Generasi Dua Jempol


#warungwalking | Lokasi: Black Romantic | Samping ITB [16/9]

Hari ini warung walking lagi, tapi yang agak anak muda-an banget, black romantic. Lumayan, banyak makanan aneh-aneh yang belum pernah ada di warung walking pertama, ataupun warung walking angkringan. haha. Ya jelas lah!

Suasananya pun ya sama aja kayak warung biasa. Tapi lumayan enak buat ngilangin stress gara-gara TA gak dikerjain-kerjain. Haha. . [Yang gak dikerjain aja udah stress, apalagi dikerjain? *nyetel musik kenceng-kenceng]. Topik hari ini gak jauh-jauh sama yang namanya social media. Banyak liat anak muda banget jadi emang lebih hot kalo bahasannya dunia anak muda -yang sekarang udah dianggap kritis menurut saya, apalagi kalo bukan dunia social media. Saya sebut objek tersebut sebagai satu generasi, Generasi Dua Jempol (GDJ).

dokterpun sekarang bukan mainan stetoskop, tapi twitteranπŸ˜€

Kalau berbicara tentang GDJ, satu hal yang pasti berkaitan dengan generasi itu, tiada lain, tiada kata ya social media. Mau gimana lagi, kalo udah ada handphone ditangan, generasi itu ada beberapa ciri khas dan yang pasti semua berhubungan dengan jempol. Mau tarian jempol gaya rica-rica, mau jempol bergoyang ala reggae, mau jempol keriting gaya dude herlino, ah, saking banyaknya sampe jempol jadi satu trademark mereka sendiri kalo pergi-pergi. Tak tahu. .

Generasi yang satu ini, biasanya sifatnya menyendiri, atau autis sendiri tak karuan kalo sudah pegang hape. Kalo hape gak di tangan satu jam saja [*saya penggemar berat charly –sensor], rasanya mungkin kayak keluar angkasa pake balon gede, jatuhnya bukan di ladang gandum, tapi di ladang-ladang tak bergoyang. Ah, yang pasti kayaknya sih kalo udah masuk dalam kasta dinasti dua jempol, tiada menit terbuang tanpa pegang handphone ditangan dan cek cek maricek status, atau gosip ala BBM, tweet, facebook dan lain sebagainya. β€œBanyak cara sekarang, dari sesama teman, keluarga buat saling cuap-cuap, ya asalkan masih dalam dunia persohib-jempolisme semua silaturahmi terus lancar”, tutur sang pencari jempol.

teknik sipil, ngukurnya bukan bangunan lagi, tapi ngukur jumlah follower. Beuhh. .

Selanjutnya, generasi yang satu ini tuh, biasanya jadi gak ngeh kalo disebelahnya ada orang lain bahkan manusia lain. Yang ada dipikirannya ya tweet-status-update-retweet, emm gitu doang kali ya. Ada orang bertiga, dan yang satu lumayan masuk generasi DJ itu, pas kedua temennya ngobrol, dia ketawa-ketiwi sendiri sama GDJ yang lain, pas ikutan nguping temennya berdua ngobrol, tiba-tiba dia tanya, β€œLoh, kalian masih disini yak?”. Wadeziiiiiiiiiiiig!! Grrrrrrrrrrr *tepokjidatpakRT

Itulah anak muda-mudi jaman sekarang. Silaturahminya cuma lewat hape saja, padahal bagi saya silaturahmi itu punya berbagai makna. Yang pasti bertatap muka langsung pasti timbul kehangatan tersendiri, bukan hanya kehangatan menyendiri. Apalagi diduakan gara-gara socmed, wadalahhhhh gak enaknya cuma bikin tidur tapi beralaskan paku. Gak enak toh? hehe. . Kegilaan ini emang lumrah menurut saya, mengingat kedepan mungkin bisa lebih gila [canggih] lagi. Entahlah, yang pasti melihat kebudayaan yang berbeda dari generasi berbeda membuat kita kaya terhadap cara memandang masing-masing generasi dari tahun ke tahun.

teknik mesin, bukan ngoprek mesin di bengkel, tapi ngoprek hubungan asmara X dengan Y. Wayaaay

Tapi gini, kalo saya lihat, GDJ itu, –saya iyain juga dari masbro Sudjiwo Tejo pada hakekatnya merupakan generasi yang kreatif, keren, inovatif. Bayangkan saja, sekarang ya mau gimana lagi, lah wong sekarang jempol udah gak bisa di umbar lagi. Bayangkan, mau ngasih jempol ke presiden, kayaknya gak pantas, mau kasih jempol ke aparat juga kayaknya gak pantas, mau kasih jempol ke pak polisi, pejabat pemerintah, pegawai kecamatan, ya kayaknya juga udah gak pantas. Sekarang, yang paling cocok mending nge-gosip aja kasih kasih jempol di socmed, penghargaan jempolisme menjadi satu bentuk apresiasi yang lebih kalau berbicara mengenai karya. Sebut saja tulisan, pemikiran, surat terbuka, atau rekam jejak nya para persohib-jempolisme yang masih yahuuud, masih renyah untuk dibaca. Kalau gini, berarti gak salah kan, jempol kita dilatih, buat yang oke oke saja. Yah, semua terserah temen-temen pembaca semua dah. Yang pasti, gunakan jempol buat yang baik-baik, karena kalo buat yang gak baik, bisa jadi jempol kita gede sebelah, atau mungkin jadi panjang ala pinokio. Mau?

Inilah realitas jaman sekarang, mau berbicara fakta, mau mensyukuri atau menganggap ini sebagai satu masalah, tiap orang juga punya pendapatnya masing-masing!! Bersyukur kita masih bisa berkarya, mau pake cara apapun, social media juga gampang kok diubah jadi tabungan pahala. Ya gak? #Kalo berkenan, kasih jempolnya ya. [hehehehe]

Spesial thanks pake telor buat model-model diatas, semua model saya ambil dari Semarang [kaline banjir]πŸ˜€

Bandung, 17 September 2012

162 thoughts on “Generasi Dua Jempol

  1. Citra W. Hapsari says:

    Socmeb not Silmed,..social media not silaturahim media,.. dimana jempol sudah bermakna,hahaa

    nah,bagus itu,..socmed yang lebih bermanfaat,..dari pada sekedar narsis en sok eksis,ato stalking n walking2…mending buat saling mengingatkan dan menghibur…

    hayooo,hibur aya *nodong*

    • Triyoga Adi perdana says:

      Betul betul, tapi untuk konsumeritas [*opo iki] konsumen sekarang sudah parah. Menggunakan socmed hanya untuk kata kata saja. Ya gak salah sih, tapi agak kurang tepat. hihiπŸ˜€

      semuanya berujung pemaksimalan dua jempol, dua mata tertuju ke layar, sambil cengar cengir gak jelas, kanan kiri tak pernah dianggap ada. nahhhhhhhhh ini nih yang bahaya.:mrgreen:

  2. HNDRNRKHLS. says:

    ” Tapi lumayan enak buat ngilangin stress gara-gara TA gak dikerjain-kerjain. Haha. . [Yang gak dikerjain aja udah stress, apalagi dikerjain? *nyetel musik kenceng-kenceng].”

    gw banget nih LOL

  3. ahsinsidqi says:

    tapi sesekali jadi GDJ jg gpp Mas, kl lagi kepepet,.
    misal sedang terjebak diantara dua orang aneh yang ngobrolin topik yang kita g ngeh sama sekali,.
    daripada nimbrung tapi g nyambung, Mending membelai keypad,.. . πŸ˜›

  4. kangyaannn says:

    dari penglihatan saya di pinggir jalan depan tempat kerja… banyak juga “GDJ” di sini…. pernah seorang remaja putri saking asyiknya menggunakan dua jempolnya berujung di puskesmas..

  5. mintarsih28 says:

    itu tandanya jari jempol memang oke, luwes buat apa bisa. mau minarakkeh tamu bisa, mau muji bisa. gak nyambung ya.
    memang setiap sarana hidup selalu punya dampak. tetapi itu semua tinggal kita yang mainkan senjata itu ga.

  6. odex1987 says:

    betewe, paragraf dua di atas sono mengandung 1 pertanyaan dalam benak saya “berapakah usia mablo Yoga?”
    *uuuupppssssss*
    *bekapmulutrapat2sebelumdiseblakkebandung*πŸ˜›

    GDJ ini sebenarnya mendatangkan keuntungan looooh. Coba cermati kebanyakan salon d wilayah anda, pasti deh ada 1 atau 2 yang menyediakan rebonding jari,xixixixi

  7. neniinoy says:

    bener, ga bagus sikap kaya gitu, bikin yg disebelahnya ga nyaman bgt mending gada sekalian.. emang sih GDJ bisa jadi uptodate banget soal berita yang ada, dari berita politik sampai yang ga penting, apalagi soal ‘gosip’ -_-”
    untungnya neni ga punya hape bagus jd ga bisa GDJ, dan alhamdulillah bisa bersilaturahmi secara langsungπŸ˜€

Please, give me advice for my articles!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s