Manajemen yang Kurang Baik Dalam Kisruh Kenaikan Harga BBM


Jika kita lihat fenomena yang ada dalam “sambutan” 1 April 2012 sekarang, saya rasa semakin lama semakin ruwet. Banyak sekali pergerakan yang menuntut dan serta “mempertanyakan” tentang sebuah kebijaksanaan kenaikan harga BBM. Anarkisme (saya kurang tahu apakah itu patut disebut anarkisme atau tidak) di salah satu kota sejak kemarin (27/3), perpecahan unjuk rasa dengan polisi di Malang hari ini (28/3) dan yang paling parah, parah, dan parah adalah pendudukan SPBU membuat saya semakin berpikir bahwa, “Apa perlu mereka sounding seperti itu?” dan anehnya lagi ketika saya melihat fenomena yang semakin berkembang adalah efektifitas dan pembicaraan jangka pendek tentang kebijakan ini yang “mungkin” terlihat semakin lama semakin nol dan tidak ada perubahan [catat: satu poin penting, kemungkinan tidak ada perubahan dengan hasil yang nol]

OK. Sebelum memasuki lebih jauh, alangkah baiknya sedikit saya kutipkan tentang tahap-tahap dalam penentuan kebijakan yang menyangkut gawe orang banyak. Dalam hal ini saya mengutip pendapat dari William N Dunn tentang penentuan kebijakan publik. Tahap-tahap kebijakan publik menurut William Dunn [dikutip dari Pengantar Analisis Kebijakan Publik, 1998, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Hal: 24] adalah sebagai berikut:

Penyusunan Agenda
Agenda setting adalah sebuah fase dan proses yang sangat strategis dalam realitas kebijakan publik. Dalam proses inilah memiliki ruang untuk memaknai apa yang disebut sebagai masalah publik dan prioritas dalam agenda publik dipertarungkan. Jika sebuah isu berhasil mendapatkan status sebagai masalah publik, dan mendapatkan prioritas dalam agenda publik, maka isu tersebut berhak mendapatkan alokasi sumber daya publik yang lebih daripada isu lain. Dalam agenda setting juga sangat penting untuk menentukan suatu isu publik yang akan diangkat dalam suatu agenda pemerintah. Issue kebijakan (policy issues) sering disebut juga sebagai masalah kebijakan (policy problem). Policy issues biasanya muncul karena telah terjadi silang pendapat di antara para aktor mengenai arah tindakan yang telah atau akan ditempuh, atau pertentangan pandangan mengenai karakter permasalahan tersebut. Menurut William Dunn (1990), isu kebijakan merupakan produk atau fungsi dari adanya perdebatan baik tentang rumusan, rincian, penjelasan maupun penilaian atas suatu masalah tertentu. Namun tidak semua isu bisa masuk menjadi suatu agenda kebijakan. Penyusunan agenda kebijakan seyogianya dilakukan berdasarkan tingkat urgensi dan esensi kebijakan, juga keterlibatan stakeholder. Sebuah kebijakan tidak boleh mengaburkan tingkat urgensi, esensi, dan keterlibatan stakeholder.

Formulasi kebijakan
Masalah yang sudah masuk dalam agenda kebijakan kemudian dibahas oleh para pembuat kebijakan. Masalah-masalah tadi didefinisikan untuk kemudian dicari pemecahan masalah yang terbaik. Pemecahan masalah tersebut berasal dari berbagai alternatif atau pilihan kebijakan yang ada. Sama halnya dengan perjuangan suatu masalah untuk masuk dalam agenda kebijakan, dalam tahap perumusan kebijakan masing-masing alternatif bersaing untuk dapat dipilih sebagai kebijakan yang diambil untuk memecahkan masalah

Adopsi/ Legitimasi Kebijakan
Legitimasi dapat diartikan seberapa jauh masyarakat [dalam hal ini mahasiswa] mau menerima dan mengakui kewenangan, keputusan atau kebijakan yang diambil oleh seorang pemimpin. Dalam konteks legitimasi, maka hubungan antara pemimpin dan masyarakat yang dipimpin lebih ditentukan adalah keputusan masyarakat untuk menerima atau menolak kebijakan yang diambil oleh sang pemimpin, sedangkan Legitimasi tradisional mengenai seberapa jauh masyarakat mau menerima kewenangan, keputusan atau kebijaksaan yang diambil pemimpin dalam lingkup tradisional, seperti dalam kehidupan keraton yang seluruh masyarakatnya terikat akan kewenangan yang dipegang oleh pimpinan mereka dan juga karena hal tersebut dapat menimbulkan gejolak dalam nurani mereka bahwa mereka adalah bawahan yang selalu menjadi alas dari pemimpinnya.

Penilaian/ Evaluasi Kebijakan
Secara umum evaluasi kebijakan dapat dikatakan sebagai kegiatan yang menyangkut estimasi atau penilaian kebijakan yang mencakup substansi, implementasi dan dampak. Dalam hal ini, evaluasi dipandang sebagai suatu kegiatan fungsional. Artinya, evaluasi kebijakan tidak hanya dilakukan pada tahap akhir saja, melainkan dilakukan dalam seluruh proses kebijakan. Dengan demikian, evaluasi kebijakan bisa meliputi tahap perumusan masalh-masalah kebijakan, program-program yang diusulkan untuk menyelesaikan masalah kebijakan, implementasi, maupun tahap dampak kebijakan.

Jika dilihat dari 4 tahap diatas, maka kita masih berkelut di bagian legitimasi artinya bahwa kebijakan masih berpengaruh kepada suara masyarakat, apakah pro atau kontra. Lalu jika kita tanyakan lagi mengenai step sebelum legitimasi, pemerintah telah selesai berada pada tahap formulasi kebijakan yang kaitannya adalah sebuah kajian terhadap pemecahan masalah yang terbaik. Artinya, pemerintah telah mengkaji dengan sebanyak-banyaknya solusi terbaik untuk menanggulangi masalah kenaikan harga minyak dunia akibat kondisi Timur Tengah yang sedang tidak aman, dan juga keuangan Amerika yang sedang “goyang gayung” [mendengar dari perkataan Jero Wacik sore ini di TV One (28/3)]. Satu poin penting yang dapat disimpulkan adalah [Pemerintah telah memasuki tahap formulasi kebijakan]

Jika kita berpikir mengenai hubungan antara Anarkisme dan juga tahap formulasi kebijakan, maka kita dapat sedikit merefleksikan sedikit pemikiran kita dengan Out Of the Box, maksudnya adalah, ketika pemerintah telah memilih untuk menaikkan harga BBM terkait dengan kenaikan harga minyak dunia, maka kebijakan itu adalah hasil matang-matang yang telah pemerintah lakukan untuk menghindari kekuatan ekonomi Indonesia, dan jika memang menurut masyarakat Indonesia itu salah maka jalan terbaik yang seharusnya kita lakukan adalah “Kita harus memberikan solusi jangka pendek dan juga jangka panjang kepada pemerintah mengenai kenaikan harga minyak mentah” bukan hanya sekedar berteriak memberikan “kami adalah suara mewakili suara rakyat”, melakukan tindakan anarkis, melakukan pemboikotan SPBU, perusakan angkutan Pertamina. Iya tidak? Lalu apa salah mereka?

Saya kutip perkataan yang berasal dari Rhenald Kasali dalam bukunya ChaNge menuturkan bahwa “Sebagian besar orang yang melihat belum tentu bergerak, dan yang bergerak belum tentu menyelesaikan (perubahan)”. Dalam artikel yang lain Rhenald Kasali juga menuturkan bahwa “Manajemen tentu berkepentingan terhadap bagaimana menggerakkan orang-orang yang tidak cuma sekedar berfikir, tetapi berinisiatif, bergerak, memulai, dan seterusnya”. Dan yang terpenting adalah bahwa satu hal yang perlu dipegang erat-erat jika kita berbicara mengenai penolakan kebijakan berdasar kutipan diatas adalah dibutuhkannya adanya penelitian dan pemahaman akan manajemen yang efektif.

Manajemen yang efektif itulah yang membedakan seseorang yang ber-intelek dengan yang non intelek jika berbicara mengenai kata “menolak dan tidak setuju”. Kerusuhan, bentrok dengan polisi, polisi sebagai musuh mahasiswa! Benarkah? Polisi juga rakyat biasa man, bisa saja mereka menolak dalam hati tapi karena tugas itulah yang membuat mereka seperti itu, mereka jelas hanya melaksanakan tugas mereka sebagai polisi, kata Kang [Yusuf Achmad] dalam twitternya, “ya karena mereka melaksanakan tupoksi mereka” [lewat akun twitter, matur suwun Andri Mardi yang telah menyempatkan liat twitter lewat BB rasa Layar Chinanya :)]. Benar tidak? Bisa juga seperti itu kan? Sementara jika polisi itu menolak, pecat! Keluarga terlantar! Apa itu tidak menyengsarakan rakyatnya? Saat manajemennya kurang baik, bisa-bisa aspirasi yang bagus menjadi sampah yang tidak ada artinya, semangat yang membara, menjadi abu yang tak pernah mau menunjukkan kemegahan baranya. Try to think like that bro!!

Lalu apakah kita [mungkin sebagai mahasiswa hanya diam saja?] Jelas tidak. Mahasiswa adalah pejuang perubahan. Transformasi itu membutuhkan manusia-manusia yang aktif, berinisiatif dan berani maju. Perubahan itu dirakit dari pejuang-pejuang muda yang bergerak bersamaan dari berbagai sisi, bukan hanya satu sisi!! Saya yakin bahwa kita pasti bisa menyalurkan aspirasi dengan cara kita, kita banget dan tidak merugikan orang lain. Dulu pada waktu sedang rame-ramenya permasalahan registrasi kampus ada yang nyelonong update status yang menurut saya menarik, “Isinya (kampus ini) memang terlalu banyak orang pintar, benernya adalah benernya sendiri, bukan benernya orang banyak. Benernya orang banyak ga bener bagi dirinya”, jika sedikit diubah maka menjadiIsinya (negara ini) memang terlalu banyak orang pintar, benernya adalah benernya sendiri, bukan benernya orang banyak. Benernya orang banyak ga bener bagi dirinya”. Hehe. Two thumbs up deh sama yang buat status gitu!😛

Wahai sang pemimpin, “Janganlah engkau memusuhi kami, jangan inisiatif kami dibunuh oleh orang-orang yang bermental birokratik, orang-orang yang mempunyai mikro mental yang bisanya cuma bicara di dalam rapat dan cuma membuat peraturan saja. Kami butuh bukti, sebaik apapun janji yang diungkapkan, sebaik apapun opini yang berkembang di negara ini “itu menjadi sampah” saat memang tak pernah ada evaluasi, tak pernah ada langkah kongkret kedepan. Disini kami hanyalah berfungsi sebagai pengingat dan pengadil sementara, pengadilan sesungguhnya pasti akan dihadapi kelak saat kita berada sebagai titik nol perjuangan”.

Ya, Kebijakan Itu “layaknya UPGRADE KOMPUTER”. Kenapa?
Karena untuk membentuk komputer yang sesuai dengan kebutuhan kita, kita harus terbuka dengan masukan-masukan dari luar ataupun dari materi yang berhasil dikumpulkan melalui internet, majalah, dll. Teori memang banyak dan mudah didapat, tapi praktek tidak selamanya sejalan dengannya. Semoga bermanfaat!🙂

Bandung, 28 Maret 2012 [11.48 pm]
Ditengah kegalauan UTS Embedded System dan Komputasi Paralel esok hari.🙂
Artikel merupakan pengembangan dari selengekan yang dibuat pada waktu kisruh registrasi Remidial dan Semester Pendek [Juni 2010]

2 thoughts on “Manajemen yang Kurang Baik Dalam Kisruh Kenaikan Harga BBM

Please, give me advice for my articles!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s