Apa Sebab Merindu?


#
Aku ingin belajar membaca, agar tahu sebab merindu.
Aku buka, tutup, buka kemudian ku tutup lagi beberapa lembaran buku dalam rak lemariku. Mungkin beribu-ribu kali hingga terkadang akupun lupa hitungan jemariku.

#
Dari a, b, c, d hingga selesai. Kemudian ku ulangi lagi, hingga bacaanku sempurna tanpa buku-buku itu.
Tapi tetap saja sama, sempurnaku selalu tak bisa bertemu sebab merindu.
Lalu ku coba arahkan untuk belajar mendengar, agar tahu sebab merindu.

#
Hari demi hari, ku lakukan hanya untuk mendengar kisah para pesakitan.
Mungkin orang mengira aku konsultan kehidupan, yang selalu punya senyum tanpa sedikitpun mengeluh dengan peluh. Menganggap aku sebagai seorang motivator level atas yang ‘fee’-nya ratusan juta rupiah sekali pentas. Waktuku sudah penuh dengan janji bertemu mereka tiap hari. Bahkan tidak jarang, pesakitan mereka pun karena bersemai rindu.
Mendengarnya tiap hari, sungguh melucu.ย 

#
Semakin membuncahlah pertanyaanku itu ‘saban’ waktu.
Berharap tau sebab merindu, tapi semakin pilu bertatap bisu.
Konsultan kehidupan, motivator level atas, tidak bisa menjadi mesin penjawab yang baik, bahkan hanya menjadi pengisi lambung masalah, yang semakin lama semakin berat untuk menapak.
Ku tinggalkan belajar mendengar, lalu aku belajar melihat.
Alasannya masih sama, aku belajar melihat, agar tahu sebab merindu.

#
Sama seperti dua hal diatas, melihat kehidupan justru sungguh sangat berbeda. Banyak sekali orang baik, menjadi buruk hanya karena satu kesalahan saja. Kesalahan mereka, menggerus mereka menjadi orang-orang yang tak terurus.
Lucu sekali.

#
Janji dibuai, prinsip dituai, tapi visi misi cerai berai.
Masalah di atasi dengan masalah. Masalah baru, tertutup dengan masalah baru lagi, hingga masalah sekarang adalah tumpukan masalah-masalah yang entah selesai atau tidak tertimbun masalah-masalah diatasnya. Lalu, apa sebab merindu ketika faktanya seperti itu?
Tidak ada.

Apa yang salah?
Akhirnya, semakin merenung, semakin membuat sadar
bahwa ternyata sebab merindu tidak perlu harus belajar hal-hal itu.
Sama seperti halnya satu bagian “rectoverso”.
Ya, tumpukan batang sabun yang ditata ke atas tahap demi tahap pasti punya pola rindunya sendiri.
Level-level tatanan itu menampilkan kerapihan yang hanya kau sajalah yang bisa menikmatinya.
Bentuknya akan selalu sama saat rindu kau buat. Karena itu polamu.
Hilang satu bagian saja rindu menjadi tiada karena polanya tak lagi sama.
Dan pola, memang tak pernah ada yang sama. Karena pola kau yang buat, orang lain tak ada yang pernah “melihat”.
“100 sempurna, kamu satu, lebih sempurna”, itu kata buku. Bukan sebab merindu.

Ya, selamat membentuk pola.
Pola merindu, terkadang bisa juga pola keharibaan “sang pencipta rindu”.ย 

Bandung, 21 Juli 2013 [tulisan tempoe doeloe]
Untuk seorang teman.๐Ÿ™‚

10 thoughts on “Apa Sebab Merindu?

Please, give me advice for my articles!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s