WarungWalking


Hari Kemarin: 23.50 | baru pulang dari ngerjain proyek kantor

Dua hari ini mengerjakan proyek dari kantor benar-benar membuat hidup lebih hidup. Berangkat pagi, pulang malam. Bahkan kupu-kupu kalo keluar malampun gak se-hectic gini deh. Paling yang ada gak sampe melebihi batas 12 jam, meskipun kadang keluarnya diatas jam 12. Hot smile

Jam di laptop menunjukkan pukul 00.03. Di kamar sebelah, masih sibuk dengan aktifitas dolanan mereka. Benar-benar berasa di goa, ribut kalau malam. Di garis start, kelelawar sudah dalam posisi jam kerja mereka, dan siap capcay ke kantor-kantor mangsa yang ada dalam list notebooknya. Kalau di intip sejenak, Pro Evolution Soccer jadi hiburan berjamaah para kelelawar kosan, gonggongan kelelawar (*lo, kelelawar pake menggonggong? Terima sajalah kawan! Toh, kalo saya katakan kucing berkokok, ayam mengeong, itu hanya masalah siapa dulu yang menamainya. Ya gak? Hehe), benar-benar menggemuruh saat gol dicetak, membahana hingga ujung kosan, benar-benar joss gandoss, teriakan liar itu menyapa letak kamar paling ujung. Sempurnaaaa!!

Saya berpikir, Jika kita bisa menghitung satu persatu kejadian hari ini, atau mungkin kemarin, pasti di benak kita  berpikir bahwa memang kehidupan ini “terkadang” benar-benar tidak sempurna. Sempurna, berarti sejalan dengan apa yang kita pikirkan. Kita terlalu berkutat dengan seandainya atau mungkin andai saja. Seakan-akan, dua kata itu menjadi satu kata ampuh bak kun fayakun, atau sim salabim. Bayangkan saja dengan realitas kehidupan. Defaultnya jelas, manusia tidak pernah berhenti melihat semua hal yang berada di atas, dan jika sudah terlampau sering dengan hal tersebut, merendahkan hatipun mungkin tidak akan pernah bisa karena memang sudah tidak biasa. Tidak salah memang, tapi terkadang kesempurnaan menjadi satu impian yang melupakan segalanya.

Sempurna itu jelas, hak bagi semua orang kan? Satu per satu pasti punya hak prerogatif untuk menyatakan sempurna-nya sendiri, bukan sempurna-nya orang lain. Karena bagi saya, sempurna itu tidak bisa disamakan. Benar begitu? Ya kurang lebih begitu. Sempurnanya kita, mungkin biasa di mata orang lain. Biasa-nya kita, mungkin sempurnanya orang lain. Itu sudah biasa!!

Ah, lupakan deh, kalau mendengar kata sempurna seringkali buat kita gak pernah bersyukur. Padahal harusnya kita was-was dengan kesempurnaan itu. Hal kayak gini tuh, sama persis kayak pejabat yang saling berebut tampuk kepemimpinan, seneng banget deh kalau jadi di atas. Padahal jelas-jelas, itu musibah jangka panjang. Lah, gimana gak musibah. Dihadapkan kesempurnaan dunia, mana tahan kalau saja iman itu gak bisa sejalan? [*lagi seneng-senengnya nih gembar-gembor yang agak unik dari komponen politik. hehe] Ninja

Hari Ini: 16.03 | selepas report proyek kantor

Setiap hari, saya suka yang namanya WarungWalking [ya kayak BlogWalking gitu deh Thumbs up]. Intinya tiap hari main ke warung-warung pinggir jalan buat sejenak makan. Lumayan lah, saya tu orangnya sok-sok tahu, dan suka ngoceh bahkan nggosip sana sini sama penjualnya. Berasa calon bapak-bapak kompleks kalo orang lihat mah [*kalimat ini jangan diinget-inget ya. hehe]. Terkadang ada yang malah udah dianggap langganan, padahal baru beberapa kali datang. Bagi saya, kalau kenalnya udah pake hati, bisa ngutang juga kali ya. Hahaha [don’t try this at home!!].

Rata-rata kalau saya lihat sih mereka berasal dari daerah perantauan. Tasik, Ciamis, Cimahi, Tegal, Surabaya, Madura, banyak yang lainnya deh kalau mau disebut. Jelas, kebanyakan mereka berasal dari golongan menengah kebawah. Saya juga gak paham dengan kata menengah kebawah, tapi yang pasti, mereka gak se maknyus lingkungan sekitarnya. Sekedar minum kopi, sampe makanpun juga udah pernah di jajal. Obrolan sana sini, ya meskipun kebanyakan berkaitan dengan sedikit kisah-kisah mereka. Dari bagaimana alasan perantauan, dari bagaimana hanya sebagai pedagang makanan bisa mengkuliahkan anaknya hingga lulus. Senang rasanya berbicara dengan mereka, berasa dapet konsultasi gratis, dapat pelajaran ilmu dari rentetan kehidupan yang jelas beragam. Ah, bagi mereka itu mungkin sudah sangat sempurna. Mereka jadi ahli syukur tingkat Nasional mungkin bahkan Internasional. Bahkan ketika mendengar kisah mereka, saya sempat terpikir, Apa yang kaya, yang serba berkecukupan juga bersyukur ya? Atau malah sebaliknya.

Ya sudah lah, lagi pula sempurna itu lebih tepatnya jadi ahli syukur. Tuhan telah memberikan perbedaan agar hidup tu jadi lebih berwarna. Agar kata bersyukur tu bukan hanya dimiliki kalangan masyarakat berwajah mobil BMW ataupun rumah tingkat bintang 5, tapi menyebar hingga tingkat-tingkat level kehidupan. Dari WarungWalking saya mengenal banyak kesempurnaan, dan kebanyakan kesempurnaan itu dibuat, bukan rajin melihat-lihat.

Cobalah sesekali WarungWalking, temukan inspirasi kalian disana!!. Winking smile

Hari Ini: 17.05 | artikel di publish

Bandung, 5 September 2012

99 thoughts on “WarungWalking

  1. lieshadie says:

    Hwaaaa…kesukaanmu warung walking sama dengan akuh…meski dah emak2 gini..masih suka juga nongkrong di warung hik/angkringan…betul sekali, banyak ilmu kehidupan di dapat dari sana…dan jadi ahli bersyukur tingkat nasional atopun internasional itu adalah suatu keharusan Ga !

  2. Citra W. Hapsari says:

    seperti yang terjadi pada saya dan kawan saya malam ini,..
    seringnya ngobrol dengan penjual keliling daripada yg diwarung,…cos seringnya beli yang keliling,hehhee..
    bagi mereka sedikit obrolan itu membuat mereka melupakan rasa lelah…membuat mereka dihargai..

  3. neniinoy says:

    sempurna?.. kalau menurut neni “sempurna” itu tergantung dari sudut pandang individu.. sadarkah kawan pasti kita sebagai manusia biasa tidak ada puas puasnya minta lebih dan lebih, contoh ajah “malinda dee” udah punya harta banyak masih ajah korupsi..
    tapi dari sudut pandang lain, “sempurna” bukan hanya apa yang sesuai impian dan tentang berapa banyak apa yang kita punya. melainkan “sempurna” adalah sesuai/cukup dengan kebutuhan, tentunya jika kita “serba cukup” maka dengan sendirinya kita pasti bersyukur, nahh disitulah “kesempurnaan” yang sebenarnya.. yaitu kesempurnaan berasal dari rasa syukur kita..

  4. Sii Isni says:

    Warungwalking itu maksudnya apa sih bang? Kok nggak ngerti. Dasar nih antena lemot sii isni. =,=
    Apa budaya anak kost yang cari makan itu di warung sekaligus bisa nimbrung sama pedagang? #setelah maksa otak inih hasilnya.😀

    Eeeeits pantes abg kmrin nggak ribut di blogwalking yahc, hahahaha… :p

  5. Fanny Novia says:

    hahahaa…ya baru aja selesai baca buku “Negeri Para Bedebah”, bawaannya ngomongin politik mulu..makan di warung pinggir jalan memang jauh lebih nikmat dibandingkan makan di restoran..selain lebih santai, makanannya juga ga kalah enak plus lebih ramah di kantong *sebenarnya alasan utamanya ini* hahahaaa…

    • Triyoga Adi Perdana says:

      Gak tahu nih. Ditambah baca buku “ngawur karena benar”-nya Sujiwo Tejo. Jadi sindirannya tentang itu mulu.😀

      Hahahaha. . Ya jangan bandingin sama restoran atuh.😛

      Gimana? udah baca buku apa ja nih?
      Tumben gak di share?

      • Fanny Novia says:

        whuuaaa…kalau baca tentang politik suka bikin pusing Yoga..

        hehehee…iya, tapi serius lo Yoga..makanan di pinggir jalan jauh lebih enak. Contohnya, pecel ayam di tenda-tenda tepi jalan jauuuuuhh lebih enak dibandingkan pizza. Hohohooo..

        ada 2 buku Tere Liye yang udah selesai aku baca, tapi ntar-ntar deh aku bahas..heheee..:-D

      • Triyoga Adi Perdana says:

        Hehehe. . Generasi masa depan lo ni fan! Kalau seumuran kita aja udah pusing, ntar ujung2nya gak ada regenerasi dong.😛

        Ya emang serius fan. Dari kemarin saya ngomong sampe ngebul2 juga serius.😀

        Wah wah, yang mana ja nih?
        *penasaran

  6. Ilham says:

    kisah yang inspiratif. ceile. kita emang patut bersyukur banget. bayangkan banyak orang yang kurang beruntung, mereka sama sekali gak kepikiran untuk curhat di status fb atau twitter.😯

  7. utami says:

    oh ini yang membuat anda telat meeting dengan saya? hehe *comment diberikan di sms. bukannya kamu pernah ngutang juga ya mas di warteg walaupun cuma sekali kesana.hehe

  8. armae17 says:

    warung walking,. istilah yg unik. hehe..
    setuju banget. banyak yang bisa kita pelajari dari mereka. sosok sosok yang sangat sederhana, dengan pemikiran yang juga sederhana namun tak menghilangkan sedikitpun esensi dari hidup dengan rasa syukur.

    saya juga sering merasa sudah jadi langganan dari suatu warung, padahal belinya baru dua tiga kali. hehe…

    oia, mo tanya satu hal. apa kah mas triyoga pernah menanyakan nama mereka?😀

  9. pena usang says:

    Betul sekali mas, harapan kita terhadap kesempurnaan memang kerap kali menjauhkan kita dari rasa syukur. Ane juga terkadang suka ngobrol sama pedagang dan apa yg ane dapat dari obrolan itu memang berharga, dan mereka memang tampak lebih menghargai hidup, sedih jika bercermin ingat kepada diri sendiri yg selalu mengeluh

Please, give me advice for my articles!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s