Shock, Ini Cerpen Adikku!!


Pekan kemarin pulang ke Pemalang disuguhkan dengan cerocosan adikku [yang sekarang kelas 3 SMP. Biar lebih enak, panggil saja dia gembul] masalah cerpen yang dia buat. Katanya sih itu tugas dari Guru Bahasa Indonesianya. Kata Ibu sih, si gembul ini ngerjain cerpen ini dari sore sampe pukul 12 malam. Dan yang buat shock lagi, si cerpen itu panjangnya sekitar 7 halaman, bayangkan 7 halaman dalam waktu cuma sekitar kurang dari 10 jam. Waaaah, amazing deh. Sampai saat ini, saya tu paling gak bisa yang namanya nulis cerpen, mau di kasih alurpun, yang ada hanya stag. Tapi lah ini si gembul ternyata sudah bisa merangkai kata sampe 7  halaman.🙂

Setelah pikir di pikir, gembul bisa nulis kayak gitu itu bukan hasil oplosan dari manapun, bukan karena apapun, tapi karena dulu, waktu pas komputer dikirim dari Bandung-Pemalang saya agak ngusilin dia biar seneng nulis pake tugas-tugas kepo bin ajaib. Hal ini saya lakuin biar dia gak kebanyakan main kalo pas megang komputer.

Syaratnya dia harus nulis diari di komputer satu hari satu kali, mau nulis apa terserah, mau mbahas apa terserah, yang penting lebih dari satu halaman.

Ya gitu tuh, akibatnya tiap kali pulang agenda terpenting itu baca hasil diary dia di komputer. Meskipun isinya curhatan anak SMP, sampe bahas-bahas suju segala, dan pertikaian smp masa kini pun saya baca, ya meskipun gak semuanya sih, ujung-ujungnya saya hanya katakan satu kata, “Bagus mbul”. Dan alhamdulillah, tulisannya dia sudah keep in touch satu hari satu cerita. Dulu awal-awal ngasih tugas gitu sih, cuma ngejanjiin sama si gembul, kalo misal dia gak nulis, ntar komputer bakal di balikin lagi ke bandung. Hehehehe. .  Terpaksa gak terpaksa, yang namanya kebaikan, awalnya pasti harus dipaksakan biar menjadi kebiasaan. Ya gak?🙂

Selain kasih tugas kepo pertama, gara-gara liat dia ngetik cuma pake dua jari doang, akhirnya saya selaku kakak yang baik dan bertanggung jawab akan masa depan gembul, mengajari dia buat ngetik pake sepuluh jari, dari penempatan pencetan jari telunjuk, spasi pake ibu jari, dsb. Akhirnya, hasilnya pun luar biasa, dia sudah mulai terbiasa ngetik pake 10 jari. Hehe. . Gak nyangka ya, awalnya dua tugas itu hanya tugas kepo gara-gara pengen nyemangatin si gembul buat hobby nulis, tapi ternyata gembul bisa berimprovisasi buat nulis versi dia dan sekaligus ngetiknya pake 10 jari. Cerpen hasil buatannya memang masih acak acakan mungkin, tapi setidaknya buat saya sendiri, dengan seumuran kelas 3 SMP yang masih unyu-unyu, itu luar biasa.🙂

Buat saya, kehadiran si gembul ini buat hidup lebih hidup. Belum pernah juga punya pengalaman gimana ngadepin adek cewek, apalagi rewelnya minta ampun, dibilang cute juga gak mirip-mirip amat sama anak-anak seumuran yang ada di tipi, tapi rajinnya minta ampun, sampe gak mau ikutan kegiatan ekstrakurikulier gara-gara gak mau kecapekan dan malamnya gak bisa belajar, sampe gak mau les gara-gara alasan yang sama, malah dibelain nangis-nangis *mata sapi* minta privat, yang kalo pagi-pagi semangat banget belajar dari jam 4. Beda banget sama kakaknya. *nyengirgayaboiben🙂

Okelah, begitu cerita postingan kali ini. Semoga si gembul jadi anak yang sholehah, dan nurut sama masnya #maksadikit. Saya lampirkan juga versi 1.0 cerpen adikku [katanya sih masih banyak yang mau ditambahin kata dia], memang agak panjang nih, sekedar bukti dari yang saya tuliskan. Masih lucu mungkin bahasanya ya? Selamat membaca🙂

Bandung, 25 November 2012


Arti Sebuah Persahabatan

Bel sekolah berdering, tanda berakhirnya kegiatan belajar mengajar. Seluruh siswa keluar dari kelas masing-masing dengan riang dan sesekali bercanda dengan teman-teman mereka. Halaman sekolah menjadi ramai seperti pantai yang penuh dengan pengunjung. Cara mereka pulang juga beragam, ada yang jalan karena rumah mereka dekat, ada yang naik ojeg, dan ada juga yang naik angkutan umum seperti aku. Perkenalkan, namaku Sora, aku duduk dibangku kelas 9, SMP Negeri 1 Javanese. Selepas pulang sekolah aku biasa menaiki mobil yang biasa ku sebut mobil omprengan. Hanya dengan Rp. 500,- aku sudah diantarkan sampai tempat tujuan. Biaya yang murah bagi anak sekolah seperti aku.Hari ini ada yang berbeda, biasanya aku pulang hanya dengan teman-teman yang sedesa denganku, tetapi hari ini aku juga pulang bersama teman-teman baru yang ku kenal setelah aku duduk dibangku SMP kelas 8.Tidak terasa kami telah merasakan bangku kelas 9 selama 3 bulan, rasanya baru kemarin kami naik kelas 8. Kenangan-kenangan semasa kelas 8 masih tertanam kuat dibenak kami. Oleh karena itu, aku sangat senang saat ketiga belas temanku mau untuk main kerumahku hari ini. Aku menganggap ini sebagai reuni kelas 8. Tidak berlama-lama kami langsung bergegas menuju tempat biasa aku menunggu mobil.

Sembari menunggu, kami berduduk-duduk diteras sebuah rumah yang terletak dipinggir jalan. Setelah penantian cukup lama, akhirnya ada mobil yang datang untuk mengantarkan kami ke rumahku yang berada di Simadu. Tanpa berlama-lama, aku langsung naik mobil karena takut sesak. Setelah berada didalam mobil ternyata teman-temaku masih berada diluar “hei, cepat naik!” kataku. “turun saja Sora! mobilnya sudah sesak” sahut salah satu temanku bernama Mailma, akupun langsung  turun dan menghampiri mereka “lihat! Mobilnya sudah sesak seperti itu, kita tunggu mobil lain saja” kata Exsa sambil menunjuk mobilnya “tapi aku takut gak ada mobil, inikan hari Jum’at, supir-supir pada solat Jum’at” “O iya ya. Sudahlah, pasti nanti ada mobil lain” Lilif meyakinkan aku yang sedang gelisah.

Ternyata benar, tidak beberapa lama kemudian ada mobil, dan supir mobil itu menanyai kami “mau pulang kemana?” “Simadu om” jawab teman-teman secara  kompak. Om supir langsung berputar arah dan mengantarkan ke perempatan biasa aku turun. Setelah sampai disana aku segera membayar. Teman-teman menjadi bingung “loh kan belum bayar Sora?” Tanya Zumzum “aku yang bayar, kan aku yang ngajakin kalian ke rumahku” jelasku “terima kasih ya” ucap teman-temanku secara bergantian. “ya, sama-sama” jawabku sambil tersenyum.

“Asalammu’alaikum” ucapku dan teman-teman setelah sampai dirumah “wa’alaikumsalam. Oh ada teman-temannya Sora, mari-mari masuk” ajak ibu dengan senyumannya. “iya bu” seluruh temanku melepas sepatu dan masuk untuk bersalaman dengan ibu, begitu juga denganku. Setelah itu mereka duduk-duduk diteras rumah untuk melepas rasa lelah. Sementara aku langsung berganti pakaian untuk mempersiapkan minuman dan snack.

Setelah semua siap, kami pindah ke ruang tengah untuk mengobrol-ngobrol seputar pengalaman menarik kami dikelas 9 “hei teman-teman, si Aryani pernah pingsan tau” kata Dhifa. Semua anak kaget termasuk aku “yang bener? Aryani pingsan? Hahaha lucu sekali” Exsa tertawa mendengarnya “Emangnya kapan?” Exsa menjadi tertarik dengan cerita Dhifa “kemarin waktu ada lomba menghias tumpeng” “ih, kemarin itu aku lagi pusing banget” sambar Aryani. “Dan lucunya lagi, dia sadarnya waktu kerudungnya mau dibuka, anehkan?” lanjut Dhifa. “pingsan beneran gak tuh?” ledek aku “gak masuk akal banget” semua anak tertawa mendengarnya, termasuk Aryani.

Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB, teman-teman pun berpamitan untuk pulang “Sora, sudah sore nih, kami pulang dulu ya” ujar Imme “oh, ya. Hati-hati ya!” sahutku. “terima kasih ya untuk hidangannya” teman-teman bergantian mengucapkannya “oh iya sama-sama. Santai saja”. Usai berpamitan denganku mereka langsung pulang karena ayah dan ibuku sedang pergi ke Randudongkal.

Setelah mereka pulang aku membereskan ruang tamu yang berantakan. Suasana menjadi berbeda saat mereka pulang, aku menjadi kesepian, jadi aku bermain komputer untuk menghilangkan rasa jenuh. Rasa lelah saat bermain komputer menghampiri, akupun beranjak dari kursi dan menuju ke dapur untuk memberi tahu bahwa aku akan beristirahat pada om ku. “Om, Sora mau tidur dulu ya” ujarku “oh iya” sahut om yang biasa aku panggil om Kodok. Setelah itu aku langsung pergi kekamar lalu aku membaringkan tubuhku di kasur untuk beristirahat agar nanti malam rasa ngantuk tidak menghampiri disela-sela aku belajar, tidak terasa mataku mulai terpejam dan akhirnya tertidur pulas.

****

Hari terasa sangat cepat, baru kemarin hari Jum’at, ternyata ini sudah hari Sabtu. Seperti biasa setiap pagi aku disibukkan untuk menyiapkan hal-hal untuk keperluan sekolah. Akhirnya selesai juga, jam sudah menunjukkan pukul 06.30 dan sekarang waktunya berangkat sekolah “ayah, aku mau berangkat” ujarku sambil berteriak “ya sebentar, sudah jam berapa sih?” balas ayahku. “jam 06.30” kataku sembari melihat jam didapur “cepat sekali sih sudah jam 06.30, ya sebentar ayah mau cuci tangan dulu”.

Sembari menunggu ayah aku berpamitan dengan ibu “Bu, Sora mau berangkat dulu” sambil menghampirinya “oh iya, ada ulangan sayang?” tanyanya “hari ini, gak ada bu” jawabku sambil mencium tangannya. Setelah itu berganti ibu yang menciumku.

Selesai berpamitan, ayah telah siap untuk mengantarkan, akupun segera memakai sepatu “ayo, ayah!” sambil menaiki motor “sudah siap” tanya ayahku memastikan “sudah” jawabku dengan pasti. “Berangkat dulu ya mah, asalammu’alaikum?” sambil membonceng ayah dan siap lepas landas menuju sekolah “ya, wa’alaikumsalam. Hati-hati ya!” “ya” jawabku dari kejauhan.

Semilir angin menerpaku, rasanya benar-benar sejuk, walau masih pagi banyak juga motor yang berlalu lalang di jalan yang cukup lebar. Tidak jarang aku dan ayah berpapasan dengan motor lain. Aku sangat menikmati perjalanan ke sekolah sambil memikirkan hal-hal untuk menjahili teman sebangkuku yang sudah aku anggap sebagai kakak sendiri bernama Exsa.

Exsa merupakan temanku semenjak kelas 8, entah takdir atau bukan kami kembali bertemu dikelas 9 dan kembali duduk bersama. Banyaknya kesamaan diantara kami membuat kami menjadi sahabat dekat walau pertemanan kami baru berlangsung selama 1 tahun lebih.

Tidak terasa sampailah di sekolah, aku turun dari motor dan bersalaman dengan ayah lalu aku segera menuju ke kelas. Diparkiran dekat halaman aku bertemu dengan sahabatku, Dwise namanya. “Ra, katanya teman kamu kecelakaan?” berpikir sejenak “gak tau” aku menjawab pertanyaannya sambil menuju kelas. Aku tidak memperdulikannya karena mungkin Dwise salah orang, semalam tidak ada yang memberi kabar mengenai hal itu kepadaku.

“Asalammu’alaikum” ku ucapkan sambil memasuki kelas “wa’alaikumsalam” jawab teman-teman yang sedang duduk-duduk. Akupun langsung masuk dan berbincang-bincang dengan Naila “kamu PR matematikanya udah semua?” tanyaku kepada Naila “sudah” jawabnya “kamu kurang berapa nomer?” “2 lagi, aku gak tau caranya”. Saat aku sedang berbincang-bincang dengan Naila, terdengar suara langkah kaki yang cepat dari luar, ternyata dia Dhifa, Aryani, dan Lilif, tanpa salam mereka memasuki kelas dengan nafas terengah-engah dan terlihat panik “Sora, katanya Exsa kecelakaan” kata Dhifah.  Aku tidak percaya, mungkin ini hanya jebakan karena aku berulang tahun pada hari Rabu. “beneran, kamu kata siapa?” “katanya si Reni, nih suratnya” dari situ barulah aku percaya apa yang dikatakan oleh Dhifah.

Aku menjadi penasaran penyebab kecelakaannya Exsa yang biasa ku panggil Unie “kenapa bisa kecelakaan sih?” “kemarinkan aku sama yang lain sedang menunggu mobil dari rumahmu, terus ada si Lulun, si Exsa mau ikut, tapi ragu-ragu. Terus kata si Lulun gak papa, eh Exsa ikut deh. Terus mereka kecelakaan di Camping. Kata yang lain si Lulun tuh belum lincah naik motornya” Dhifah menjelaskan secara singkat “ya Allah, kenapa Exsa ikut si? Si Lulun lagi ada-ada aja. Belum lancar ngendarain motor udah gaya nganterin orang lain.” aku sangat kesal “katanya kepalanya sampai bocor” pertegas Dhifa.

Aku menjadi sangat kaget dan amat sedih, yang ada dipikiranku hanyalah “bagaimana keadaan Exsa sekarang?” akupun memeluk Aryani, kesedihanku sudah tidak bisa dibendung lagi akupun menangis dibahu Aryani “Yan, Exsa gimana Yan? Yan, Exsa gimana?” tangisanku menjadi semakin keras. “jangan menagis o, ya sudah nanti kita jenguk dia. Sudah kamu jangan menangis Sora, sekarang kamu duduk ya” Aryani mencoba menenangkan aku dan mengantarku menuju tempat duduk. Dia juga berada disampingku. Aku tidak perduli jika dikatakan lebay oleh teman-teman, tapi yang jelas aku sangat sedih. Kalau saja si Lulun hari ini berangkat, mungkin aku bisa melakukan aksi nekat seperti menamparnya karena dia telah membahayakan nyawa orang lain.

Satu persatu temanku datang dan bergerombol juga bertanya-tanya “Sora si kenapa?” tanya di Mailma yang baru berangkat “Exsa kecelakaan” “astagfirullahal’adzim, kapan?” Mailma kaget “kemarin, pulang dari rumah Sora”.

Setelah tahu penyebab aku menangis mereka langsung mendekat “sudah Sora, jangan menangis lagi, Exsa pasti akan baik-baik saja” Mailma mencoba menenangkan disusul pula oleh Naila yang berbisik-bisik di telingaku “Sora, dengarkan! Kamu jangan menangis lagi, kasihan Exsa kalau ditangisin, nanti dia tidak tenang dirumah, sudah kamu tenang saja” karena semangat dari mereka akupun berhenti menangis.

Tanpa sadar aku lupa bahwa PR matematika ada yang belum ku kerjakan karena tidak tahu cara mengerjakannya. Akupun membuka LKS matematika dan bertanya kepada Nairul teman sebangku Mailma “Rul, ini sih caranya bagaimana?” aku menyodorkan bukuku “oh ini, begini nih” Nairul menjelaskannya padaku dengan jelas. Lalu ada Dhifa didepanku yang melihat salah satu dari jawabanku salah, akhirnya dia menjelaskan caranya, karena aku sedang tidak konsentrasi aku tidak memahami yang dia jelaskan “Ya Allah Sora, fokus dulu kepelajaran!” “iya iya” jawabku dengan senyuman.

Bel tanda masuk berbunyi, aku segera kembali kebangkuku dan melaksanakan tadarus selama 10 menit. Selesai tadarus pak guru Matematikaku yang bernama Bapak Toni sudah berada dimeja guru “ada PR ya?” “iya pak” seluruh siswa menjawab secara serempak. “ayo kita cocokkan!” pak Toni mengajak untuk mencocokkan PR bersama-sama.

****

Akhirnya bel pulang sekolah berbunyi, aku segera pulang untuk menceritakan berita buruk ini kepada keluargaku yang sudah mengenal Exsa.

“Asalamu’alaikum” “wa’alaikumsalam” jawab ayah seorang diri dari depan televisi. Aku langsung menghampirinya dan menceritakan hal yang menyedihkan ini “yah, Exsa kecelakaan” “Exsa Walangsanga?” ayah kaget “iya, kemarin katanya pulang dari sini mbonceng si Lulun, tapi Lulunnya belum lincah naik motornya, terus kecelakaan di Camping” jelasku “sekarang Exsanya dimana?” tanya ayah dengan penasaran “dirumah. Katanya kepalanya sampai bocor yah.” “hus ngawur, gak mungkin ah. Kalau kepalanya bocor mati oh. Cuma lecet kali” pertegas ayahku. Aku kembali menangis dihadapan ayah karena kesedihanku menghampiri lagi.

****

Tidak beberapa lama om pulang disusul kepulangan ibu dari SD, aku juga menceritakan hal yang sama dengan mereka. Ibuku merasa kasihan kepada Exsa dan berjanji padaku untuk menjenguknya Minggu sore.

Akhirnya tibalah waktunya, rasa penasaranku sebentar lagi terjawab, bersama ayah aku menuju kerumah Exsa. Sampai disana aku langsung masuk sedangkan ayah pergi menjemput ibuku.

“Assalammu’alaikum” ucapku sambil memasuki rumah Exsa, Exsapun menjawab dengan lemas “wa’alaikumsalam”. Mengetahui bahwa ada teman Exsa yang menjenguk ibu Exsa langsung keluar. Aku langsung bersalaman dengan ibunya lalu kembali duduk untuk bertanya-tanya kepada Exsa. “unie, ceritanya gimana sih kok bisa sampai kecelakaan?” tanyaku sambil penasaran “ya kan secara ada teman kita yang sedesa, kan pasti kalau kita diajak maulah, secara biar ngirit ongkos juga. Jadinya akukan ikut, eh gak taunya kecelakaan” “lah kok bisa?” aku menjadi semakin penasaran “waktu pulang kita lewat Camping, kan dia katanya mau ketemuan sama” “pacarnya” aku mencoba menebak “iya. Lah aku menyesal nih ikut kamu, gak papa kok cuma sebentar, kayak gitu katanya tapi katanya gak papa, sebentar juga kok katanya gitu, lah waktu di jalan yang menurun itu aku merasa kalau dia ngebut banget, dan waktu itu didepan ada motor pespa. Orang itu juga udah ngerasa kalau Lulun mau nabrak,, jadi dia menghindar Lulun juga menghindar tapi ada lubang. Terus aku sudah gak sadarkan diri lagi setelah itu. Katanya aku dibopong sama orang yang naik pespa itu ke rumah sakit” Exsa menjelaskan padaku dari awal hingga akhir. “oh iya, orang yag pake pespa itu temennya om Kodox, dia cerita sama om” perjelas aku. Sekarang aku mengerti kejadian sebenarnya. Dan sekarang aku merasa lega karena keadaan Exsa tidak seperti yang aku bayangkan.

Untuk menghibur Exsa aku menceritakan kejadian menarik waktu disekolah “eh, tadi aku ngerjain kembaranmu” dikelas aku ada 2 orang yang bernama Exsa “gimana?” jawab Exsa “tadikan bahasa Indonesia suruh nulis, si Exsa pindah kebangku unie, terus aku sama si Eyun ngerjain dia bilang kalo aku punya kembaran. Ituloh Baro BIA4, dan lucunya lagi dia percaya” mencengar ucapapanku Exsa tertawa sambil menahan rasa sakit dikepalanya karena harus dijahit “terus gimana?” Tanya Exsa. “ya dia minta ditauin fotonya Baro, aduh berarti aku harus download fotonya Baro nih” jawabku.

Lama mengobrol, tidak terasa waktu menunjukkan jam 5 sore, ibu dan ayah berpamitan dahulu, jadi aku melanjutkan berbincang-bincang dengan Exsa “eh, aku punya video gangnam style nih. unie mau minta gak?” aku menawarkan video clip dari PSY “ya deh” sembari mengangguk “udah diaktifin bluetoothnya?” “bentar” selesai mengirim gangnam style aku menawarkan video yang lain “nie aku juga punya Sherlock lagu barunya SHINEE dan aitakatta buat lomba girls band nanti” “ya udah, kirimin semua!” “hu, enak ya hidupmu” kataku sambil tersenyum bersama dengan Exsa. Setelah semua terkirim, ayah datang, aku langsung berpamitan dengan keluarga Exsa dan pulang.

****

Keesokan harinya aku menceritakan kejadian yang sebenarnya pada teman-teman. Mereka sangat fokus saat aku menceritakannya. Mereka juga merasa lega setelah tau keadaan Exsa.

 Sedangkan Exsa sendiri belum berangkat ke sekolah sebab kondisinyas belum pulih, karena hal itu aku merasa sangat kesepian. Biasanyakan ada Exsa disampingku, sesekali kami bergurau saat menerima pelajaran dari guru. Tapi hari ini bangku sebelahku hanya ada tasku yang tidak bisa aku ajak berbicara. Keesokan harinya juga sama, aku duduk sendiri lagi. Mungkin hari Rabu Exsa baru berangkat.

****

Keesokan harinya setelah aku sampai sekolah “asalamm’alaikum?” “wa’alaikumsalam” jawab seluruh temanku. “Sora, Exsa berangkat tuh” ucap Naila. Sungguh senangnya, aku tidak kesepian lagi. “ye Unie berangkat, asik!” aku langsung menaruh tas dengan sangat girang. Melihat tingkah lakuku teman-temanpun tertawa “Sora, kemarin kamu menangis sampai terdengar di kelas 9B?” kata Lina “hah beneran. kamu kata siapa?” aku malu mendengarnya “kemarin aku berangkat lewat sana, terus aku mendengar ada orang menangis, eh ternyata kamu. Hahaha” “tapi, anak-anak kelas B gak tau kalo aku yang nangiskan?” tanyaku panik “gak tau, tapi denger juga kali” jelas Lina  sembari tersenyum.

Sekarang aku tahu arti sebuah persahabatan, kita saling membutuhkan satu sama lain. Disaat satu sahabat tidak hadir saja rasanya sudah kesepian. Di dunia ini boleh ada mantan pacar atau mantan suami, tapi menurutku tidak ada yang namanya mantan sahabat.

by: [Arba Monita Budiani]

 

156 thoughts on “Shock, Ini Cerpen Adikku!!

  1. Eni Hariani says:

    Membaca postingan Mas Yoga ini membuatku teringat saat-saat aku belajar mengenal komputer. Dan benar, setiap buka komputer pengennya main gameee mulu. Tapi Mas-ku pinter. Dia pake 1001 macam cara buat ngurangin keinginanku main game di komputer. Hehehe. Btw, cerpen adeknya Mas Yoga ini bagus banget. Khas anak SMP betul. Oh ya, nanti mampir di blogku ya Mas Yoga http://enihariani.blogspot.com. Yaa walaupun isinya sedikit, mungkin bisa membantu adeknya Mas Yog berkarya dalam dunia tulis-menulis🙂

  2. jenkna says:

    oh dari pemalang ya? dulu aku KKN di desa belik kecamatan belik, wah super dingin tapi bagus banget alamnya. semangat ade’nya bagus tuh apalagi difasilitasi kakanya yang kepo tapi keren (ehm ) hahaha..dulu jamanku seumuran itu gak dapet bimbingan sama sekali..jadi seneng deh liat ada kakak yang bae ama adenya hehe. salam kenal🙂

  3. viennays says:

    WAAAAAH keren nih adeknya, hebat.. Tapi salut juga nih sama masnya, gara-gara dikasi tugas gitu, dari terpaksa jadi terbiasa. Lah kakaknya aku, boro-boro perhatian gitu sama adeknya. Salam yah buat si gembul😀

    • Triyoga Adi perdana says:

      Waaaaaaaaah, neng asmirandah. Gimana kabar?

      Hehehe. Saya juga bingung sama si gembul. Padahal awalnya ya gitu-gitu aja tugasnya vien. Tapi alhamdulillah bisa di modifikasi sama dia. Doanya aja vien, sekarang mah tinggal sering-sering dikasih buku dia buat nambah kosa kata bahan tulisan. Ada saran gak, novel yang pas buat seumuran SMP?

  4. puchsukahujan says:

    busyet, panjang amat….
    saya bacanya lain kali saja lah… kalau ingat dan kalau sempet,
    maaf ya dek gembul, tapi saya salut anak SMP udah bisa bikin cerpen sepanjang ini hanya dalam waktu sehari saja🙂

    • Triyoga Adi perdana says:

      Lah ini udah bikin mas. Hehehe. .
      Tinggal diistiqomahin buat nulis dan blogwalking biar bisa nambah temen.🙂

      Kalo bener-bener serius, giatin nulis dulu mas, ntar masalah biar banyak yang berkunjung, ku bantu deh, biar nambah semangat juga. Hehe
      Pye mas?🙂

  5. izzawa says:

    adiknya pasti bangga banget punya kayak kamu yoga…🙂
    kelak kalo dia jadi penulis terkenal, pasti ada nama kamu sebagai orang yang pada awalnya memotivasi dia buat nulis..
    cerpennya aku save ya,,ntar dibaca🙂

  6. mintarsih28 says:

    hari ini aku posting refleksi pembelajaran menulis cerpen.
    kalau boleh aku menilai. dlm menulis cerpen. sudut pandang harus digunakan secara konsisten, juga dipilih krn ketepatan konflik yg akan ditampilkan.
    untuk teks dialog bila pergantian tokoh tulislah dalam paragraf baru.

      • violetcactus says:

        keren tuh cerpennya, bisa menghhibur saya hari ini… adiknya bisa membuat cerita sepanjang ini tanpa pakai tulisan alay, salut!

        yang bikin saya agak bingung, pemainnya banyak banget, teman-temannya Sora itu lo, yang diajak ngomong orangnya ganti-ganti terus…😉 => tapi mungkin ini malah menjadi keunikan cerita ini sesuai judul dan temanya yang tentang persahabatan🙂

        kalo ditekuni, sangat mungkin gembul, eh, Arba nantinya jadi penulis hebat, semoga😉

      • Triyoga Adi perdana says:

        kalo masalah alay ya otomatis sih kayaknya, soalnya ini kan jadi tugas bahasa indonesia. Bisa dimarahin guru kalo gitu.🙂

        Yaaaaaaaah, terlalu banyak setting juga kayaknya ya? hehe

        Amiiiin. Mohon doanya ya.
        Lumayan kan, ntar masnya ikut nebeng nama dibukunya dia.:mrgreen:

  7. Ry says:

    Belum tak baca,,,hehehhe
    Nanti ya Ga *mlipir pergi sambil garuk-garuk tangan yg kapalan

    Adekmu hebaaat !! Kakaknya……
    hmmmm, kasih tau nggak ya :p

  8. 박희린 justRIN says:

    hhaha.. Punya kakak dikit keppo, tapi perhatian tuh. Jadi envy nih sama gembul :p
    Mas aku juga keppo tapi kalo ketauan sama aku, langsung jitak :p *adik durhaka
    Lah yang di keppo in itu isi sms *curcol

  9. lea says:

    gembul??itu kan julukanku mas…apakaaahhhh,apakaaaahhh kau kakakku yg lama telah hilang??? *sinetron indosiar*
    btw, adeknya udh jago bikin cerita. setidaknya sudah cukup bagus utk usia seperti si gembul. Salam buat gembul kecil dari gembul besar ya mas😀

    • Triyoga Adi perdana says:

      Beneran mbak? Atau jangan-jangan kau adikku dulu yang ilang pas ibuku melahirkan? *keluar efek asep🙂

      Alhamdulillah mbak, kemarin sempet tak kasih ebook-ebook nulis gitu tuh, moga-moga bisa bermanfaat buat dia.:mrgreen:

  10. tuaffi says:

    wew.. panjang sekali, hehe.. Si gembul pandai berimajinasi ya.. Ceritanya kayak hidup sehari- hari gitulah. Saya jadi seperti baca cerpen sendiri waktu smp. Hehe.. Meskipun kalah sama gembul lah, saya baru maks 4 halaman.😀

Please, give me advice for my articles!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s