Rejuvenasi Pemuda: Redefinisi Regenerasi


***

Jika membicarakan tentang pemuda, kiranya semua sepakat tentang masalah dekadensi moral yang menjangkit pemuda-pemuda yang ada di Indonesia. Kaitan antara pemuda, politik dan masa depan bangsa menjadi topik terhangat yang diangkat oleh semua kalangan. Kehadiran pemuda, menjadi satu paket regenerasi apabila dikaitkan dengan semua bidang kehidupan yang ada.

Jika kita lihat mengenai kontribusi pemuda, pasti tidak akan lepas dari peristiwa reformasi. Pergerakan pemuda kala itu menjadi sebuah potret tersendiri, apalagi jika dikaitkan dengan idealisme terstruktur. Sepak terjang pemuda menghadirkan satu harapan tersendiri bagi celotehan-celotehan masyarakat yang sempat mampet di masa pra reformasi. Pemuda, dengan segala bentuk karakternya menjadi buah bibir, apalagi jika kita lihat pengejawantahan makna sumpah pemuda beberapa tahun silam semakin menguatkan bahwa keberadaan pemuda membentuk arah suatu bangsa.

 

Jika dilihat dalam UU No. 40 tahun 2009, yang dimaksud pemuda adalah yang berusia antara 16-30 tahun, atau dapat dikategorikan golongan usia produktif. Itu artinya jika kita ambil masa produktif yang ada di Indonesia, SMA pun sudah dapat dikatakan produktif. Produktif bermakna menghasilkan, menghasilkan bermakna telah mempunyai kapabilitas/kemampuan. [catet dulu ya!! Hehe]

Makna kapabilitas, seringkali digunakan sebagai satu bentuk acuan yang digunakan oleh masyarakat untuk beralih kepada kata “siap”. Jika ditinjau lebih jauh, siap dalam konteks regenerasi pimpinan, nyatanya saat ini semakin digaungkan oleh semua orang untuk membentuk kelas pemerintah yang baik. Tak heran jika seringkali kita jumpai slogan young on top (YOT), yang menegaskan bahwa sudah saatnya kaum muda yang berada diatas/pimpinan. Kurang baiknya visi dan misi menjadi satu alasan mengapa seringkali masyarakat menganggap adanya stagnansi yang terjadi karena kurangnya YOT pada pemerintahan sekarang.

Idealisme pemuda pada jaman reformasi serta gerakan pemuda pada masa pergerakan nasional menjadi satu alasan mengapa masyarakat menginginkan hal tersebut disamping adanya apatisme yang timbul akibat kurangmampunya pemerintah memenuhi harapan masyarakat.

Kemunculan politisi muda seperti yang diharapkan oleh masyarakat di atas kiranya menjadi satu harapan agar bisa membenahi pemerintah yang ada sekarang. Visi dan misi yang segar dan diharapkan dapat membawa satu harapan yang merubah pemerintah menuju kualitas yang lebih baik. Namun, dalam kenyataannya ada satu fakta menarik sekaligus cukup miris jika kita lihat.

Dalam salah satu survei LSI dilakukan pada September 2011 dengan 1200 responden di 33 provinsi tentang kualitas politisi muda dan tua menghasilkan data bahwa politisi muda[1] ternyata lebih buruk dibanding seniornya. Tercatat, hanya 15,4 persen responden menganggap politisi muda lebih baik dibanding seniornya, sedangkan 23,8 persen menganggap politisi senior lebih baik dibanding politisi muda dan 37,6 persen menganggap politisi muda sama saja, dan hanya melanjutkan keburukan politisi seniornya[2].

Data diatas sekaligus menampik harapan masyarakat tentang bagaimana kualitas pemuda saat ini yang diharapkan berada di level pemerintah. Titel dan tingginya jenjang pendidikan tidak disertai dengan kualitas diri/integritas yang ada di dalam diri pemuda. Akibatnya, sekarang Indonesia tidak banyak dihuni oleh kualitas para pemuda yang bergerak pada masa terjadinya pergerakan nasional seperti terbentuknya Budi Utomo 1908 (digerakkan oleh K.H. Dewantara (20 tahun), Tjipto Mangunkusumo (22 tahun), dan Dr Soetomo (20 tahun)), Sumpah Pemuda 1928 (digerakkan politisi muda seperti Sugondo Djojopuspito (24 tahun), Muhamad Yamin (25 tahun).

Pembinaan moral yang ada pada jenjang pendidikan ternodai dengan keadaan pemuda saat ini. Nilai yang baik dan sempurna, jauh diutamakan oleh pendidik tanpa memandang kualitas moral dan akhlak. Banyak kita jumpai bagaimana legalisasi ketidakjujuran mewarnai di beberapa sekolah guna meluluskan siswa/i nya ketika Ujian Nasional. Ini saya anggap menjadi satu training kecil-kecilan untuk menjadi ahli korupsi yang handal. Pendidikan yang harusnya menjadi kawah candradimuka bagi kualitas pemuda nantinya sudah jauh dari kata mampu. Guru yang berasal dari kata “digugu lan ditiru [3], menjadi satu kata baru, “gak usah digugu dan gak usah ditiru”.

Selain hal tersebut, keadaan Indonesia yang masih berada pada status negara berkembang menjadikan Indonesia menjadi negara yang berada ditengah-tengah kebingungan. Arus globalisasi yang ada, membuat masyarakat menyerap kebudayaan-kebudayaan luar untuk diterapkan di Indonesia. Akibatnya, tak tanggung-tanggung, kebudayaan masyarakat Indonesia yang ketimuran, sekarang sudah dipenuhi dengan pemikiran-pemikiran barat. Hedonisme sekarang menjadi satu hal yang dianggap lumrah[4], belum lagi kemunculan band-band bergaya rapi, modis, rambut berwarna-warni dengan berbagai model ditambah lirik yang sarat dengan tema galau, percintaan, perselingkuhan, putus cinta membuat Indonesia sekarang dipenuhi dengan kualitas pemuda yang lemah bukan pemuda bermental tempur. Sangat sesuai dengan perkataan JF. Kennedy yang pernah mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kerusakan moral generasi muda Amerika, ”Andai mereka disuruh berperang, hanya ada 1 dari 7 pemuda yang berani menghadapi musuh”. Dan itu ada pada Indonesia saat ini. Benar-benar globalisasi yang westernisasi terus menerus menggerus mental pemuda nasionalis.

Jika diamati, kebutuhan akan pemuda sebagai penerus masa depan sangat didambakan oleh masyarakat Indonesia. Tetapi kenyataannya, hanya sebagian orang yang memikirkan bagaimana cara untuk mewujudkan hal tersebut. Masyarakat hanya mau menjadi penonton, bukan sebagai pelaku dari perubahan yang ada. Oleh sebab itu, orang tua lah yang harus menjadi satu palang pintu yang berfungsi untuk membenahi pemuda dari lingkup kecil, yang diharapkan menjadi satu bekal bagi kualitas para pemuda disekitarnya.

Rejuvenasi dapat diibaratkan seperti proses pemudaan kembali visi misi seseorang sehingga mengalami satu proses penyegaran/pemudaan kembali. Jika dikaitkan dengan regenerasi, rejuvinasi mempunyai arti yang berbeda. Mungkin kita dapat memahami bahwa regenerasi lebih cenderung menekankan pada penyegaran/pemudaan kembali secara fisik, generasi yang tua diganti dengan yang muda. Tapi, rejuvenasi sendiri tidak semata-mata dipahami dalam lingkup fisik saja, tetapi juga berpengaruh terhadap pergantian pola-pikir, kemampuan atau pandangan seseorang dari yang lama berganti dengan yang baru.

Dengan adanya rejuvinasi, kiranya kita harus mempersiapkan pemuda untuk berada pada jenjang yang lebih baik. Pemuda calon masa depan dimeriahkan dengan para pemuda yang mempunyai moralitas yang baik dibarengi dengan kapabilitas yang tinggi. Pembenahan dari lingkup kecil(keluarga), perbaikan di sisi kualitas moral pendidik(yang tidak terbatas pada guru/jenjang sekolah saja), pembentukan filter pembatas lingkup globalisasi yang modernisasi bukan westernisasi kiranya dapat membentuk mental pemuda menjadi mental baja, bukan pemuda yang bermental lemah. Jika kita menginkan pemerintah Indonesia yang baik 20 tahun mendatang (asumsi kaum muda kala itu berkisar antara 40-50 tahun) maka yang harus dibenahi adalah kualitas pemuda yang sekarang berkisar antara 20-30 tahun. Begitu juga dengan 50 tahun mendatang.

Pembentukan masterplan Indonesia yang biasanya berkisar berpuluh-puluh tahun kedepan harus mempunyai proyeksi persiapan calon-calon individu yang mapan. Kemapanan pemuda sekarang setidaknya bisa membawa kemajuan di bidang-bidang kepemudaan termasuk politik bahkan hukum yang nantinya dapat membentuk pemerintah yang lebih baik.

Rejuvinasi pemuda menjadi suatu harga mati mengenai krisis identitas pemuda saat ini. Regenerasi yang bukan hanya regenerasi mengingatkan kita bahwa saat ini Indonesia bukan hanya membutuhkan orang yang pintar, tetapi “pinter tur bener” [5]. Pemutakhiran kualitas pemuda menuju revolusi 1800 menuju pemuda pergerakan Indonesia jaman dahulu harus dilakukan untuk menumbuhkan bibit-bibit terbaik yang dapat ditumbuhkan guna menaungi dan mewujudkan harapan seluruh masyarakat Indonesia. Dengan kepala tegak, mari bersatu dan bersama-sama kita bangun optimisme diatas sebuah harapan.

Notes:

[1] Definisi politisi muda menurut LSI adalah anggota atau pengurus partai politik (parpol) atau organisasi masyarakat yang berusia di bawah 50 tahun. Hal ini dikarenakan lantaran jarang ada politisi berusia di bawah 40 tahun yang menduduki jabatan strategis di partai
[2] Keterangan lebih lanjut dapat dilihat di
http://www.suarapembaruan.com/home/survei-lsi-masyarakat-kecewa-pada-sepak-terjang-politisi-muda/12994
[3] Diperhatikan dan dicontoh, peribahasa Jawa.
[4] Biasa.
[5] Peribahasa Jawa: Orang yang pintar tetapi juga benar pikirannya, moralnya.

***

Artikel ini diikutkan dalam lomba formanu unair, tapi belum diberikan kesempatan oleh Allah untuk menang. Dari pada terus sedih memikirkan hilangnya kesempatan, saya share disini aja deh. Semoga bermanfaat bagi pembaca semua dan bisa mendapatkan masukan berkaitan dengan rejuvenasi politik yang di sempitkan lagi terhadap politikus muda dan regenerasi pemuda sebagai agent of change masa depan. Hehehe. .

Ada komentar bagaimana tentang politisi muda saat ini? Silahkan.

27 thoughts on “Rejuvenasi Pemuda: Redefinisi Regenerasi

  1. Fanny Novia says:

    lumayan ga ngerti aku masalah ginian Yoga…yang paling aku setuju itu adalh pemuda harus punya rasa idealisme yang tinggi…dan wajar rasanya pemuda punya idealisme, namun masalahnya seberapa kuat pemuda mampu mempertahankan rasa idealisme itu di tengah bobroknya perilaku dan adab manusia..

    jangan sampai mudanya idealisme, tuanya malah jadi biang kerok korupsi dan tindakan tidak terpuji lainnya…:-)

    • Triyoga Adi perdana says:

      Nah itu dia fan. Sekarang idelisme cuma ada pas mahasiswa aja deh. Setelah keluar, malah kadang ikut2an gak jelas. Lingkungan juga maksa mereka untuk keluar dari idealisme mereka. Paraaaaaaaaah, udah bobrok banget deh.😀

      Moga kita gak termausk fan.😀

  2. neniinoy says:

    semangatt dan terus berjuang pemuda indonesia..
    kata pa soekarno jg : “beri saya 10 pemuda untuk membangkitkan negeri ini”, begitu maha dasyatnya pemuda..
    tp skrg realistis pemuda skrg banyak mau yang instan sedikit yang berjuang -_-“

    • Triyoga Adi perdana says:

      Nah itu, kayaknya semangat nasionalisme sekarang udah luntur, ditambah banyaknya masuk budaya luar yang diserap tanpa filter dulu. Akibatnya ya gitu deh. Pemuda yang bermental lemah.
      Ahh, moga kita gak seperti itu.
      Ganbatttte yo nen.😀

  3. Urupa Chan says:

    Cihuuuiyy, berbicara masalah politik yang melanda di negeri ini euuy. Sebenernya agak nyirik jugak dengan polotik di negeri ini, Tapi ada kisah ni dari 3 orang :
    Jawab : ada 3 orang yang melewati sebuah jalan yang disana ada got / selokan yang mampet.

    Orang pertama : “ Ih jangan lewat situ, itu kotor, nanti najis.

    Orang Kedua : “ Makanya kalau kotor mbok ya kita bersihkan, bagaimana coba kalau dibiarkan saja nanti bisa banjir, bisa menimbulkan penyakit., bisa bla … bla … bla … (panjang kali lebar = luas sekali) # Berbusa

    Orang ketiga : Tanpa berkata apapun dia membersihkan got tersebut…

    Heeemm, memang sangat mengenaskan melihat kondisi mental pemuda yang dilenakan oleh westernisasi, lagu2 yang melow membuat orang semakin lotoy. Maka saya sepakat sekali dengan pendapat “Musuh Islam yang berada di muka bumi ini akan takut ketika orang Indonesia mempelajari Shiroh”. Karena semboyan mereka kuat seperti baja pakaian perang, dan seganas tank-tank dalam peperangan..

Please, give me advice for my articles!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s