Proyek Buku


Bandung, 2 Oktober 2013

#10.46 WIB
Suatu hari, di desa yang memang lumayan terpencil, hiduplah dua orang manusia yang memang berbeda jenis kelaminnya. Satu laki-laki, dan satunya perempuan. Tapi kalo satu tinggi satu pendek? Emm. . Bisa jadi, karena mereka memang seperti itu. Satu tinggi, satu pendek. Kalau dilihat sekilas, ya wajar karena satu laki-laki dan satu perempuan kan? Yang tinggi laki-laki, dan jelas, yang pendek perempuannya. Mungkin bukan pendek, hanya lebih beberapa centi saja lebih pendek dari laki-lakinya.

Aku ingin menjadi penulis“. Tulisan hitam font Times New Roman berukuran 40 hasil ngeprint dari komputer teman kuliahnya terpampang jelas di kamar kosannya. Maklum, setelah me-wisuda-kan cita-cita ingin menjadi dokter pada masa kecilnya, ia sekarang beralih menjadi seorang penulis. Besar di tahun-tahun boyband mulai keluar, girlband juga menjamur, ditambah laki-laki sekarang malah ikut-ikutan jadi cantik, atau bahkan korupsi sudah jadi trademark kebaikan untuk beberapa kalangan orang, namun tak sampai hati menyurutkan keinginannya menjadi penulis. Meskipun, sosok yang dia sukai sebenarnya bukan seorang penulis, tapi seorang penyair dan sastrawan asal ranah minang, Datuk Panji Alam Khalifatullah. Kalian tahu siapa itu? Huh, aku lupa. Mungkin sebagian besar orang mengenal beliau bukan dari nama itu, melainkan Taufik Ismail. Pasti kenal kan? 

Sehari-hari, dia isi dengan menulis artikel, tak lupa juga dia utarakan semangat angkatan ’66 di dalam bait-bait ketukan tarian jari jemarinya itu. Aku masih ingat betul, tulisannya ketika dia sengaja tujukan kepada kebijakan kampusnya dulu. Dia sindir di salah satu syairnya.

Hidup berkalung sendu, rindu menanti para pejuangku
Hidup berbayang pudar, berbalut kemelut orang-orang yang tak sadar
tak pandai membedakan mana yang salah, mana yang benar.

Dari angkatan 66, hingga sekarang, ya sama saja keadaannya (kalau memang aku tidak salah, lalu dia mengutip puisi Silhuet karya Taufik Ismail).

Gerimis telah menangis
Di atas bumi yang lelah
Angin jalanan yang panjang
Tak ada rumah. Kita tak berumah
Kita hanya bayang-bayang

Bagiku, yang memang tak tahu menahu bagaimana tulisan itu, hanya berdecak kagum saja, luar biasa temanku ini.

#11.25 WIB
Kali ini, aku akan membicarakan perempuan yang telah ku tuliskan di awal cerita ini. Dia bukanlah seorang penyair, dia tidak mempunyai kemampuan seperti temannya yang berbeda jenis kelaminnya itu. Tapi, entah bagaimana ceritanya, dia tetap memegang teguh cita-cita masa kecilnya itu. Apalagi kalo bukan dokter. Satu-satunya hal yang memang lucu, yang ku tahu dia paling suka boneka barbie. Bedanya, dia jahit sendiri pakaiannya, semua barbie yang dia punya memiliki kesamaan, profesinya dokter semua. Ada dokter kandungan, dokter mata, dokter gigi, dokter penyakit dalam, segala macam dokter dia buat. Lucu kan?! Ternyata dia pupuk semangat itu, dalam kesempatan yang memang dia memiliki hobby disana. Sederhana saja, dari boneka barbie.

#11.36 WIB
Kali ini memang tak terlalu banyak aku menjelaskan si perempuan itu. Maklum, aku lebih mengenal si laki-laki itu karena dia teman satu kelasku. Aku hanya mendengar sedikit cerita mengenai perempuan itu, dari dia. Atau mungkin lebih tepatnya, buanyaaaak cerita kali ya. Terkadang dia cerita panjang lebar, sampai-sampai aku tak bisa menyela sedikitpun. Maklum, terkadang menggambarkan seseorang lewat cerita lebih bisa memberikan dia ruang untuk berimajinasi. Jadi, aku mungkin jadi pendengar setia ceritanya. Meskipun, terkadang ceritanya lebih ampuh dari “Kancil Mencuri Timun“, “Timun Emas“, “Legenda Roro Jonggrang” atau bahkan “Angling Dharma-versi 2013” untuk pendamping tidur. Haha. .

#11.41 WIB
Tapi dari sekian banyak ceritanya, ada satu bagian yang memang aku paling suka. Titanic, Pride Prejudice atau bahkan Casablanca masih belum bisa menggeserkan ketertarikanku pada cerita mereka berdua. Temanku memaksa si perempuan membuat proyek buku. Lucu tidak? Seorang yang memang hobby menulis, sering membuat apapun tentang karya sastra, malah mengajak seseorang yang tidak tahu menahu tentang hal tersebut. Shock juga si perempuan mendengar permintaan temanku itu. Berkali-kali dia menolak, tak surutpun niat temanku untuk mundur. Berbagai macam alasan dia kemukakan, beribu-ribu rayuan juga dilontarkan temanku untuk menampiknya. Sampai suatu saat, temanku hanya memberikan satu kalimatnya yang ku rasa ampuh menjelaskan semuanya. Temanku berkata, “Kamu hanya perlu tanda tangan dan membubuhkan foto disana”. Hah? Segampang itukah? Ternyata aku baru sadar, kalian tahu proyek buku apa yang dia sodorkan? Ternyata dia meminta proyek buku nikah. Wuiiiiiiii. .

#11.50 WIB
Dulu melihat akhir cerita itu, aku. . (#break dulu ya, udah adzan. Hehe.. Happy blogging masbro, mbakbro)🙂

*sekian dulu*

24 thoughts on “Proyek Buku

Please, give me advice for my articles!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s