deru laju kereta, menambah aksentuasi senja yang luar biasa. Sudirman-Pondok Cina, membawa semangat penuh cinta tanpa kata-kata.


Jakarta dalam senja mulai tampak. Ribuan kendaraan mulai berlari saling berkejaran satu demi satu. Sang pengatur, dengan masker di wajah mulai sibuk dengan lambaian tangan serta suara peluit-peluit tak bernada. -Dalam sekilas pandanganku saat ini-, benar-benar tampak para perantau itu, mengusap keringat-keringat peluhnya dengan lelah demi seonggok harta. Begitu juga aku.

[••]

Singkat cerita, aku menyukai senja sejak aku mulai mengenalmu. Kau bilang, -masih ku ingat hingga saat ini- matahari terbenam adalah momen menangkap rasa. Dan senja, adalah alat untuk memotretnya. Jika kau bisa menyatukan keduanya dalam timing yang pas, ukuran diafragma yang tepat, maka kau akan menemukan kenyamanan batin yang tak bisa kau dapatkan di sembarang tempat.

Senja menurutmu, adalah sebuah titik balik, dimana semua orang meletakkan kepenatannya sejenak untuk hari esok. Ia menjadi penengah diantara yang senang dan susah. Masalah, penat, keluh kesah, ditumpahkan dalam bejana yang berisi bermacam-macam jenis bunga yang merekah. Ia meniadakan kesedihan dan membangun kembali kebahagiaan.

Kau mengagumi senja, sama seperti aku mengagumimu. Meskipun senja harus tiada, tapi rasa tak bisa berdusta. Kedatangannya selalu dinanti, meski harus menunggu jarum jam terhenti di titik yang sama setiap hari. Pagi hari, siang hari hanya masa tenang, antara senja-senja yang kau pandang diantara ribuan senja yang kau gunakan untuk melebur lemah menjadi gagah, melebur durja menjadi tawa.

Anehnya, saat kau berbicara tentang senja, aku hanya diam tak mampu menyela. Melihatmu tersenyum sempurna, penat yang ku bawa dalam kereta tadi sungguh menghilang entah kemana. Yang ku tahu hanya satu, Tuhan bekerja dengan luar biasa.

Mungkin itulah alasanku, mengapa hingga saat ini aku tak pernah mengatakan “aku mencintaimu”. Karena aku takut, aku tak pernah bisa menjadi senja untuk dirimu. . .

[••]

3 thoughts on “Jakarta dalam Senja

Please, give me advice for my articles!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s