Ngupil


Yogyakarta, 25 Mei 2014

Anggap saja #ngupil itu adalah sebagian cara seseorang untuk menikmati hidup. Bahkan terkadang cara yang satu ini tak bisa dianggap remeh jika disandingkan dengan minum kopi sambil baca koran di pagi hari. Bagaimana tidak, sedikit demi sedikit, sruput kopi dan baris-baris berita mengejawantah rasa penasaran sang jari yang semakin membara, membaur dengan khas aroma pepagian. Aromanya sungguh bersajak kerinduan malam yang makin menipis.

#ngupil, mungkin menjadi trademark bagi pejuang jaman dahulu. Di jaman kala itu, mungkin #ngupil adalah salah satu taktik perang yang hanya sebagian orang tahu. Timing memasukkan jari, dihitung sebagai kode morse yang mempunyai perbedaan ketukan antara satu huruf dengan huruf lainnya. Atau bahkan panjang pendeknya jari yang masuk, dihitung sebagai strategi penyerangan terhadap musuh. Kalian tahu mengapa pistol pelatuknya jari telunjuk? Kenapa tidak dibuat di awal ibu jari saja, jari tengah saja, jari manis atau bahkan kelingking? Mungkin karena penciptanya melihat bahwa orang-orang dulu memang menjadikan #ngupil sebagai satu kebiasaan yang dianggap mampu mengalirkan strategi perang yang baik, dan saking banyaknya kebiasaan #ngupil di kalangan tentara, menjadikan jari telunjuk menjadi jari terkuat dan mempunyai faktor keberuntungan yang lebih dibandingkan dengan jari-jari yang lain. Pernah berpikir “liar” seperti itu?

Atau seperti ini. #ngupil, juga mungkin saja menjadi andalan bagi para pemikir kerajaan jaman dahulu. Siapa tahu, #ngupil kala itu menjadi salah satu stress healing yang ampuh. Ken Arok dalam penaklukan Kerajaan Kediri mungkin sesekali #ngupil saat dirinya stress. Siapa tahu kan? Atau bahkan cerita Gajah Mada dalam mencoba menaklukkan Sriwijaya berawal dari #ngupil saat dirinya sedang kumpul-kumpul dengan patih-patih lain kerajaan Mahapahit? Siapa tahu? Yang kita tahu, bahwa para penulis kisah-kisah sejarah seperti ini tidak mencantumkan #ngupil sebagai salah satu pembuat ide out of the box-nya mereka. Ketika nyatanya Gajah Mada gagal menaklukan Sriwijaya karena terlalu kuat, bahkan M. Yamin mengatakan bahwa Sriwijaya itu “Kerajaan Nasional”, apakah ada sangkut paut #ngupil dalam kegagalan itu? Bisa jadi kan, ketika penyerangan terhadap Sriwijaya, ternyata Gajah Mada lupa untuk melakukan #ngupil berjamaah. Bisa jadi kan? Maka tak salah, saya katakan bahwa, “mereka (para penulis sejarah) telah melupakan kunci kegagalan penyerangan itu”. #sedih

Bagi para penikmat #ngupil, tiap jari –kata mereka- punya taste maker yang tidak sembarangan orang tahu. Kata mereka juga, “Kita lakukan ini dengan totalitas kok, bahkan tak jarang uang ratusan juta mereka keluarkan untuk belajar hingga ke negeri seberang hanya karena ingin tahu bagaimana #ngupil yang baik, dan tidak menimbulkan kemudharatan bagi orang lain. Bagaimana #ngupil yang meningkatkan self confidence hingga self power yang baik. Ditambah, satu hal yang bisa kita contoh dari mereka adalah kenikmatan saat #ngupil seseorang menentukan strata sosial dalam komunitas mereka.”. Seandainya Indonesia seperti itu, maksudnya memilih pemimpin melalui jalan itu, mungkin saja Indonesia tidak akan pernah ada korupsi, menyuap lembaga publik, atau apapun namanya. Karena yang aku tahu, sekali tangan berbuat kotor, kenikmatan me#ngupil berbalik 180 derajat. Sekali mereka tidak menemukan cara yang asyik me#ngupil, strata mereka turun. Se-simple itu.

Yang paling mengherankan, mereka malah merasa lebih asyik ngurus diri sendiri lewat #ngupil yang tidak membawa kepentingan golongan. Mereka akan tetap memilih pemimpin, tapi mereka memilih pemimpin yang mampu menghadirkan kenyamanan dan keamanan bagi mereka saat me#ngupil. Mampu menyediakan #ngupil room” tanpa harus terganggu dengan golongan-golongan lain. Karena bagi mereka, #ngupil adalah warisan leluhur yang keberadaannya harus mampu dilestarikan. Dan pemimpin haruslah mengerti hal-hal seperti itu.

Kan, mungkin saja #ngupil memang dikesampingkan bagi sebagian orang. Tapi ada juga sebagian yang lain, yang menganggap #ngupil adalah salah satu anugrah yang telah diberikan Tuhan dalam kehidupan. Mau disebut apapun, #ngupil menjadi salah satu aktivitas yang tidak pernah ditinggalkan oleh setiap orang. Berbeda suku, agama, ras, semua sama. Mereka tidak pernah tidak #ngupil kan? Sekiranya, kalau dilihat seperti ini. Seharusnya negara-negara yang mengusung tagline perdamaian dunia juga harus mencatat hal –yang sering dilupakan ini. Bisa saja kan, saking ampuhnya #ngupil ini, mungkin saja di hari esok ada satu hari dimana #ngupil dijadikan lambang perdamaian bagi seluruh dunia, dan dunia wajib memperingati hari itu!! Toh, ngupil juga bukan sesuatu yang wow ketimbang korupsi kan?

Tapi mau dikata apa, kidung-kidung mereka justru yang paling saya ingat hingga saat ini. Dalam darah mereka, “bagi saya sendiri” mengalir jiwa-jiwa anak bangsa yang punya satu ide hanya untuk membangun negeri. Mereka menjadikan #ngupil sebagai pemersatu bangsa karena mereka tidak melihat “Sumpah Pemuda” saat ini sakral seperti dulu. Generasi-generasi saat ini bungkam dengan suara minor. Bahkan apa yang tabu bagi masyarakat, menjadi suara merdu bagi kaum-kaum mayor. Karena faktanya sekarang, “Demokrasi saat ini sudah semakin keluar dari jalur yang dulu orang-orang teriak untuk ditegakkan. Suara-suara yang keluar sudah dilatarbelakangi kepentingan golongan-golongan tertentu. Pemimpin sekarang lebih memikirkan koalisi ketimbang teriakan-teriakan pelosok-pelosok negeri. Lalu kepada siapa lagi kita teriak meski kita hanya menuntut sedikit bukti, bukan sekedar janji-janji?”

Heuheuheuheuheuheuheu. . .

5 thoughts on “Ngupil

  1. Donny M. Adhitama says:

    Karena demokrasi bagaikan upil yang mendaging dan membuat kita menangis perih saat ingin diupili. Dan huruf-huruf yang tertekan dengan telunjuk ini telah terupili juga. Dan saya membaca tulisan ente pun menjadi terpengaruh #ngupil.

    Eniwei. Salam move-on panturaisme!

Please, give me advice for my articles!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s