Amanah


Sempat juga buat notes ini di facebook pada waktu di kampus sedang ada rame-ramenya masa kampanye baik itu rektor, maupun dari KBM. Trending topic pada waktu itu adalah tentang pencalonan, dan tema yang paling pas dibahas pada waktu itu, tak lain dan tak bukan adalah Amanah. Pada waktu itu memang sengaja membuat notes ini mengingat tidaklah sedikit orang yang belum menyadari seberapa penting dalam menjaga maupun menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya. [Post ini sekaligus mengingatkan kepada penulis agar selalu ingat menjaga amanahnya. :)]Terbukti sampai saat ini masih banyak didapati organisasi yang anggotanya masih kurang paham dan sangat menyepelekan amanah yang sedang diemban. Hingga saat inipun banyak sekali orang yang “menghilang” di dalam kepengurusan organisasi. Mungkin, di organisasi itu memang kurang nyaman, banyak masalah, baru dalam hal perintisan pembuatan organisasi, tapi kenapa malah ditinggalkan? Bukannya memang seharusnya jika kita tahu bobroknya organisasi itu menjadi tanggung jawab kita untuk membenarkannya?  Jika kita tinggalkan, apa bedanya kita dengan para [maaf] “pecundang” yang cuma bisa ngomong saja? Benar?

Nah, berangkat dari hal diatas, sekiranya mkita perlu mempelajari tentang bagaimana kedudukan amanah terutama berdasarkan Al-Quran dan Hadist. Dengan harapan, ketika kita semua telah mengetahuinya, kita mampu melakukan yang terbaik pada diri kita dan orang lain. Ingatlah saudaraku, sekecil apapun amanah yang dilaksanakan akan memberikan dampak positif berupa kebaikan. Dan sekecil apapun amanah yang disia-siakan niscaya akan memiliki dampak negatif berupa keburukan. Dampak itu bukan hanya mengenai diri kita sendiri tetapi juga mengenai manusia secara umum. Semoga tulisan ini bermanfaat. Hehehe. .🙂

Makna Amanah
1. Secara Bahasa: Bermakna al-wafa’ (memenuhi) dan wadi’ah (titipan).
2. Secara Definisi: Seorang muslim memenuhi apa yang dititipkankan kepadanya. Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT: “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk mengembalikan titipan-titipan kepada yang memilikinya, dan jika menghukumi diantara manusia agar menghukumi dengan adil…” (QS 4/58)

Maka berdasarkan makna diatas amanah bukan hanya dalam hal materi atau hal yang berkaitan dengan kebendaan saja, melainkan berkaitan dengan segala hal, seperti memenuhi tuntutan Allah adalah amanah, bergaul dengan manusia dengan cara yang terbaik adalah amanah, demikian seterusnya. Nah, dalam notes ini, penulis membatasi pengertian amanah yang hanya terbatas dalam organisasi dan kepanitiaan (kepanitiaan hanya dibahas sedikit, karena masalah yang hampir sama dengan organisasi).

Lalu bagaimana dengan kedudukan amanah ini?
Salah satu firman Allah dalam surat [Al-Anfal : 27] menjelaskan bahwa salah satu indikator orang yang beriman adalah dengan menjaga amanah, [“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui”]. Nabi Muhammad SAW juga bersabda “Tidak ada iman pada orang-orang yang tidak ada amanah dalam dirinya, dan tidak ada agama pada orang yang tidak bisa dipegang janjinya.” (HR Ahmad 3/135, Ibnu Hibban dalam shahihnya Mawarid azh-Zham’an-47, al-Bazzar dalam musnadnya Kasyful Astar-100, lih. Juga dalam Albani Shahih Jami’ Shaghir-7056)
“Ada 4 perkara yang jika semuanya ada pada dirimu maka tidak berbahaya bagimu apa yang terlepas darimu dalam dunia: Benar ketika berbicara, menjaga amanah, sempurna dalam akhlaq, menjaga diri dari meminta.” (HR Ahmad dalam musnadnya 2/177; Hakim dalam al-Mustadrak 4/314 dari Ibnu Umar ra; berkata Imam al-Mundziri ttg hadits ini: Telah meriwayatkan Ahmad, Ibnu Abi Dunya, Thabrani, Baihaqi dengan sanad yang hasan, lih. At-Targhib wa Tarhib 3/589)

Selain itu, saat kita menyia-yiakan sebuah amanah, maka kita dapat tergolong sebagai orang munafik. Karena, kriteria kemunafikan ada 3, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Tanda orang munafik ada tiga ; Apabila berbicara ia dusta ; Apabila berjanji ingkar ; Dan apabila dipercaya ia berkhianat’. [Muttafaq Alaihi. Al-Bukhari, kitab Al-Aiman (33), Muslim, kitab Al-Iman (59)]”.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a., ia berkata (artinya), “Suatu ketika Rasulullah saw. berkhutbah di hadapan kami, dalam khutbahnya beliau berkata, ‘Tidak ada iman bagi yang tidak memiliki sifat amanah. Dan, tidak ada agama bagi yang tidak menepati perjanjian’.” (Shahih, Ahmad [III/135, 154, 210 dan 251], al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah [38], Ibnu Hibban [194], al-Baihaqi [IV/97, VI/288 dan IX/231], al-Qudha’i dalam Musnad asy-Syihaab [848, 849 dan 850]).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, “Rasulullah saw. pernah berdo’a, ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa lapar, karena lapar merupakan seburuk-buruk pendamping. Dan aku berlindung kepada-Mu dari sifat khianat (yaitu tidak menunaikan amanat Allah dan manusia), karena khianat merupakan seburuk-buruk perangai’.” (Shahih, Abu Dawud [1547], an-Nasa’i [VIII/263], dan Ibnu Majah [3354]).

Itulah sebagian hadist dan Firman Allah yang menjelaskan tentang seberapa penting amanah itu. Selain itu dikutip dari salah satu sumber, Muhammad Rabbi Muhammad Jauhari dalam bukunya “Akhlakuna” mengatakan bahwa Amanah adalah sesuatu yang wajib bagi seorang muslim untuk menjaga, melindungi dan menunaikannya, lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa rasa tanggung jawab terhadap kepercayaan yang diberikan kepadanya hendaknya dilaksanakan sesuai dengan kehendak Allah SWT. Namun dimasa sekarang, banyak orang yang menganggap amanah sebagai sesuatu hal yang mudah dilanggar dan dikhianati, padahal Allah memberi perhatian besar terhadap pentingnya amanah dalam kehidupan dan keseharian kita. Apalagi kelak akan kita pertanggungjawabkan kepada Allah. Rasulullah saw bersabda, “Setiap kamu adalah pemimpin Dan kamu harus mampu mempertanggungjawakan atas kepemimpinanmu” (HR. Bukhari).

Beberapa saudara/i kita, mungkin ada yang akan mencalonkan diri untuk menduduki kursi kepemimpinan di manapun berada, ingatkanlah bahwa orang yang bijak adalah orang yang senantiasa mengukur keterbatasan-keterbatasan dirinya untuk sebuah produktivitas yang tinggi dan hasil yang membahagiakan, selalu bisa untuk memberikan apa yang sedang di embannya secara totalitas, tanpa alasan apapun dan tanpa memandang tingkat jabatan apapun.

Mungkin kita perlu mengambil teladan kepada para sahabat tentang bagaimana contoh kepemimpinan, yaitu diantaranya Khalifah Umar bin Khattab, berpatroli siang malam menelusuri lorong-lorong gelap di sudut desa ketika orang-orang lain tertidur untuk memastikan keamanan masyarakatnya. Ketika paceklik melanda negeri, Umar jugalah orang yang pertama kali merasa lapar, karena memberikan makanan kepada rakyatnya. Demikian juga dengan Abu Ubaidah yang rela terjaga di malam hari menjaga pasukan kaum muslimin memberi kesempatan yang lainnya untuk beristirahat. Seperti itulah seharusnya sikap pemimpin, totalitas, tanpa pandang seberapa tinggi jabatannya.

Dan apabila telah terpilih nantinya, jangan sampai lengah untuk selalu menjaga amanah. Rasulullah Muhammad SAW bersabda “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada Mukmin yang lemah, dan pada masing-masing Mukmin ada kebaikan. Bersemangatlah pada apa saja yang bermanfaat bagimu, meminta tolonglah kepada Allah dan jangan merasa tidak mampu. Jika ada sesuatu yang menimpamu jangan katakan, “kalau saja aku melakukan ini dan itu, pastilah begini dan begitu.” Akan tetapi katakanlah, “Allah SWT. Telah mentakdirkan, dan apa yang dikehendakinya akan dijalankan,” sebab jikalau-jikalau (kalau saja-kalau saja) itu membuka kerja setan.” (HR. Muslim)

[Jalan kita mungkin masih panjang, atau malah telah terlihat ujungnya. Untuk menuju titik terang serta sebuah kemenangan, Allah telah mempersiapkan berbagai bentuk kerikil tajam sebagai bentuk tes terhadap diri kita. Allahlah yang kemudian menaikkan derajat kita. Tapi apakah ketika Allah telah mengangkat kita, kita melupakan kemurahan hati Allah memberikan kemenangan kepada kita? Allah berfirman: ”Kehidupan ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhiratlah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui”. (QS Al Ankabut 64)]. Semoga baik penulis maupun pembaca dapat diberikan kekuatan untuk selalu terjaga dalam memegang setiap amanahnya. Amin.

Sumber acuan
1. Al-Qur’an
2. http://jurnalindonesianet.blogspot.com/
3. http://alislamu.com/
4. http://sipil021.multiply.com/
5. http://www.percikaniman.org
6. http://www.al-ikhwan.net/
7. Majalah Islam Sabili No 8 TH. XVII 12 November 2009/24 Dzulqaidah 1430
8. Majalah Islam Sabili No 9 TH. XVII 26 November 2009/9 Dzulhijjah 1430
9. Gambar

Apabila ada kesalahan, mohon untuk dikoreksi. Semoga bisa saling mengingatkan. Wallahu alam Bish Shawab🙂

Please, give me advice for my articles!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s