Gelayut Hujan


Tatkala hujan ini turun, maka ketika itu pula aku merasakan kesunyian
yang hadir di hatiku . .
Rintik-rintik air menambah alunan melodi alam terasa membahana,
Oh, hujan, bawalah, bawalah jiwaku melayang,
Melayang tinggi melintasi Gunung Manglayang.

Ngeeeeeeeeeeeeeeeekk. . . . [jadi inget sapa kalo ngetik kata ini. Wkwkwkwk :-B]
Langsung aja ke topik. Hehe.. Maklum, dulu rajin banget isi mading inspirasi  [entah itu puisi yang cukup agak baik, sampe memperluas ke puisi Taufik Ismail dan W.S Rendra] pas SMA, ditambah pas TK dapet juara 3 besar se-Kabupaten lomba puisi, gak nyangka dikira dulu bakalan mau sukses jadi Sastrawan, malah ujung-ujungnya jadi Sastrawan Komputer. Tapi kalo dilihat dari puisi pembuka diatas, udah pantas kan buat jadi Sastrawan? Hehe🙂

Oke, berbicara mengenai hujan di hari ini, kemarin dan esok [aseeeeeekk :)], maka tak ada habis-habisnya kalo hujan pasti selalu disandingkan dengan keluhan. Ada hujan datang, “Busyet dah, ini ujan kagak tahu amat kalo mau dateng” [emang eloh sapanya ujan cing?😛], malahan ada “Aseekk ujan, bisa buat alasan buat gak ikutan rapat” [guweh banget!! Hehe :)]. Tapi, mungkin satu hal yang belum terkuak dan mungkin beberapa temen-temen belum tahu adalah tentang berkah Ojaaann, maksudnya berkah hujan. Oke, mari kita belajar poin per poin. Semoga bisa jadi inspirasi TA. Hehe. .

Ketika hati sedang mendung

Ketika muncul mendung, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu khawatir, jangan-jangan akan datang adzab dan kemurkaan Allah. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila melihat awan (yang belum berkumpul sempurna, pen) di salah satu ufuk langit, beliau meninggalkan aktivitasnya –meskipun dalam shalat- kemudian beliau kembali melakukannya lagi (jika hujan sudah selesai, pen). Ketika awan tadi telah hilang, beliau memuji Allah. Namun, jika turun hujan, beliau mengucapkan, “Allahumma shoyyiban nafi’an” [Ya Allah jadikanlah hujan ini sebagi hujan yang bermanfaat].” [2]

Kewajiban kita: Mensyukuri Datangnya Hujan!
Apabila Allah memberi nikmat hujan, dianjurkan bagi seorang muslim dalam rangka bersyukur kepada-Nya untuk membaca do’a, “Allahumma shoyyiban naafi’aa [Ya Allah, turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat].”

Itulah yang Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ucapkan ketika melihat turunnya hujan. Hal ini berdasarkan hadits dari Ummul Mukminin, ’Aisyah radhiyallahu ’anha, ”Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika melihat turunnya hujan, beliau mengucapkan, ”Allahumma shoyyiban nafi’an” [Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat]”.[5]

Ibnu Baththol mengatakan, ”Hadits ini berisi anjuran untuk berdo’a ketika turun hujan agar kebaikan dan keberkahan semakin bertambah, begitu pula semakin banyak kemanfaatan.” Al Khottobi mengatakan, ”Air hujan yang mengalir adalah suatu karunia.”[6]

Karena apa? Karena turunnya hujan, kesempatan terbaik untuk memanjatkan do’a. [buat mahasiswa tingkat akhir, tolong baca ini baik-baik. Hehe :)]
Ibnu Qudamah dalam Al Mughni[7] mengatakan, ”Dianjurkan untuk berdo’a ketika turunnya hujan, sebagaimana diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ’Carilah do’a yang mustajab pada tiga keadaan : [1] Bertemunya dua pasukan, [2] Menjelang shalat dilaksanakan, dan [3] Saat hujan turun.”[8]

Begitu juga terdapat hadits dari Sahl bin Sa’d, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Dua do’a yang tidak akan ditolak: [1] do’a ketika adzan dan [2] do’a ketika ketika turunnya hujan.”[9]

Lalu bagaimana jika fenomena hujan lebat datang?
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu saat pernah meminta diturunkan hujan. Kemudian ketika hujan turun begitu lebatnya, beliau memohon pada Allah agar cuaca kembali menjadi cerah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a, “Allahumma haawalaina wa laa ’alaina. Allahumma ’alal aakami wal jibaali, wazh zhiroobi, wa buthunil awdiyati, wa manaabitisy syajari [Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turukanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan].”[10]

Ibnul Qayyim mengatakan, ”Ketika hujan semakin lebat, para sahabat meminta pada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam supaya berdo’a agar cuaca kembali menjadi cerah. Akhirnya beliau membaca do’a di atas.”[11]

Syaikh Sholih As Sadlan mengatakan bahwa do’a di atas dibaca ketika hujan semakin lebat atau khawatir hujan akan membawa dampak bahaya.[12]

Jangan Mencela Ujan !!
Perlu diketahui bahwa setiap yang seseorang ucapkan, baik yang bernilai dosa atau tidak bernilai dosa dan pahala, semua akan masuk dalam catatan malaikat. Allah Ta’ala berfirman, ”Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf [50] : 18)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dia pikirkan lalu Allah mengangkat derajatnya disebabkan perkataannya itu. Dan ada juga seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang membuat Allah murka dan tidak pernah dipikirkan bahayanya lalu dia dilemparkan ke dalam jahannam.”[21]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menasehatkan kita agar jangan selalu menjadikan makhluk yang tidak dapat berbuat apa-apa sebagai kambing hitam jika kita mendapatkan sesuatu yang tidak kita sukai. Seperti beliau melarang kita mencela waktu dan angin karena kedua makhluk tersebut tidak dapat berbuat apa-apa.

Dalam sebuah hadits qudsi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman, “Manusia menyakiti Aku; dia mencaci maki masa (waktu), padahal Aku adalah pemilik dan pengatur masa, Aku-lah yang mengatur malam dan siang menjadi silih berganti.”[22]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, ”Janganlah kamu mencaci maki angin.”[23]

Dari dalil di atas terlihat bahwa mencaci maki masa (waktu) dan angin adalah sesuatu yang terlarang. Begitu pula halnya dengan mencaci maki makhluk yang tidak dapat berbuat apa-apa, seperti mencaci maki angin dan hujan adalah terlarang. Meyakini demikian berarti meyakini bahwa makhluk tersebut yang menjadikan baik dan buruk. Ini sama saja dengan menyatakan ada pencipta selain Allah. Namun, jika diyakini yang menakdirkan adalah Allah sedangkan makhluk-makhluk tersebut bukan pelaku dan hanya sebagai sebab saja, maka seperti ini hukumnya haram, tidak sampai derajat syirik. Dan apabila yang dimaksudkan cuma sekedar pemberitaan, -seperti mengatakan, “Hari ini hujan deras, sehingga kita tidak bisa berangkat ke masjid untuk shalat”, tanpa ada tujuan mencela sama sekali maka seperti ini tidaklah mengapa.[24]

Ditambah ada juga peribahasa Jawa yang mengatakan, “Ajining dhiri dumunung ing kedhaling lathi (nilai diri seseorang terletak pada gerak lidahnya)”, artinya, nilai diri seseorang itu tergantung dari apa yang diucapkan.  [peribahasa paling romantis pada waktu dulu, alhamdulillah yah ilmu SD akhirnya kepake juga pas kuliah. Hehe🙂 Ini juga sekaligus menekankan bahwa orang Jawa baik-baik kalo ngomong, gak asal ceplas ceplos, pokoknya cocok banget dah jadi pasangan hidup. Hahahaha :P]

Akhirul Kalam, artikel ini dicari dan dibuat bukan karena saya semata-mata sudah full bisa mempraktekkan semua. Tapi, kata Ust. Yusuf Mansur nih, bahwa berubah munfarid/sendirian itu gak enak, masa kite kaye tapi lingkungan kite gak kaye, kite makan enak-enak tapi tetangga-tetangga kite susah banget makan enak, apa ya enak kalo kite seperti itu? Makannya harus ada yang selaras, setujuan, seiya, sekata, biar nanti sama-sama keren, dan sama-sama buat ngingetin. Hehe. . [Maaf kalo di modif sesuai dengan logat Ustadz Yusuf Mansur itu sendiri, Jakarte-jakarte gitu. :)]

Mohon koreksi kalo misal ada yang salah. Hehe . .

If you’re not using your smile, you’re like a man with a million dollars in the bank and no checkbook.
~ Les Giblin

Footnotes:

[1] Lihat Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Taimiyyah, 24/262, Darul Wafa’, cetakan ketiga, 1426 H.
[2] Lihat Adabul Mufrod no. 686, dihasankan oleh Syaikh Al Albani
[5] HR. Bukhari no. 1032, Ahmad no. 24190, dan An Nasai no. 1523.
[6] Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 5/18, Asy Syamilah.
[8] Dikeluarkan oleh Imam Syafi’i dalam Al Umm dan Al Baihaqi dalam Al Ma’rifah dari Makhul secara mursal. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shohihul Jaami’ no. 1026.
[9] HR. Al Hakim dan Al Baihaqi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shohihul Jaami’ no. 3078.
[10] HR. Bukhari no. 1014.
[11] Zaadul Ma’ad, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, 1/439, Muassasah Ar Risalah, cetakan ke-14, tahun 1407 H.
[12] Lihat Dzikru wa Tadzkir, Sholih As Sadlan, hal. 28, Asy Syamilah.
[18] Dikeluarkan oleh Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubro (3/359) dan Tuhfatul Muhtaj (1/567). Dikeluarkan pula oleh An Nawawi dalam Al Khulashoh (2/884) dan Ibnu Katsir dalam Irsyadul Faqih (1/216) [dinukil dari http://dorar.net ]. Lihat pula Zaadul Ma’ad, Ibnul Qayyim, 1/439. Hadits ini adalah hadits yang lemah karena munqothi’ yaitu ada sanad yang terputus.
[21] HR. Bukhari no. 6478.
[22] HR. Bukhari no. 4826 dan Muslim no. 2246, dari Abu Hurairah.
[23] HR. Tirmidzi no. 2252, dari Abu Ka’ab. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[24] Faedah dari guru kami Ustadz Abu Isa hafizhohullah. Lihat buah pena beliau “Mutiara Faedah Kitab Tauhid”, hal. 227-231, Pustaka Muslim, cetakan pertama, Jumadal Ula 1428 H.

sumber artikel dari Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal, artikel http://rumaysho.com, lengkapnya di sini

8 thoughts on “Gelayut Hujan

  1. fasyaulia says:

    Sajak dengan segala kebahagiaan dikala hujan, baiklah saya ga akan ngeluh lagi kalau hujan. Cuma satu, saya ga suka sepatu saya basah😐 *dih itu ngeluh* hehehe

Please, give me advice for my articles!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s