Cerita Tentang Sawah, Gosip sampai Nikita Willy jadi Guru Ngaji


Saya itu agak kaget pas bada maghrib sekitar 3 hari (16/8) yang lalu ketika di rumah. Dengan peningkatan status Gunung Slamet –yang kalo tidak salah sudah berada pada status Waspada-, di rumah sudah berasa sedang ada latihan perang jika mendengarnya. Dari suara yang begitu jauh terasa, hingga menggetarkan kaca jendela ada dalam paket latihan perangnya. Baru kali ini, rasanya dentuman Gunung Slamet menjalar sampe ke rumah. Padahal, sekitar bulan Maret peningkatan aktivitas gunung gak begitu terasa. Anehnya ketika saya lihat puncak, (kebetulan dari rumah saya, puncak Gunung Slamet bisa terlihat) diatas sana tidak ada larva atau kumpulan asap yang mengepul diatasnya. Entah, malam itu saya rasakan sesuatu yang luar biasa.

Tapi kali ini saya gak akan membicarakan aktivitas gunung. Saya hanya akan sedikit menceritakan tentang obrolan Bi Rumi dengan teman seper-gosipan-nya, Bi Kasti. Dua orang ini tuh suka banget sama yang namanya ngegosip. Nikita Willy yang jadi guru ngaji pake hijab hitamnya, Siwon-Donghae-Eunhyuk yang ikutan Ice Bucket Challenge (itu lo, yang ngeguyur badan sama seember air es), hingga Taksi Uber yang lagi hangat-hangatnya di komentari Ahokpun mereka bicarakan. Kata orang, mereka itu sudah seperti gerbangnya informasi. Jangankan usulan menteri-menteri yang sedang dibicarakan di rumah transisi oleh kubu Jokowi, bahkan mungkin mereka malah sudah punya usulan formasi dari instansi-instansi CPNS tahun ini yang jadwalnya tak ada yang pasti. Bayangkan saja, dari jadwal pengumuman formasi tanggal 18-20 Agustus, nyatanya siang ini dari 487 instansi pusat atau daerah baru ada sekitar 25 yang sudah ada formasi terkini. Hanya sekitar 5% dari total instansi seluruh pelosok negeri. Aduh mama sayangeeeee. Heuheuheu. .

Siang ini tuh mereka berdua lagi marah-marah sama pemerintah gaes. Gegara pupuk subsidi yang masih kurang disediakan pemerintah pusat, sampe kurang 2 juta ton di tahun 2014 suami mereka yang jadi petani jadi pusing tujuh keliling ngegarap sawah mereka buat nanem padi. Sudah pendapatan yang emang cekak, ditambah pupuk juga berkurang alhasil sawah-sawah mereka malah udah gak jadi lagi lahan produktif buat ditanem. Ujung-ujungnya mereka nyewain sawah mereka buat jadi lahan pasar malem, tower telco, sampe jadi lapangan buat tarkam (sepakbola antar kampung) yang emang gak butuh pupuk buat ngembangin usaha itu. Saking semangatnya mereka nyewain tempat buat tarkam, mereka sampe rela selfie di depan gawang bambu yang mereka buat sendiri, terus disebar-sebar lewat BBM di Lumianya yang BBMnya sudah bukan lagi BBM versi beta sejak tanggal 15 Agustus pekan lalu. Mereka gencar banget buat jadiin sawah-sawah mereka berhasil secara diversifikasi penggunaan, meninggalkan diversifikasi pertanian yang selama ini masih dipelajari anak-anak sekolah. Kata mereka alasannya simple, peningkatan produksi beras harusnya juga didukung dengan pasokan pupuk yang baik buat petani. Dengan keuntungan yang memang kurang begitu banyak, petani juga sudah malas karena memang saat ini keuntungan memproduktifkan sawah dengan menanam padi tidak signifikan dibanding memproduktifkan sawah buat di kontrakin tarkam tiap tahunnya. Apalagi kalo sampai di sewa buat tower telco. Lumayan. Soalnya sekali nyewa juga mereka gak cuma setahun-dua tahun. Tapi kadang sampe 5 tahun. Asalkan gak ada bencana sama pendirian bangunan tinggi yang ngehalangi sinyal, terkadang mereka malah nambah waktu sewa. “Ya, lumayan mas. Disini sudah high speed kecepatan internetnya. Gara-gara istri kami yang doyan ngegosip terus share ke path sama twitter, penduduk desa ini sudah mulai mengenal smartphone buat ngegosip. Lah wong mau kumpulan RT aja woro-woronya via BBM kok mas. Baru kalo ping-nya gak dibales-bales alias no respon, pak RT bengak bengok lewat speaker mesjid“, sambung mereka. Heuheuehuehu. .

Kalo saya lihat sih, permasalahannya unik juga ya. Dari urusan sawah yang emang gak bisa lancar gara-gara pupuk sampai ngegosip Nikita Willy yang jadi guru ngaji. Akhirnya malah mereka menemukan “gaulnya” mereka sendiri. Mereka melek teknologi juga bukan karena semata-mata sawah yang mereka “gauli” sudah berubah jadi bentuk lain. Mereka jadi gaul juga karena urusan gosip Bi Rumi dan Bi Kasti yang menyemarakkan Path, Twitter sama BBM di daerah pedesaan. Dulu kentongan, sekarang broadcast massage sampe PM bahkan ping ke orang-orang. Maka tak salah saya menyimpulkan ternyata banyak sekali perubahan dalam diri seseorang yang harus dimulai dengan memutus kebiasaan-kebiasaan yang biasa dilakukan. Dari sawah yang kurang pasokan pupuk, dari diversifiksi penggunaan sawah jadi lahan sewa yang menguntungkan, sampai pengaruh orang-orang yang selalu gosip tiap harinya juga jadi bagian dari perubahan itu kan? Maka jangan terlalu banyak mengeluh dengan banyaknya masalah, karena bisa jadi masalah yang ada justru malah membawa berkah, karena memunculkan ide-ide dalam keberkahan-keberkahan lain yang tak pernah kalian jamah.

Bukan begitu kan gaes?

Pemalang, 20 Agustus 2014

4 thoughts on “Cerita Tentang Sawah, Gosip sampai Nikita Willy jadi Guru Ngaji

Please, give me advice for my articles!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s