BTS, #kotakkotak, #Cicak, #Buaya, #SAPI


Dua puluh dua lebih kosong lima

Jam tangan mas Sopan sudah dulu melampaui sepersekian detik dari jam tangan mas Santun. Kalo dilihat, dua orang ini adalah penjaga site BTS Operator merah putih itu dari jaman merah putih tertutup warna kuning sebelum 1998. BTS (Base Transreceiver Station) ki yo podo koyok bandar sinyal telekomunikasi. Onone gak jauh-jauh dari tower telekomunikasi. Kalo sampeyan lihat, disitu ada tower, dibawahnya pasti ada #kotakkotak yang kabelnya terhubung dengan tower itu. Itulah BTS.

“Kalau BTS rusak pan, kita itu bakal kehilangan sinyal, alias blankspot“, tegas Santun. Ooo, lah jadi #kotakkotak itu kerja 24 jam sehari buat arek-arek biar bisa sms, telpon-telponan gitu Cuk? Yoh, betul Pan. Makane #kotakkotak iku dipakai pak Jonowi buat jadi modal kampanye beliau kemarin di Ibukota Ngastina. “Lo, bukane di Jayakarta lek?”, Sopan nyeletuk. Bukan pan, bukan #kotakkotak yang itu. Kalau #kotakkotak yang itu mah awalnya karena si doi pas ngedaftar ke KPUD pakenya baju #kotakkotak pan, akhirnya malah jadi ngetren itu #kotakkotak. “Lah terus lek, berarti sama dong #kotakkotak BTS, karo sing neng Jayakarta kae?” 

Bedanya kali ini, sebelum mas Santun menjawab, dia cuma nyengir mesam mesem kayak model iklan Obat Kumur, “Ya iku mah aku gak ngerti Pan, sing iso njawab ki yo rakyat Jayakarta dewe, aku cuma rakyat Suroboyo”. Ooooo, lah dikira dirimu iku orang Bandung lek?. “Kok bisa?”, Santun nyeletuk. Lah iku, kalau sampeyan ngomong pake ‘mah-mah‘, bukanne iku ala-ala Bandung toh?. “Hahahaha. .” Kali ini mas Santun tertawa terbahak-bahak kayak grup raksasa pewayangan pas lagi ketawa.

“Yoh, gak popo Pan, arek Suroboyo karo arek Bandung kan satu hati, konco bal-balan“. “Hahahahahaha”, Sopan hanya tersenyum.

Dua puluh dua lebih dua lima

*kemudian hening*

Mas Sopan kembali nyeletuk dalam keheningan ini. Emang kalau dilihat, Mas Sopan alias MS ini sukanya nyeletuk-nyeletuk. Apalagi kalau ngomongin masalah politik. Mau sampe 24 jam nonstop pun, sudah gak peduli waktu. Apalagi sambil nyruput kopi buatan Mbak Oneng yang kalo buat kopi sambil goyang-goyang cacing kepanasan pake baju #kotakkotak. Padahal kalo dilihat umurpun, sudah gak pantes buat nyanyi ala orang muda. Apalagi nyanyi lagunya Cakra Khan tapi di gawe ndangdut. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula, jatuhnyapun ke kolam ikan, yang semua ikan-ikannya ikan politik, gak doyan sama pelet makanan ikan, gak doyan sama sayur-sayuran, gak doyan sama nasi bekas makanan, tapi doyannya sama duit. Cuma itu thok. (Maaf ya, mbak Rieke Diah Pitaloka yang lagi nyalon jadi Gubernur di Jawa Barat. Onengnya cerita ini, oneng yang lain kok).

“Mas Santun, kalau dilihat, politik Indonesia sekarang itu sudah kayak tegangnya politik di kota zaman Yunani kuno dan pada masa perkembangan imperium Romawi Kuno dulu lo mas?”. “Sek sek, sampeyan itu sebetulnya lulusan mana to mas?”, penasaran Mas Sopan sudah diambang batas normal Bendung Katulampa kayak pas kemarin banjir di Jakarta.  

“Hehehe. . Saya itu lulusan Filsafat Institut Teknologi Bulaksumur (ITB) mas, dulu sempet ikutan Pramuka disana”. Lah emang apa hubungannya Pramuka sama Filsafat ITB? Hehe. . “Gak ada kok mas, cuma info aja, kali-kali dipertanyakan nantinya. Hehe. . “. Oalaaaah, makane kok omonganmu ketok duwur banget mas. Ngerti masalah politik zaman Yunani Kuno dulu. Aku malah gak tahu blas masalah itu, politik pertama kali pas aku njebur buat tahu informasinya itu ya pas jaman #kotakkotak barusan. Hehe. . 

“Ya, gak gitu mas. Mumpung saya inget ini. Biar topik kita, gak cuma ngomongin Mbak Oneng terus sampe kebawa mimpi. hehe. .”, Sopan nyeletuk.

 – Kan! Lagi-lagi nyeletuk –

Jadi gini mas, dulu itu di sana komunitas politiknya itu merupakan domain diluar negara. Bukan sebagai hubungan interaksi antara penguasa dan rakyat jelata, tetapi merupakan hubungan setara antara warga negara. Tapi, ono tapine ki mas. Pola yang ada tersebut, secara tidak sadar mengesampingkan pola relasi produksi antara para tuan tanah (kayak juragan londo pas jaman perjuangan kemerdekaan iku lho mas) karo produsen alias warga negara yang rata-rata si petaninya pun hanya sebatas penggarap. Nah dari sinilah yang memunculkan ketegangan politik Barat kala itu mas.

“Sruuuuuuuuuuuuup”, nyruput kopi buatan Mbak Oneng yang baru datang dari Warkop sebelah. Lantas nerusin pidato singkatnya di pos ronda BTS sambil dibawah naungan ceplik bareng sohibnya, Santun.

“Tapi yang paling menggelitik itu, masing-masing era itu menanggapi hal tersebut beda-beda mas. Yunani Kuno menanggapinya dengan institusi demokrasi yang memungkinkan tuan tanah dan rakyat petani berkonfrontasi secara beradab dalam ranah politik sebagai warga negara yang setara. Nah, nek Imperium Romawi menempuh jalan yang jauh berbeda: berdasarkan prinsip kesetaraan dan keadilan dalam artian memberikan manusia hak sesuai kebijaksanaan dan kemampuannya, negara justru semakin memperkuat hierarkhi antara tuan tanah dan segenap penguasa lainnya (birokrat, pejabat negara dan militer) sebagai  kelas yang berkuasa versus para rakyat petani melalui status hukum yang didasarkan atas status kepemilikan properti. Inilah awal mula yang namanya kedaulatan negara itu sudah hilang. Kalau dilihat Indonesia itu sudah kayak jaman Imperium Romawi iku mas. Jarak antara rakyat jelata dan investor yang sudah konconan dengan beberapa elite politik ibarat bumi dengan langit, jauuuh. Jauhnya itu sudah diabadikan oleh mbak Sheila Madjid lewat lagunya “Antara Anyer dan Panarukaaan, Kita jatuh cintaaaa . . .“. 

“Yo opo kowe ki. Kuwi Anyer dan Jakarta, Cuk”, Santun Protes.

“Oooooh, ya lali mas. Hehehe. . “, lagi-lagi Sopan cuma bisa cengengesan gak karuan sambil lagi-lagi nyrupuuuut Mbak Oneng, eeeeeh kopinya Mbak Oneng.

“Jarak yang ada itu yang malah jadi permasalahan Indonesia jaman sekarang mas. Gak aneh ceritanya, kalau misalnya gara-gara investor di dukung oleh orang yang punya tangan diatas, mau seperti apapun masyarakat menggalang mulut buat ngomongpun, itu cuma jadi sampah. Gak pernah nyampe ke atas. Semua hal yang diadakan sekarang, bisa jadi satu jalan buat salah-satu oknum buat memajukan kepentingan mereka. Mulakno ati-ati ae mas. Bisa jadi orang sebelahmu duduk rapi di dalam oknum itu karo ngudud Garpit dua bungkus satu kali isapan. Edaaaaan”

“Wah, bener juga peyan mas. Mungkin, goro-goro pas jaman Orde Baru Marxisme sudah dihilangkan kali ya? Gak kayak pegangan Sukarno-Hatta”, kali ini Santun nyerocos, gak mau kalah sama sohibnya.

“Nek kowe pengen ngerti, Marxisme iku salah satu paham dari pandangan Karl Marx. . “. “Oooooo, Karl Marx murid e GusDur kang?”, belum selesai ngomong, Sopan sudah menjejel dengan pengetahuan filosofi ITB-nya itu.

“Ngawuuuuuuuuur!!, Karl Marx iku bukan arek Jombang. Dia itu arek London. Jadi, dia itu menyusun teori yang berhubungan dengan tiga bidang, ekonomi, sosial dan politik. Dulunya itu, teorinya si doi ini jadi dasar komunisme modern. Teorinya beliau ini terkenal dengan Marxisme. Teori ini merupakan salah satu bentuk protes terhadap kapitalisme kepemilikan pribadi dan penguasaan harta kekayaan yang di dominasi orang-orang kaya dan mengorbankan rakyat kecil. Dulu beliau berpendapat, kapitalisme harus dijungkir balikkan, kalau tidak, bisa aja terjadi pemberontakan dari rakyat menuntut keadilan. Jadi ya pantes dong kalau mungkin, nanti-nantinya Reformasi jilid dua bakal terjadi lagi di kemudian hari.”

“Wah, luwar biasa ternyata. Omonganmu iku sudah setara pejabat parlemen negara tertangga kang. Emang kuliahmu dimana toh dulu?”, Sopan termangu.

“Hahaha. . Saya juga kuliah di ITB (Institut Telkom Bandung) gak beda toh sama kowe kang, ITB (Institut Teknologi Bulaksumur)”, “Hahahahahahaha”. Sohib-sohib berdua itu, cekakakan di pos ronda BTS ngomongin ITB tadi.

“Nah, anehnya gini. Gara-gara dengan kemajuan ekonomi pada masa orde baru sekitar tahun 80an, para intelek muda ini pengen nganalisis kenapa kok semakin maju pertumbuhan ekonomi yang sempat njadiin Indonesia sebagai macan asia, justru semakin menegaskan yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Salah satunya ya itu tadi, mempelajari Marxisme ala Sukarno-Hatta jaman dulu. Tapi naasnya, pas mereka cari itu buku di perpus-perpus universitas, semua judul berbau marxisme sudah tidak ada sama sekali. Ya jelas, dengar punya dengar, percaya tidak percaya, yang katanya penguasa orde baru kala itu pada tahun 1965-1966 telah memusnahkan semua buku yang berbau Marxisme dan melarang semua buku yang berbau Marxisme pula”.

“Lah emang baunya se-bau apa mas? Kok sampe penguasa-orde-baru memerintahkan seperti itu”, pertanyaan intelek mulai dimuntahkan oleh Sopan. Bahkan ini semakin premature saja tanyanya. 

“Hahaha. . Kowe itu, tanyanya aneh-aneh lek. Banyaknya sampah di Bandung, sungai-sungai yang sudah jadi hitam gara-gara banyak pabrik yang buang ee nya di sungai, ditambah masyarakat di pinggiran sungai aja yang baunya sudah gak karuan, gak sampai disuruh dimusnahkan dari peredaran. Bayangkan saja, berarti mambu-nya gak karuan toh si Marxisme itu”, Santun nyeleneh. Prinsipnya Santun itu lumayan unik, barangsiapa bertanya dengan nyeleneh, maka jawablah dengan nyeleneh. Barangsiapa bertanya dengan serius, jawablah dengan nyeleneh. Baginya, nyeleneh itu jadi satu asas hidup diatas Pancasila yang mungkin sampai sekarang, yang hafal cuma anak-anak SD saja.  Hehe.. *tataprealita*

“Jadi gimana ini masalah Marxisme sekarang kang?”, omongan Sopan menghilangkan lamunan Santun pas lagi mbayangke Libra Akila. Iku lo, sing biasa jadi penyiar kuis di MNCTV pas lagi tanding Premier League. #eh

“Aku juga bingung Pan. Pemerintahan sekarang dan jajarannya menurutku gak beda jauh dengan masa Orde Baru. Yang membedakan cuma wong-wonge tok. Sistem e masih sama. Bahkan timbullah korupsi berjamaah, gak kayak dulu waktu jaman orde baru, korupsinya jamaah, tapi intinya munfarid. Kalau dulu enak kang, masalah korupsi tinggal mengebirikan keluarga Cemara. Lah sekarang sudah gak bisa lagi mengkambing-hitamkan keluarga itu. Karena sudah gak tayang lagi di tv-tv”. 

“Sruuuuuuuuuuuuup”, nyruput kopi yang tinggal setengah.

“Bayangke saja, sekarang para tikus-tikus koruptor itu sukanya mengkambing-hitamkan konco-koncone. Dulu ada #CicakVsBuaya, dan yang paling baru iku ya Raffi eh #SAPI maksudku. Mesakke kan? Hewan-hewan imut itu sudah ditunggangi politik pasca Orde Baru. Terus apakah harus dimusnahkan hewan-hewan iku kang?”, Sopan sudah mulai gak sopan sekarang, tanyanya sudah gak berkaitan masalah premature lagi. 

“Yo jangan, kalo dimusnahkan kasihan para produsen sabuk, sama produsen bakso dong. Brand mereka jadi berubah, gak ada lagi tuh Sabuk Kulit Buaya, atau Bakso #SAPI lagi. Lagian mereka kan cuma jalan politik ae, yang kebenarannya pun hanya Tuhan dan Si Doi yang tahu. Lah kita cuma bisa berdoa saja yang terbaik buat negara kita ini Pan. Lah mau gimana lagi, media-media sekarang sudah termasuk dalam madhzab kambinghitam itu, sudah dibeli partai politik. Ya wajar, nek pas pemilu isine gonjang-ganjing karo iklan-iklan calon presiden. Media saiki sudah seperti sekolah kedinasan pembentuk kearifan nasional, padahal kearifan itu malah terkadang kalo salah mbalik jadi kemunafikan nasional Pan”, kali ini omongan Santun agak serius sedikit.

“Hahaha. . Bener-bener yo mas. Urip iku kudu ati-ati, ati-ati dalam semua hal. Termasuk bagaimana melihat potensi kekisruhan menjadi satu bentuk berita siap pakai”. “Lah emang ono berita sing kudu di jahit sek?”, Santun kaget.

“Haha. . Tanya pada rumput yang bergoyang!!”, penggemar Ebiet G. Ade iku kalo sudah mentok, cuma nyerahin masalahnya buat dijawab kangmasnya, mas Ebiet G. Ade. Padahal, dari dulu sampai sekarang, pernyataan ‘Rumput yang Bergoyang‘ malah menakutkan dan hanya orang gila aja yang tahu jawabannya. *monggodipikir*

Kosong Empat, lebih dua lima

*Adzan Subuh berkumandang*

“Waaaaaaaaah, ternyata wes Subuh lek”, Santun nyeletuk.

“Lah pye?”, “Padahal mau bengi ono Fulham vs MU. Aku kan Manchunian. Ditambah. .”, keringatnya pating ndlewer saking paniknya.
“Nyapo kowe Cuk?”, Sopan menggetir melihat konco sohibnya itu kebingungan.

“Aku sesuk bimbingan karo dosbingku. Flowchart aplikasi, blue print hardware durung tak garap. hehe. . “, “Lah, durung lulus kowe Tun?”, “Durung ki Pan”, Santun menjawab malu-malu ala Wanda Hamidah yang pas kemarin ditanya kenapa pagi-pagi di rumah Raffi.

“Lah terus kapan sidang?”, Sopan mencoba menguatkan sohibnya.

*kemudianhening, “lagi”*

Hanya sekedar obrolan Si Sopan dan Si Santun arek blasteran Suroboyo.🙂
Bandung, 3 Februari 2013

Referensi:

  1. Citizens to Lords: “A Social History of Western Political Thought from Antiquity to the Late Middle Ages”
  2. Pengantar Filsafat Marxis Materialisme Dialektik
  3. Berita angin politik negeri merah-putih

12 thoughts on “BTS, #kotakkotak, #Cicak, #Buaya, #SAPI

Please, give me advice for my articles!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s