Cerita Kecil: Tendangan dari Kaki Slamet


Beberapa pekan ini saya agak sering pulang ke kampung halaman di Pemalang, ya lumayan, meskipun hanya sebentar, tapi setidaknya orang tua gak sms terus gara-gara gak pulang pulang itu. Ya maklum, berhubung jarak yang membatasi antara Bandung-Pemalang, akhirnya pulang menjadi satu kegiatan yang jarang diakukan, mungkin kalo ada mahasiswa ikutan Partai Bang Toyib, saya jadi penampakan terdepan di reklame-reklame pinggir jalan mungkin.πŸ™‚

Seperti biasa, ritual awal pulang kampung, jalan-jalan pake motor keliling desa sambil cengar cengir ala boiben, menjadi kegiatan wajib pembuka pulang kampung. Akhirnya saya putuskan untuk sedikit melewati SD saya dulu, SD N 7 Banyumudal *promosidikit*, yang sekarang sudah bagus banget, gak kayak dulu pas tahun 90an yang masih sederhana, dengan tembok-tembok sekolah berlukiskan β€œcap bola sepak” yang dibuat anak-anak pada waktu jam istirahat, mungkin di dalamnya pun ada lukisan saya juga kali ya. Tapi eh tapi, meskipun sederhana, tidak sekalipun mengurangi kisah romansa cinta ala anak SD, ya apalagi kalo bukan kisah romansa cinta sang monyet-monyet berseragam putih merah yang katanya sampai sekarang selalu malu sama semut merah yang berbaris di dinding. Ah, tapi yang perlu diinget, saya bukan termasuk monyet-monyet di dalamnya ya! ;)Β 

Selain romansa cinta, saya juga teringat masa-masa kecil saya dulu. Kisah-kisah masa kecil saat sepak bola menjadi kegiatan paling keren tingkat sedunia kala itu. Mau hujan, mau lapangan kayak sawah yang baru dibuka, mau gak pake sepatu bola, atau hanya bermodalkan minjem bola tetangga pun sudah saya lakukan. Pun juga sama ketika dahulu bermain kelereng, kartu bergambar atau ngebolang ke kebun the deket rumah. Entah seperti apapun, yang ada cuma happy.

Berbeda dengan sekarang. Jaman saya muda dulu, PS 1 menjadi primadona desa yang tidak setiap orang punya. Kalo diinget-inget, hanya ada satu saja yang punya, akibatnya, bola sepak, takraw, volley, kasti dan beberapa permainan tradisionalpun selalu kami anggap permainan paling josss kala itu. Seperti diatas, mau hujan, atau dengan kondisi yang gak okepun kami tetap main. Teman-teman sekolahpun menjadi teman satu perjuangan permainan yang kalo di inget-inget sekarang, kayak di film-film ada 3 idiots kali ya. Tapi, kalau dulu diinget, ada sekitar 20 orang yang menjadi teman seperjuangan, berarti ntar adanya 20 idiots dong? Ah, lupakan. Yang pasti kita dulu golongan yang benar-benar hajaaaaaar terus tanpa tedeng aling-aling, buat urusan main, terutama main bola di tahun 90an.

Tapi, sekarang berasa beda banget. Teknologi yang menjamah seluruh duniapun mulai mengubah satu persatu permainan itu. Apalagi sekarang teknologi semakin murah dengan seringnya penetrasi model baru yang dikeluarkannya. Akibatnya, bukan mustahil jika di setiap rumah sekarang sudah mempunyai game konsole kayak nintendo, ps1, atau permainan-permainan di PC. Anak-anak sudah sangat jarang keluar rumah untuk bermain dengan tetangga, dengan teman-teman sekolah mereka, games-games konsole dan antek-anteknya menjadi teman setia di rumah, atau bahkan memang sengaja di berikan agar anak-anak tidak pergi ke luar rumah. Tujuannya sih memang terkadang masuk akal, biar tidak terkontaminasi kenakalan-kenakalan remaja diluar, tapi kebanyakan juga dengan alasan seperti itulah yang membuat anak-anak sekarang kurang berminat untuk tatap muka dengan orang lain, tidak peduli dengan lingkungan sekitar, atau menimbulkan sifat individualis yang tinggi. Kalau dibiarkan seperti ini, mungkin Indonesia kedepannya hanya mempunyai generasi rumahan saja kali ya. Yang kalau rumah di pindah ke dalam hutan pun, gak ada yang mau komplain, yang kalau ada rumah terbakar malam-malam, masih milih tidur ketimbang bantu, lah wong gak kenal. *segitunyakaliya?*πŸ™‚

Lo, kok nyambungnya dari kampung ke masalah anak-anak? Gak ada maksud apa-apa kok, cuma sekedar pengen bahas fenomena-fenomena masa kecil yang sudah semakin tenggelam dimakan teknologi. Sampai-sampai shocking sodaaaa ngeliat lapangan yang dulu tempat bercengkerama monyet-monyet putih merah sekarang sudah beralih fungsi dan semakin gersang. Lalu, bagaimana generasi Kaki Slamet sekarang ini? *tanya pada rumput yang bergoyang*

Jauh disana, bagaimana dengan masa kecil teman-teman?πŸ™‚

Pemalang, 10 Februari 2013

50 thoughts on “Cerita Kecil: Tendangan dari Kaki Slamet

  1. bobchopperz says:

    ingatin masa muda ?
    Masa lalu sendiri, masa lalu orang hati-hati. Bisa jadi kecewaπŸ˜€
    tataplah masa depan. Ingat jangan terjebak sama susi yog. hahaha

  2. nengwie says:

    Sama kaya mbak Tintin, kalau SD 90-an berarti emang beda 20 thn lebih kali yaah..hehehe..sudah sepuh kita ini ya mbaakk…:D

    Pemalang? mertua teteh di Pemalang lho… di Petarukan tepatnya.

  3. Fanny Novia says:

    Waktu ga terlalu kejam kejam amat sih Ga…hahaa…kalau aku kecilnya, so pasti imutlah ya *narsis huueeekkss!*, pake poni, mata rada sipit kayak orang bangun tidur…hahahaaa…

    • Triyoga Adi perdana says:

      Eaaaaaaaaaaaak, masih makan pake tangan ya? *ehπŸ™‚

      Maksudnya, bisa saja yang dulu kita sukai baik tempat, orang, apapun, berubah seiring waktu. Kejam kan? Kita mungkin bahkan tidak bisa menyukai sesuatu hingga lama fan.:mrgreen:

  4. tinsyam says:

    tahun 90an masih esde ya.. beda 20 tahun dong kita.. *eh..

    itu saung tempatmu main dulu keren amat.. betah deh pasti kesana..

    bandung-pemalang berapa jam sih naik motor?

    • Triyoga Adi perdana says:

      hahaha. Ketauaan, eh ketahuan maksudnya.πŸ™‚

      Kalo saung pas sd dulu sudah rusak mbak, ini yang difoto kebetulan gak jauh dari yang dulu tempat main.πŸ™‚
      Kalo naek motor, cepet sekitar 5-6 jam an mbak. Lah rumahku sekitar 40km ke selatan, jadi masih sekitar 1jam an lah kalo pulang.:mrgreen:

Please, give me advice for my articles!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s