Tangisan Kota Kelahiran


Rabu lalu sengaja saya melangkahkan kaki untuk pulang ke kampung halaman. Perjalanan yang cukup agak lama (+/-) 10 jam membuat sekujur tubuh tak mampu untuk di deskripsikan maknanya. Dari kemacetan yang selalu ada di Brebes karena ada penyempitan jalan akhir-akhir ini (berdasarkan kabar teman-teman Pemalang yang pulang kemarin), hingga jalan Pemalang-Moga yang cukup agak memprihatinkan kondisinya, semakin memantapkan remuknya badan setelah digoyang bus sebegitu lamanya. Benar-benar mantap, sekali lagi benar-benar mantap!

Seperti biasa, pulang pagi menjadikan bus Nusantara menjadi satu-satunya pilihan bus terbaik apalagi jika dikaitkan dengan cepat atau tidaknya tanpa memandang kelas. Maklum pulang sendirian, menurut analisa saya pribadi bukan pilihan tepat jika naik bus ekonomi, selain faktor keamanan, lama, ditambah uang juga semakin rontok karena penjual silih berganti untuk naik dan turun bus (Kecuali emang benar-benar bokek. Mungkin karena pas pulang tanggal muda, mindset kita juga menyesuaikan kali ya. Hehe. :))

Oke, berbicara mengenai kampung halaman, terutama Pemalang. Saya semakin miris, apalagi melihat perkembangan kota perbatasan Pemalang seperti Kabupaten Tegal dan Kota Tegal di sebelah Barat, Kabupaten Purbalingga di sebelah selatan, Kabupaten Pekalongan dan Kota Pekalongan di sebelah timur sangatlah maju. Perkembangan baik di sektor pariwisata, industri, benar-benar menyakitkan mata apalagi dengan kondisi geografis yang hampir sama, atau malah dapat dikatakan sama saja. Kekayaan Pemalang yang bisa dikatakan sudah mantap dengan batas utara Laut Cina Selatan dan ditambah menjadi perbatasan pendakian Gunung Slamet (gunung tertinggi di Jawa Tengah) di sebelah selatannya, menjadi satu pilihan tersendiri jika menilik soal pariwisata. Tak hanya itu, 40 km dari arah Pemalang ke arah Selatan (a.k.a kampung halaman) terdapat satu pabrik teh warisan jaman Belanda yang masih beroperasi dengan baik sampai sekarang, ditambah tak jauh dari rumah saya, terpampang dengan jelas silhouette Gunung Slamet nan megah sekaligus eksotik. Sungguh plong rasanya, gundah gulana, pekat di hati hilang sudah. Kotoran serta masalah yang dibawa dari Kota Kembang Perawan menjadi tidak berarti apa-apa. (#galau, tak ingin dicakiti, celalu ingin dimengerti, tidak dikenal oleh masyarakat sini. Saya juga mengenal setelah pergi merantau ke Bandung yang menjadi-jadi ketika semester akhir. Hehe🙂 ).

Jika dibandingkan dengan beberapa tahun silam diawal tahun millennium alias tahun 2000-an awal, pariwisata yang ada di Pemalang sudah lumayan banyak. Tapi sekarang, tempat itu menjadi suatu objek pariwisata yang sangat kurang dijamah oleh pemerintah daerah, sekali lagi dengan kata lain saya sebutkan sudah kurang layak atau bahkan dapat dikatakan semakin jelek jika dibandingkan dengan dulu. Ini sangat kontras jika perbandingan antara Pemalang dengan kota/kabupaten sekitarnya. Sungguh miris memang, tapi inilah realitas yang berkembang sekarang. Entah percaya atau tidak jika dilihat dari faktor tenaga terdidik atau tidak, Pemalang sudah cukup memadai. Jika berbicara mengenai mahasiswa yang merantau, Pemalang pun sudah cukup banyak. Tapi apa salah Pemalang ini?

Beberapa minggu yang lalu, saya melihat acara di salah satu acara di TV One, kalau tidak salah acaranya bernama “Manusia Indonesia” (acaranya semacam mengangkat kontribusi anak daerah yang memajukan wilayahnya melalui kontribusi nyata yang dia berikan). Kebetulan yang disorot adalah wilayah NTT, dan salah satu yang diliput adalah geng motor. Lebih jauh, geng motor yang diliput bernama “Geng Motor Imut” (entah “imut” berhasal bahasa lain atau memang sok imut aja, padahal juga dilihat dari orang-orangnya gak ada satupun yang tergolong imut, kalo dibandingkan sama saya juga, ya jauh, sama-sama jauh imutnya. :)). Geng motor Imut (GMI) awalnya bisa dikatakan layaknya kebanyakan geng motor biasa, foya-foya, hidup hanyalah bersenang-senang, kekerasan, dsb. Namun, lambat laun mereka semakin sadar, dengan daerah yang mereka tempati, yang rata-rata permasalahan berada pada kekurangan air tawar membuat mereka semakin sadar, ditambah kurangnya dukungan dari pemerintah daerah membuat mereka semakin mengerti bahwa permasalahan yang ada di NTT sudah cukup banyak. Lalu mereka berpikir bagaimana mencari solusi atas permasalahan tersebut, satu hal yang mereka perbuat adalah mereka (dengan keterbatasan ilmu dan keterbatasan dana yang mereka miliki) mencoba membuat alat pengubah dari air laut menjadi air tawar, dan mereka berhasil. Satu alat tersebut hanya bermodalkan energi matahari untuk mengubahnya. Bayangkan, sebuah geng motor membuat satu alat yang memang dibuat sebagai solusi permasalahan aktual yang ada di daerahnya. Bukan hanya itu, kekurangan energi (membuat mereka) juga membuat satu alat yang digunakan sebagai penghasil energi alternatif. Hal ini dibuat karena masyarakat masih selalu bergantung pada pemerintah mengenai bahan bakar. Dan jadilah salah satu alat yang berasal dari kotoran/biogas yang dapat sekaligus menjadi alternative terhadap kurang mampunya kemerataan terhadap bahan bakar yang ada.

Jika kita tarik korelasi dari cerita di atas, pasti akan lebih indah kali ya jika pemuda yang ada di Indonesia berpikir tentang masalah “bagaimana cara kita memajukan daerahnya masing-masing”. Saya yakin, bahwa daerah dengan prinsip otonomi yang bukan hanya otonomi kebijakan pengelolaan daerah saja melainkan otonomi dalam bidang apapun termasuk dalam pengembangan pemuda untuk ikut melek terhadap permasalahan up to date di daerahnya membuat pengembangan otonomi yang ada sekarang menjadi semakin berkembang dan kreatif. Apalagi jika dikaitkan dengan masalah yang memang mempunyai porsi yang berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Jika kita tanyakan sekarang jumlah mahasiswa terutama di Pemalang dan juga di beberapa daerah lainnya pasti dapat kita tarik kesimpulan, bahwa jumlah itu cukup banyak, tapi pertanyaannya apa sumbangsih yang sudah atau akan mereka lakukan terhadap “permasalahan” yang ada di daerahnya. Saya garis bawahi “permasalahan yang ada di daerahnya”. Seandainya seperti saya (seorang teknik komputer) lulus, bekerja sebagai engineer terkait dengan bidangnya itu biasa, seandainya seorang guru lulus dan menjadi guru itu juga biasa, seandainya seorang apoteker lulus menjadi ahli farmasi itu juga sangat biasa, tapi jika kita berpikir tentang kekurangan daerah kita sendiri yang notabene bukan sesuai dengan bidangnya dan mencoba mencari solusi, itu baru luar biasa. Memang benar, “terkadang” kontribusi itu berbanding terbalik dengan idealisme.

Pendapat saya ini ya setidaknya dapat dijadikan refleksi bagi kita semua tentang bentuk dan tuntutan kontribusi kepada daerah kita masing-masing. Bukan masalah gelar yang ada di pundak kita yang kiranya menjadi yang terpenting, tapi bagaimana caranya kita bisa menggerakkan pemuda untuk selalu bisa berpikir kreatif daripada hanya sekedar komentar mengenai pemerintah daerah yang ini itu dsb. Tuhan memberikan Indonesia dengan berbagai macam kekurangan seperti sekarang ini seharusnya kita balas dengan rasa syukur yang setinggi-tingginya, karena dengan kekurangan itulah kita bisa menyalurkan apa yang kita punyai untuk menjadi sebuah manfaat bagi mereka yang membutuhkan. Memang benar jika ada yang berkata bahwa usia kita itu dilihat dari nilai diri kita (di mata orang lain).

Lalu, sudah seberapakah nilai diri kita?

Moga, 7 April 2012

6 thoughts on “Tangisan Kota Kelahiran

  1. Uyung Elok Hardani says:

    NICE POST mas

    di daerah tempat saya (WIDURI Water park gitu) kini dapat mengangkat kesejahteraan penduduk sekitar
    tapi yang disayangkan tingkat keamanan pemakaian fasilitas rekreasi masih menjadi no.2 sedangkan PENJUALAN TIKET MASIH DINOMOR SATUKAN,,miris mas,, kini pun semakin marak untuk tempat anak sekolah membolos atau pulang tidak pada tempatnya..hihi

    dilema bak 2 sisi mata uang y

  2. Urupa Chan says:

    wuuuuih joz gandos ni bruder, tentang kontribusi di daerah. saya sepatu ni ama kalimat ini “Seandainya seperti saya (seorang teknik komputer) lulus, bekerja sebagai engineer terkait dengan bidangnya itu biasa, seandainya seorang guru lulus dan menjadi guru itu juga biasa, seandainya seorang apoteker lulus menjadi ahli farmasi itu juga sangat biasa, tapi jika kita berpikir tentang kekurangan daerah kita sendiri yang notabene bukan sesuai dengan bidangnya dan mencoba mencari solusi, itu baru luar biasa.”
    Kalo pak bibit bilang bali ndeso mbangun ndeso, raiiit??

    emmm, kira-kira apa ya yang bisa dilakukan? krik krik

    • Triyoga Adi Perdana says:

      Hehehe. . Ya bagus lagi kalo sipil kerja disipil *eh

      Betul mba, bali ndeso mbangun ndeso.
      Makannya yayasan tadi bergerak atas dasar kontribusi buat daerahnya masing-masing.

      Yang penting mah niat sama action mba. mau berlumuran darah kita ngomong, kalo orang-orangnya cuma ngikut ya percuma. Mau titel sampe s2 s3 diluar negeri, kalo gak ada yang gerakin juga percuma. hehe😀

Please, give me advice for my articles!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s