Kekasih, sedang apa kau disana?


Kekasih, sedang apa kau disana?
Masih kah kau berkutat dengan tugas akhirmu yang seabrek itu?
Entah kenapa, sekarang langit bandung masih tetap sama. Merah merona langit, memerahkan setiap jalan menemani orang-orang sepulang kerja. Berbondong-bondong, dari arah buah batu, hingga dayeuh kolot tak pernah senggang dari motor-motor, mobil-mobil sampe bapak-bapak pendorong gerobak yang mungkin akan memasang tenda-tenda jualan malam ini. Macet, memang. Bandung seakan tak pernah rela sepi beranjak dari peraduan itu. Hujan sudah memudar perlahan. Jalan-jalan berdebu menandakan ia tak pernah bersentuhan dengan senyuman air Tuhan. Suasana kampus sudah berada seperti adanya. Semenjak berubah menjadi universitas, lingkungan kampusku menjadi ramai, mungkin sama halnya dengan kampus Ganesha di jalan Dago sana. Aku menulis ini, karena aku teringat sore itu, senyummu merona.

Kekasih, sedang apa kau disana?
Aku disini sedang berada pada titik jenuh. Menunda adalah pekerjaan paling mudah, tapi hasilnya membuyarkan semua hal yang dulu ku rencanakan. Termasuk memutus jauh yang selama ini menjadi perantara kita. Langit sore ini tak mampu bermimpi karena mulai dimakan oleh gelap. Dimakan pula oleh malam yang tak pernah menyukai, cahaya sore. Uring-uringan, kejar-kejaran, tapi tak pernah kena. Satu muncul, yang lain bersembunyi. Begitu seterusnya. Gak akur kayak kita –oh ya?-. Mungkin bodoh, tapi tak pernah roboh. Kuat mengakar seperti akar. Membumbung tinggi ke atas langit asap pengepulan tungku ibu-ibu itu. Memasak nasi untuk anaknya yang banyak. Dari yang paling besar, hingga adik-adik kecilnya yang merengek, menangis. Seperti seekor kucing yang sudah lapar. Suaranya bersahutan, tapi tetap lucu –khas anak-anak kecil-. Yang paling besar, baru pulang dengan sepeda onthelnya, membawa tiga ranjang kayu bakar siap pakai untuk memasak. Peluh keringatnya, mengalirkan semburat kerja nyata dari seorang pemuda tanpa lelah. Badannya kotor, capek terlihat sedang menangui tubuhnya yang kekar. Tapi dia tetap senang, melepas senyum puasnya –persediaan kayu bakar beberapa hari kedepan sudah lebih dari cukup.

Kekasih, sedang apa kau disana?
Dayeuhkolot, Cikapundung, Citarum, Bale Endah. Air membludak saat hujan turun. Mau besar atau kecil, tetap sama. Hulu sungai sudah rusak, dirusak oleh villa-villa mewah disekitar Lembang sana. Akibatnya hilir sudah mulai tenggelam oleh air yang semakin tak terbendung. Mengalir dengan deras, tanpa tedeng aling-aling saling kejar mengejar. Pemuda-pemudi, anak-anak, orang tua sudah seperti melihat kawasan rekreasi sungai saja saat air dari hulu datang, menyapa mereka. Warnanya kehitaman, baunya menyengat. Entah, butuh berapa kali penyaringan untuk menjernihkan mereka. Entah, berapa jenis sisa bahan kimia yang berada disana. Antara takut atau enggan berkata-kata, antara berharap atau menebar apatis, ku kira masyarakat sudah malu untuk berkata, “Bandung Juara”. Kebersihan, sampah, sungai, resapan, sudah mati sebelum kiamat datang menyapa. Masyarakat takut!!

Kekasih, sedang apa kau disana?
Letih sudah semakin berani tampil, sudah berani bersuara tak hanya diam. Otot leher sudah mulai kencang. Entah karena tua semakin merundung, atau hanya karena pembantalan pada diskus antara tulang belakang yang mengering aku pun tak tahu. Tapi, jika yang terjadi karena diskus mengering lalu mempersempit ruang di dalam kolum spinal, tempat dimana syaraf-syaraf menjulur keluar, maka bisa saja syarafku tertekan dan nyeri semakin menjadi-jadi. Andai ada kau, mungkin lelahku luruh, karena melihatmu seperti apa adanya, selalu menyisakan tawa tanpa tangis tanda tanya. Mungkin, itu bisa melemaskan otot leherku. –Entah?

Kekasih, sedang apa kau disana?
Aku mau pulang, membawa setumpuk masalahku untuk kau olah menjadi bahagia. Dengan sepiring nasi goreng kencur jagoanmu. Apalagi dengan ceria anak kita -Jagoan paling heboh satu rumah. Dia sudah bisa apa ya sayang? Bermain dengan “pao” kesukaanmu hingga tawa terbahak-bahak? Atau bahkan menyanyikan bintang kecil tiap hari? Atau bahkan sudah bisa membaca surat Al-Ikhlas yang dulu ku ajarkan tiap malam? Atau apa?

Kekasih, sedang apa kau disana?
Kau tahu apa itu malam?
Adalah saat aku tidur dalam titik cahaya terendah, lalu terbangun, mencari cahaya Tuhan berbaur mimpi, –melihatmu.

Bandung, 14 November 2013

6 thoughts on “Kekasih, sedang apa kau disana?

Please, give me advice for my articles!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s