Tukang Kayu, atau Pendongeng Masa Depan


2 hari ini saya tu ngerjain proyek di kantor. Ya, lumayan. Berasa jadi orang kerja sejati. Dikejar deadline, waktu istirahat kurang, duit juga cekak. Arggggghh, derita mahasiswa tingkat akhir yang berada di zona tanggal tua.

Eh, jadi inget nih cerita saya tentang ngerjain skripsi. Sumpeeeeh deh, ngerjain skripsi tu kayak beli kayu. Mau kayu dibentuk model kayak bentuk Ultraman Daia [lah kok malah berasa detergen. hehe], model Iron Man, hingga model boneka barbie pake rambut dari sabut kelapa sama pakean dari karung gandumpun hanya sang tukang kayu yang mau dan bisa merubah itu semua, alias kita sendiri. You know? Apalagi ditambah, mau jadi barang 1 bulan, 2 bulan, sampe temen seangkatan pada punya anakpun, hanya kita sendiri yang bisa menentukan. Ya, mungkin kita adalah tukang kayu itu. Permasalahannya sekarang, tukang kayunya lagi ngeduain kayunya buat kerja ditempat lain. #ashhhhhh

Lupakan tentang tukang kayu deh. Yang penting jangan gara-gara tukang kayu dan kayu yang diduain, si tukang kayu jadi kayak pinokio, hidungnya panjang, tinggi pula. Ya, kalau kayak mas bule sih gak papa, jadi keren. Apalagi tampang minimalis bule dimix dengan wajah oriental. Beuhhhhh, Bule njawani (sebutan bagi orang jawa yang bener-bener jawa), atau kalo orang-orang Banyumasan bakal jadi satu tipe tersendiri, Bule Ngapak!!. hehe. . Ah, kalau bilang masalah ngeduain, jadi inget berita-berita artis yang saling menduakan, terus jadi inget lagunya Ayu Ting-ting pas di iklan Sarimi, “Duaaaaaaaaaaaaaa”. Duaaaaaa ribu dua belas bulan dua belas, tanggal dua belas? Siapa ya yang beruntung mendapatkan tanggal itu? *eaaaaaa

Hari ini saya disibukkan dengan pekerjaan yang berkaitan dengan excel dan bagan pake visio. Mahasiswa Teknik Komputer yang secara premature malah ngurus masalah manajemen bisnis selama dua hari. Akibatnya, saya malah jadi tahu, ternyata mengurus perusahaan besar itu gak semudah nggoreng bala-bala (bakwan kalo di jawa), atau lebih ekstreeemnya dan saking susahnya, berasa ngupil pake jempol kaki kali ya? hehe. . Ah, itu susah banget. He…. *mesti langsung bayangin!! Ahaaaayyyy. .

Selain itu, rekan kerja buat ngurus ini berasal dari jurusan Psikologi UPI, sebut saja dia Tami (*namanya udah berasa samaran kan? Hehe. .). Ya, lumayan belajar tentang dunia psikotest dikit-dikit. Dari kotak-kotak 8 dll, tapi belum praktek. Jadwal meeting dengan intranet buat ngambil data terlampau banyak menyita waktu. Tam tam, sabar ya, mungkin esok udah gak sibuk kok kita. *eh

Waktu magang ini berakhir Oktober nanti. Artinya sebulan lebih saya masih bergelut dengan dunia kerja. Setelah itu, skripsi jadi bahan mentah yang harus diolah dengan baik. Maklum, toga udah di pikiran, melayang-layang, pake bawa bendera, “SKRIP-SWEETNYA DIURUS DONG”. Pake bahan yang menyala pas gelap lagi. Haha. . Berasa liat setan deh, pake melayang-layang.

Kerja capek, pusingnya minta ampun apalagi kalau udah berkaitan dengan deadline. Pulang kantor larut, menamatkan gawean yang semakin lama semakin menggelitik. Kalau udah hari Jumat, baru berasa jadi orang bebas. Kalau hari minggu, berasa tahanan udah habis masa remisi tapi terus masuk lagi ke penjara. Mungkin juga sama kali ya peribahasa atau ilmu dari CEO CEO kelas dunia bahwa semakin meningkat ilmu yang kita punya, atau mungkin umur kita yang semakin di upgrade, semakin kita dituntut untuk menjadi lebih produktif, memaksimalkan apa yang kita punya untuk menjadi satu kemanfaatan untuk orang lain. Capeknya kita sekarang, riweuh-nya hari-hari kita pasti akan kita rindukan beberapa tahun kedepan. Yah, anggap saja kita sedang mengukir kisah klasik untuk masa depan kita disebuah kayu. Semakin ukiran kita unik, pastilah kayu itu bisa dihargai dengan sangat mahal, berbeda jika kayu itu hanya sebatas kayu biasa, dengan ukiran yang seadanya. Jika tergeletakpun, bisa jadi itu hanya dipandang sebelah mata tanpa ada yang tertarik untuk mengambilnya. Atau mungkin, Tuhan memberikan kesempatan kita untuk menjadi pendongeng hebat masa depan, dengan cerita yang sangat beraneka ragam adanya. Cerita kita ditunggu, bukan hanya pendongeng yang masih bercerita tentang Kancil Nyolong Timun, Cerita Timun Emas, atau apapun aneka ragam cerita tersebut. Tapi yang jelas kita bercerita tentang kisah perjalanan kita yang jelas beda, tak pernah ada satupun yang sama.

Kebayang gak ya, beberapa tahun kedepan bukan hanya ukiran jepara aja yang lakunya selangit, tapi ada satu ukiran yang harganyapun melebihi se-krat perhiasan yang tak ternilai harganya, ya apalagi kalau bukan ukiran kisah klasik kita? Hehe. . Ayo, mumpung masih muda, mari kita perbanyak saldo tabungan kisah kita, buat jadi tukang kayu atau pendongeng masa depan. Open-mouthed smile

29 Agustus 2012 – Tempat mengukir: Divre III Telkom Supratman, Bandung

29 thoughts on “Tukang Kayu, atau Pendongeng Masa Depan

  1. elysiaazizah says:

    yeah! msi berkutat dgn skripsi ternyata.
    never ending story bgt deh, INGAT !skripsi sekali seumur idup lho!
    jadi,,terserah siy mau kapan beresenya (_ _”)
    tapi..yahh kata Allah
    “Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain” (QS 94: 7).
    ya.msi bnyak lagi amanah yg menunggumu bro!

    Salam Semangat selalu brother😀

  2. Fanny Novia says:

    Bule ngapak???baru dengar tuh istilah bule ngapak Yoga…hahahahaa…

    ya iyaaaaalllaaah, lu kira gampang ngurusin prusahaan gede?:-p tapi bener kali ya Yoga, lebih susah ngupil pake jempol kaki kayaknya *yyaah, ketauan deh kalau aku praktekin*

    yang penting tetap optimis, kerja keras dan doa…aku yakin kamu bisa Yoga…semangat semangaaattttt….!!!!🙂

Please, give me advice for my articles!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s