Negeri Para Bedebah


Berbicara tentang negeri para bedebah, mulut harimaupun dapat dibungkam jadi mulut kucing. Goyang sana, goyang sini, kekuasaan jadi hamba uang yang mampu menyihir semua orang. Satu persatu manusia, terhimpit batas tajam yang mampu dan yang tidak mampu, memuai dalam satu batas, yang semua orang sama-sama tahu, uang.

Mungkin memang benar, kita malah harus bersyukur dinegeri kita ini banyak sekali orang tidak mampu, banyak perampok, banyak tukang maling ‘sendal’. Kita harus bersyukur pada Tuhan, negeri kita diberi anugerah itu, lebih mending negeri kita, dari pada di negeri sebrang terkumpul banyak para orang kaya bedebah. Coba bayangkan, kejahatan mereka para perampok, tukang maling sendal, para begundal, para si kapak merah, hanya kejahatan itu-itu saja, tapi para bedebah bisa membeli apapun, yang kanan jadi kiri, yang kiri jadi kanan, yang kerdil jadi tinggi, yang tinggi bisa dikerdilkan dengan secarik kertas, dengan bubuh tanda tangan.

Di negeri para bedebah, kekayaan menjadi satu buah bibir yang tak kunjung basi untuk dimakan, apalagi dipuja-puja, hingga setinggi langit. Keluarga, teman, sahabat, guru, lupakan!! Semua jadi hitam putih jika berbicara kekayaan. Bunuh sana sini, kebiri sana sini, main silat lidah, itu sudah biasa di negeri para bedebah. Makanan basi jadi humburger, hamburger jadi sega aking, cuma ada di negeri itu.

Satu per satu money politics jadi trend tersendiri, apalagi jika berkaitan dengan mereka, derajat para bangsawan bedebah. Semuanya dijadikan dua kasta, kasta tertinggi, kasta bedebah dan cecunguknya. Hampir tidak jelas kasta orang bener. Yang benerpun kalo gak berjamaah, jadi mampus tanpa tanda koma. Amal Jama’i? Lupakan. Karena sekarang amal jama’I sudah milik para bedebah, yang punya uang. Bayangkan saja, kasus-kasus Century, entah itu karena uang atau bukan, tapi bedebah-bedebah itu berkeliaran bahkan sekarang mungkin ada disebelah kalian, orang kepercayaan kalian!

Sekarang dunia menjadi hitam putih, negeri kayapun disulap, dibungkam dengan uang tanpa jejak. Forensik, hingga mahkamah agung kelas atas bergelar-gelar doktor luar negeri hanya bisa melihat kulitnya, tanpa menjamah biji-bijinya. Apalagi rakyat jelata seperti kita, melihat buah merekah saja senangnya minta ampun, padahal belum tentu dalamnya bebas dari belatung berdasi, atau berkopyah gaya parlente.

Sudah sudah, lagi pula obrolan kita hanya sebatas obrolan. Kalau tidak bakar gedung, bakar mobil plat merah, blokir akses bandara, toh mungkin omongan kita menguap bersama panasnya semangat kita. Tak berbekas apalagi sampai menyentuh entry gedung bertingkat itu. Sepuluh, dua puluh, tiga puluh tanker siap pakai berjejer rapi, dengan moncong yang siap memuntahkan butir-butir pemecah kebuntuan. Mungkin bukan pemecah, tapi penutup mulut kerumunan orang itu. Dan ketika sudah memuntahkan, selalu ada omongan, “Pantas mereka dapatkan, mereka terlalu mengoceh saban hari, begitu kata orang dengan sepatu pantofel klimis, stelan jas berdasi lengkap dengan jam tangan keren di lengan kirinya.

Tapi, ya sudahlah, lupakan itu semua. Mungkin tidak sama seperti di negeri kita ini, anggap saja cerita itu cuma ada di negeri dongeng, negeri para bedebah. Bedebahnya kita, mungkin tak sama dengan bedebahnya di negeri itu. Bedebahnya kita, bedebah terdidik, mungkin bisa bebas, bebasnya pun nyata, bukan sekedar fana, tapi bebasnya kita tetap mengikuti aturan yang ada. Semogaaaaaa saja. .

*artikel ini terinspirasi dari novel Negeri Para Bedebah-nya Tere Liye yang saya buat dengan bahasa saya sendiri. Smile

Bandung, Kafe Madtari, 2 September 2012

104 thoughts on “Negeri Para Bedebah

  1. azzaitun says:

    kunjungan balik🙂
    wow keren nih negeri para bedebah, sepertinya bisa membeli hukum juga ya, hukum juga bisa dihianati (rupanya)😐

  2. Citra W. Hapsari says:

    belum pernah baca bukunya langsung,tapiii…
    apa yg tertulis disini nggak semuanya saya baca,maaf ya…habis ngeri je,bahasane jadi skip skip gitu…saya juga suka Darwis Tere Liye,istrinya cantik..haha gak ada hubunganne

  3. Sang Dewi says:

    Saya dah coba ngubek2 peta, trus nanya mbah google..tapi gak nemu yg namanya ‘negara para bedebah”
    dah pindah kali ya..?? Hehee..

    Bagus tuh tulisannya.. Sukses dah..🙂

  4. Fanny Novia says:

    hohoooo..kereeennn..memupuk jiwa idealis *jadi penasaran beli buku yang judul ini* Say NO utk korupsi, bahkan utk korupsi 1000rupiah..:-)

    ayooo,judul2 lainnya juga bagus banget Yoga…hehehee..

  5. Fajar Hari Prabowo says:

    Generasi Bedebah sekarang berasal dari Generasi Perubahan yang menurunkan Generasi Bedebah sebelumnya. Sepertinya penyakit keturunan yang tak kunjung sembuh, karena semakin langkanya kejujuran, dan para pendidik yang pura pura tidak tahu.

Please, give me advice for my articles!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s