Kelopak Mata Pukul Tiga


Kelopak mata ini sudah naik turun dari satu jam yang lalu. Iramanya pun sudah tak sama. Tubuh, sudah mulai terkapar dengan tenaga yang sudah mulai susut keberadaannya. Kaki ini, sudah tidak mampu menopang berat tubuhku meski hanya untuk sebentar, berjalan ke arah dapur untuk mengambil secangkir air minum dari tempatnya. Lelah. . Hingga otak, sudah tidak berurutan alur neuron-neuronnya, mengingat satu hari penuh pun sudah tidak tersampaikan, hanya berjalan tak berarah, gontai setapak demi setapak, duduk, terhempas, tak berpola. 

Seharian, setapak langkah menjejak, menyusur gang demi gang. Terik matahari seakan menampakkan keganasan seperti biasanya. Dua, atau tiga menit saja sudah cukup untuk menaikkan panas tubuhmu hingga kepalamu menggeliat, bak cacing kepanasan. Panasnya pun tak berpola, hanya satu bagian, dan bagian lain tertutup nyaman dipayungi kuasa lainnya. Ku kira, itu sudah biasa. Siang yang panas pun tetap dinanti banyak orang, meski sebagian dari mereka mencibir. Tak terpatok dengan kata-kata satu bahkan ribuan versi yang keluar. Siang -yang panaspun- tetap akan keluar.

Itulah kelelahan hari ini. Menyusuri alur proses hidup, melukis waktu dengan tinta seadanya. Mencari makna yang memang terkadang kurang waras untuk ditarik bahkan dicari benang merahnya. Semua berbeda, dan kita tak terlalu bisa dan biasa dengan tumpukan perbedaan itu. Lalu pada akhirnya, perbedaan menjadikan semuanya tersisih, dan terpinggirkan dari kaumnya, satu demi satu lenyap, nama, kenangan, janji ikrar, seperti abu tertiup angin. Menyebar, kemudian. . hilang!!

Tapi, mau dikata apa, terkadang kesusahan selalu menimbulkan cerita untuk kita. Dari hal yang sepele, hingga yang rumit bentuknya. Satu demi satu, bagian demi bagian, jadi gudang memori parsial yang labil. Naik, turun, naik, turun, hingga puncak sudah engkau gapai berkali-kali. Tapi, dari puncak yang kau gapai, pasti -meskipun itu sedikit- selalu punya cerita kesan berbeda. Bahkan nantinya, yang ada hanya bosan lalu mencari puncak yang lain. Begitu juga dengan keluhanmu. Suatu saat pasti akan hilang bukan semata-mata karena masalah itu sudah tiada. Tapi, karena kau sudah terbiasa, dan meniadakan masalahmu sesuai dengan keyakinanmu. Jika kau yakin masalah itu hanya biasa, pasti akan biasa. Tapi jika kau yakin masalah itu besar, pasti akan besar jualah yang akan kau hadapi. Itu hanya permainan “believe“, hanya permainan sekecil itu. Tak lebih.

Kelopak mata pukul tiga, sudah terpejam. Kelelahan sudah hilang, karena dianggap hilang. Stress pun juga sudah hilang, karena dianggap hilang. Kelopak mata pukul tiga jadi waktu semua menghilang, bukan karena memang hilang, tapi karena sudah dianggap hilang.

Welcome, Sunday Morning!! Kelopak mata pukul tiga, sudah berkuasa, “semua penat” sudah ku anggap tiada.

Podjok Babarsari, Yogyakarta.
21 April 2013

10 thoughts on “Kelopak Mata Pukul Tiga

Please, give me advice for my articles!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s