Mengambil Setitik Ilmu dari Wirausahawan Muda


Memang terkadang nilai seseorang itu dilihat dari apa yang disampaikan dan apa yang dilakukannya, bukan bermaksud mendeskriminasikan seseorang atau pun men-judge sesuatu dengan apapun, tapi memang benar bahwa mindset pikiran kita dan intonasi ucapan kita sangatlah dipengaruhi oleh lingkungan apalagi pekerjaan. Seorang pejuang, pasti jelas apapun yang ucapkannya sangatlah menggebu-gebu, seorang sinden, mungkin gaya bahasanyapun serasa mendayu-dayu, seorang satpam intonasinya pun juga tegas, jelas dan agak sedikit keras. Tapi di sini saya gak akan mengulik sebab muasal kok bisa sampai seperti itu. hehehe. .

Tepat kamis [3/5] kemarin, saya pertama kalinya menjadi MC pada suatu seminar, tapi saya berikan batasan masalah, bahwa saya juga tidak akan membahas bagaimana pengalaman tentang menjadi MC yang baik, menjadi MC yang teladan, tidaaaak. :) Tapi yang saya akan sharingkan adalah tentang pembicaranya, lebih dipersempit lagi, adalah tentang ilmu yang disampaikan oleh pembicara. Gak jauh-jauh dari cita-cita masa depan, seorang pengusaha muda.

Pernyataan pertama: Berbicara tentang kegagalan.

Seorang Alva Edison tidak akan berhasil menemukan lampu, jika dia berhenti di percobaan ke 999. Bayangkan saja jika ternyata dia menyerah. Maka dia tidak akan terkenal hingga sekarang. Kegagalan kita merupakan salah satu alat bagi kita untuk lebih melatih pendewasaan diri kita, melatih kita dengan kondisi yang memang berada di luar batas pikiran kita.

Salah satu seseorang yang berpengaruh [saya agak lupa namanya], ketika bertemu seorang pengusaha muda, dia langsung mendoakan “semoga usaha Anda segera bangkrut”. Lho kok bisa gitu? Karena dengan adanya masalah secara tidak langsung Allah ingin menaikkan derajat kita dan ingin melatih kita menjadi pengusaha yang siap mental. Maklum, mental sangat bermain jika ingin menjadi seorang pengusaha. Oleh karena itu, kedatangan masalah dalam hidup kita seharusnya bisa disyukuri, karena masalah menjadi satu jalan untuk kita berusaha, untuk kita belajar gratis. Ketika tidak ada masalah, cari lah masalah, atau ekstrimnya lagi, tinggal tantang aja tuh masalah, masalah ayo datang, ayo datang, hingga nantinya masalah menjadi bosan untuk sekedar mampir dalam hidup kita.

Ingat ya, buat masalah menjadi bosan hanya untuk sekedar mampir atau numpang minum dalam hidup kita.  :) 

Pernyataan kedua: Berbicara tentang kedudukan pedagang/wirausahawan.

Inilah yang menjadi satu ketertarikan tersendiri jika berbicara mengenai pengusaha. Bagi seorang muslim, maka jelas dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasullah pernah menyatakan bahwa 9 dari 10 pintu rezeki adalah melalui pintu berdagang (al-hadits). Ini artinya aktivitas dagang sangat dianjurkan dalam ajaran Islam. Melalui jalan inilah, pintu-pintu rezeki akan dapat dibuka.

Mari kita lihat bagaimana seorang pengusaha berpengaruh terhadap poros perekonomian suatu negara.

David McClelland menyatakan bahwa suatu bangsa bisa disebut makmur bila jumlah entreprenuer atau pengusaha paling sedikit 2 persen dari total jumlah penduduknya. Berdasarkan data dari Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), jumlah pengusaha di Indonesia saat ini hanya 0,24 persen dari total penduduk atau sekitar 568.800 orang.

Untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi, jumlah ideal pengusaha Indonesia semestinya 4.740.000 dari asumsi total penduduk 237 juta jiwa. Artinya, dari kondisi ideal tersebut maka Indonesia masih kekurangan sekitar 4.171.200 orang wirausahawan. Peluang yang sangat besar.

Sebagai gambaran, kondisi berbeda terjadi di negara-negara maju seperti tetangga kita, Singapura. Persentase jumlah pengusaha di negeri Singa itu mencapai 7,20 persen dari total penduduknya. Sementara India yang merupakan negara yang tengah mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat, memiliki pengusaha sekitar 11 persen dari total penduduknya yang berjumlah 1,2 miliar jiwa.

Dari rasio 568.800 orang pengusaha yang ada di Indonesia, sebagian besar yaitu 75 persen merupakan pengusaha muda atau 0,18 persen dari total jumlah penduduk. Dibandingkan dengan Malaysia yang jumlah pengusaha mudanya mencapai angka 16 persen dari jumlah penduduk, artinya bahwa Indonesia tertinggal sangat jauh.

Salah satu variabel yang menjadi faktor penyebab masih rendahnya minat wirausaha di Indonesia adalah karena sebagian besar pemuda masih terjebak pada orientasi pegawai, baik pegawai negeri maupun pegawai swasta.
[data diambil dari sini, artikel ditulis oleh Jusman Dalle dalam Munas HIPMI XIV, “Indonesia Menjadi Poros Ekonomi Global”]

Ini menjadi satu dilema tersendiri, bahkan seharusnya kita [kata beliau sang wirausaha muda] bisa lebih menginspirasi masyarakat bagaimana wirausaha mampu menjadi satu penggerak perekonomian tersendiri di Indonesia.

Satu hal yang dapat disimpulkan, ternyata entrepreneur menjadi satu tonggak pelecut perekonomian Indonesia. Dilihat dari statistik diatas, Indonesia masih sangat membutuhkan satu poros penampung pengangguran yang memang selama ini terus berkembang.

Statemen Paling Menggugah!!

Dalam salah satu bahasannya, seorang pengusaha muda pernah memberikan suatu fakta yang cukup menarik, mungkin lebih jelasnya agak menyinggung realita yang ada sekarang. Ini saya kaitkan dengan keadaan yang ada sekarang.

Saya cukup bingung dengan beberapa kalangan mahasiswa yang selalu berteriak-teriak tentang korupsi, tentang BBM, tentang kebijakan dan moralitas. Demonstrasi yang berjamaah, merusak fasilitas, bahkan ada yang sampai merusak dengan cara membakar fasilitas tersebut. Faktanya, Idealisme seperti itu, (idealisme mahasiswa) hanya ada pada saat mereka mahasiswa saja. Banyak sekali mahasiswa yang setelah kerja, dan berada pada real life, idealisme mereka menjadi luntur akibat sistem yang memang menuntut mereka untuk menjadi follower, bukan semata-mata menegakkan idealisme yang dulunya ketika mahasiswa membara dan menggebu-gebu. Ada juga mahasiswa yang dulunya sering berorasi menolak sana sini, lalu setelah dia lulus, dia bekerja di perusahaan luar (sebut saja freeport), dengan begitu bangganya dia memasang profil di jejaring sosialnya, lalu pertanyaannya sekarang, apa beda mereka dengan koruptor? Perusahaan asing (yang ada sekarang), jelas-jelas sangat merugikan Indonesia, mengangkut sumber daya yang ada di Indonesia untuk kemakmuran negaranya. Kita dengan dampak yang memang sudah terasa jelas, hanya menikmati beberapa persen saja. Apa itu yang disebut idealisme?

Hayo, gimana tuh statement tersebut? Simpan baik-baik, dan silahkan buktikan mungkin beberapa tahun kedepan ketika kita sudah berada di out of the box dengan kita yang sekarang. Baru deh, komentar. Hehehe🙂

Yah, itulah sedikit pembelajaran dari seorang wirausaha muda.
Beberapa informasi saya ambil dari info-info terkini yang sedang inn.
Semoga ada hikmah yang bisa teman-teman ambil.🙂

Please, give me advice for my articles!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s