Pembelajaran Pesantren Punk


punk-muslim

Hari ini hari yang cukup menarik. Sempat diberitakan di salah satu segmen berita televisi, adanya satu komunitas punk muslim di ibukota negara kalo tidak salah. Di salah satu wawancara dengan pengelolanya ada satu perkataan yang cukup menarik bagi saya, beliau berkata seperti ini

Lirik yang harus mereka nyanyikan dalam mengamen, harus ada nilai syiarnya, harus lirik-lirik yang membangun, bukan lagi lirik-lirik yang gak jelas awal akhirnya, karena saat ini, tujuan mereka bernyanyi bukan lagi semata-mata mencari uang.

Bagi saya sendiri setidaknya hal tersebut merupakan satu sindiran bagi saya, atau mungkin bagi kita, bagi pekerjaan kita, atas apa yang kita lakukan dalam keseharian. Coba kita lihat, Indah sekali bukan? Saat mereka (dengan apa yang mereka lakukan), dengan “kapasitas” yang ada pada mereka, dengan ke-simple-an mereka, mereka bisa memberikan satu artistik tersendiri dari lirik-lirik yang mereka nyanyikan, mereka bisa dengan mudah ber-tasbih, bedzikir, menginspirasi orang di tiap menit bahkan di tiap detik dari apa yang mereka bawakan, memberikan satu taste tersendiri, bagaimana mengajarkan untuk ber-uang, berkarya sekaligus berdoa.

Keren kan mereka? Bahkan mereka bisa saja lebih baik dari pada kita, dengan apa yang mereka kerjakan, dengan apa yang mereka karyakan. Atau semua ingin jadi seperti mereka? Jadi anak punk? Ah, gak usah, saya jadi ingat nih, salah satu tulisan Ust. Anis Matta dalam delapan mata air kecemerlangan, beliau menuliskan seperti ini

Yang menjadikan kita berbeda yaitu apa yang disebut efisiensi dan efektivitas dalam hidup. Dalam proses “partisipasi sosial”, kita tidak dapat menjadi segalanya, atau melakukan segala hal. Jadi, kita harus bisa menghemat energi agar kita dapat mencapai output maksimum dengan keterbatasan energi yang kita miliki, caranya adalah memilih peran yang tepat yang sesuai dengan kompetensi kita. Karena dengan hal inilah kita dapat menjadi ulung, dengan apa yang kita miliki.

Semoga kita bisa menjadi “keren”, menciptakan taste cita rasa tersendiri bagaimana menemukan jalan untuk menjadi “beruang” yang punya karya sekaligus tak luput berdoa seperti anak pesantren punk nan jauh disana yang mengajarkan kita, bagaimana berdoa dalam tiap bait karya-karya mereka.

Bandung, 12 Agustus 2012 –sembari menunggu berbuka puasa

 

38 thoughts on “Pembelajaran Pesantren Punk

  1. Cacapunya says:

    wihhhhh komunitas punk muslim😀 baru tau kalau ada yang begini. Biasanya kalo mendengar yang namanya anak punk aja, orang2 pasti udah menilai negatif anak2 ini.

  2. Ely Meyer says:

    keren itu kalau bisa berkarya sesuai dengan kemampuan, nggak ikut ikutan sana sini , pasaran sekali yang kebanyakan diikuti, berbeda dari yang lain dalam artian positif

Please, give me advice for my articles!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s