Zakat Pendapatan/Profesi


Saya agak sedikit memperoleh pencerahan setelah “ngadem” di Mesjid Salman ITB kemarin. Pas banget sama ngambil uang di ATM Muamalat, saya ngambil flyer tentang masalah zakat pendapatan/profesi yang dari kali kesekian ke ATM buat ngambil uang, baru kali ini saya menemukan informasi tentang zakat pendapatan. Mumpung sedang dalam masa-masa cari kerja, saya akan sedikit share atas penemuan yang satu ini, barangkali ada teman-teman sekalian yang memang belum mengetahui masalah zakat yang satu ini. Hehehe. . 

Sebelumnya akan saya jabarkan apa itu zakat pendapatan/profesi. Berdasarkan apa yang saya baca, zakat pendapatan/profesi adalah zakat atas pendapatan yang diperoleh dari aktifitas atau pekerjaan muzaki (pemberi dana zakat), baik sebagai karyawan, petani, pedagang, kontraktor, investor, pekerja mandiri atau pengusaha (wiraswasta). Itu artinya bahwa ketika kita mendapatkan hasil dari pekerjaan tersebut, apabila telah memenuhi ketentuan wajib zakat, maka hukumnya sudah wajib untuk menunaikan zakat.

Dasar Hukum?

  1. QS. Adz Dzariyat: 19
  2. QS. Al Baqarah: 267
  3. Hadist Nabi SAW: “Bila zakat bercampur dengan harta lainnya, maka ia akan merusak harta itu.” (HR. Al Bazar dan Baihaqi)

Perhitungan Nishab?

Nishab adalah batas minimal harta yang wajib dikeluarkan zakatnya. Nishab zakat pendapatan/profesi di qiyash kan dengan nishab zakat ‘az-Zuhru’ wa Tsimar’ (tanaman dan buah-buahan) yaitu sebesar 5 wasaq atau 652,8 kg gabah atau setara dengan 520 kg beras. Jika misal beras yang dikonsumsi misal (yang paling murah) Rp. 7000/kg maka nishabnya sebesar Rp. 3.640.000. Artinya bahwa batas minimum jumal pendapatan untuk besarnya zakat pendapatan/profesi sebesar Rp. 3.640.000.

Kata kunci: “Nishab zakat pendapatan/profesi di qiyash kan dengan nishab zakat ‘az-Zuhru’ wa Tsimar’ setara dengan 520 kg beras.” | Sesuai dengan perhitungan 1 wasaq = 60 sha’, 1 sha’ = 2,176 kg. Sehingga 5 wasaq = 652,8 kg gabah. Jika dijadikan beras sekitar 520 kg.

Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW

  1. “Tidak ada zakat pada hasil tanaman yang kurang dari lima wasaq” (HR. Ahmad dan al-Baihaqi)
  2. “Dan tidak ada zakat pada kurma yang kurang dari lima wasaq”. (HR Muslim)

Kadar Zakat yang dikeluarkan?

Penghasilan zakat pendapatan/profesi dilihat dari sisi wujudnya adalah berupa uang. Sehingga dari sisi ini, jenis zakat yang satu ini berbeda dengan tanaman, tetapi lebih dekat dengan “naqdain” (emas dan perak) yaitu “rab’ul usyur” atau 2.5% dari seluruh penghasilan kotor.

Nash yang menjelaskan kadar zakat naqdain sebesar 2.5% adalah sabda Rasulullah SAW

  1. “Bila Engkau memiliki 20 dinar (emas) dan sudah mencapai satu tahun, maka zakat yang wajib dikeluarkan adalah setengah dinar (2.5%).” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan al-Baihaqi)
  2. “Berikanlah zakat perak dari 40 dirham dikeluarkan 1 dirham. Tidak ada zakat pada 190 dirham (perak), dan jika telah mencapai 200 dirham maka dikeluarkan lima dirham. (HR. Ashabus Sunan)

Lalu bagaimana menghitung zakat pendapatan/profesi?

Menurut Yusuf Qardhawi, perhitungan zakat pendapatan/profesi dibedakan menjadi dua, dan keduanya dibenarkan.

  1. Secara langsung. Zakat dihitung 2.5% dari penghasilan kotor (baik dibayarkan bulanan atau tahunan). Sehingga perhitungan yang satu ini mengandung arti, sebelum digunakan untuk kepentingan lain, pendapatan sudah bersih, karena sudah menunaikan zakat pendapatan/profesi.
  2. Setelah dipotong dengan kebutuhan pokok. Zakat dihitung 2.5% setelah dipotong untuk kebutuhan pokok. Dengan catatan, pendapatan sudah mencapai nash untuk dikeluarkan wajib zakat.

Analoginya, seperti ini. Zahroni, seorang karyawan swasta tiap bulannya berpenghasilan Rp. 4.000.000/bulan (sudah memenuhi wajib zakat pendapatan/profesi).

  • Jika ia menghitung zakat pendapatan/profesi secara langsung, maka Zahroni wajib membayar zakat sebesar 2.5% X Rp. 4.000.000, yaitu sebesar Rp. 100.000/bulan atau Rp. 1.200.000/tahun.
  • Jika ia menghitung zakat pendapatan/profesi setelah dipotong dengan kebutuhan pokok, maka total pendapatan per bulannya, dipotong dengan kebutuhan pokok. Semisal jika sudah memiliki anak, kemudian menggunakan uant tersebut untuk membayar SPP anak, cicilan, makan, dsb. Seandainya jumlah kebutuhan pokok tersebut Rp. 2.000.000, maka perhitungan wajib zakatnya adalah 2.5% X (Rp. 4.000.000 – Rp. 2.000.000) = Rp. 50.000/bulan atau Rp. 600.000/tahun

Waktu mengeluarkan?

Dikeluarkan setiap kali kita menerimanya. Di qiyash-kan dengan waktu pengeluaran zakat tanaman yaitu setiap kali panen. Sesuai firman Allah pada QS. Al Anam: 141. Sebagai catatan, untuk pekerja harian atau pekanan yang belum mencapai nishab dapat diakumulasikan selama satu bulan. Dan apabila sudah mencapai nishab, maka zakat tersebut dikeluarkan setiap satu bulan.

Bagaimana, sudah paham kan perhitungan zakat zakat pendapatan/profesi kan? Kata kunci dari artikel ini adalah

  • Saat penghasilan sudah mencapai Rp. 3.640.000, maka sudah wajib mengeluarkan zakat pendapatan/profesi
  • Pembayaran zakat bisa melalui dua cara, langsung atau setelah dikurangi dengan kebutuhan pokok.
  • Waktunya? Segera setiap kali kita menerimanya. Atau bisa per bulan bahkan per tahun.

Selamat, menghitung zakat profesi Anda!! Biar pendapatan kita juga semakin berkah, jangan lupa ya pembayaran zakat yang satu ini. Sila untuk menyebarkan kepada sanak saudara, teman sejawat, rekan kerja yang kalian sayangi. Jangan lupa cantumin alamat blog ini ya.🙂

sumber: flyer Zakat Pendapatan/Profesi Bank Muamalat dengan penambahan disana sini.

3 thoughts on “Zakat Pendapatan/Profesi

  1. mascah says:

    wah kebetulan sekali ni mas, saya mau bertanya barangkali mas tau jawabannya:mrgreen:
    kebetulan baru2 ini saya mendapat rapel gaji dr pekerjaan. nah, kemaren itu saya masih ragu apakah itu kewajibannya berupa zakat atau sodaqoh, akhirnya saya niati sodaqoh..begitu juga dengan bulan berikutnya juga saya niati sodaqoh (bukan zakat). nominal bulanan sdh melebihi yg mas sebutkan. biar mudah hitung sodaqohnya saya hitung juga 2,5% dr penghasilan.
    jadi yg saya mau tanyakan, yg seperti itu sebenarnya masuk sodaqoh apa zakat? atau masih adakah perbedaan pendapat di ulama mengenai zakat profesi ini? kemudian kalo diniatkan sodaqoh seperi cerita saya tadi, apakah itu sdh menggugurkan kewajiban zakat (jika yg benar zakat profesi)?
    terima kasih sebelumnya🙂

  2. thomhertsiadari says:

    🙂
    Kudu dibayar tiap bulan emang biar terasa lebih ringan. Setau saya, sebenarnya bisa juga kalau mau dibayar per tahun tapi ya itu tadi, akan lebih terasa “banyak”.

    • ivenomenal says:

      hwaaa….ada kang thomhert…
      alhamdulillah gaung “zakat” ini digalakkan kembali…hehee

      mengenai dikeluarkannya memang setelah mencapai haul 1 tahun, apalagi jika dalam setahun pemasukan naik turun. Walau demikian, agar tidak terlalu njetak di akhir tahun, bisa diperkirakan besaran bulanannya berapa sehingga saat haul sudah lebih terkumpul

      *cmiiw

Please, give me advice for my articles!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s