Etos Kerja


Etos berasal dari bahasa Yunani (etos) yang memberikan arti sikap, kepribadian, watak, karakter, serta keyakinan atas sesuatu. Bukan bermaksud menggurui atau apapun, tapi setidaknya sedikit ilmu ini bisa tersampaikan apalagi jika hakekat belajar secara berjamaah cenderung lebih sukses ketimbang hanya sendiri tanpa ada yang mengingatkan, mungkin sama kali ya dengan salah yang berjamaah lebih cenderung diakui ke-legal-annya ketimbang dengan benar tapi tidak berjamaah. Hehe. .

Di dalam dunia kaderisasi, apalagi jika berhubungan dengan dunia kampus yang katanya terkenal dengan idealismenya, terkadang kita sering dijejali bahkan mungkin merupakan suatu asupan makanan tersendiri jika berbicara mengenai etos kerja. Jika kita berbicara mengenai dunia mahasiswa terkadang yang ada dibenak kita adalah, mahasiswa, usia cukup, kerja bagus, totalitas, amanah, dsb. Benar? Pertanyaan selanjutnya, apakah selalu seperti itu?

Oke, jika dulu saya pernah membuat artikel tentang Jangan mau menjadi kambing maka kita akan teringat mengenai masalah siswa dan mahasiswa (silahkan baca terlebih dahulu jika belum pernah membacanya) dimana pasti semua setuju, jika kita mengatakan mahasiswa seharusnya lebih cenderung mengerti urgensi etos kerja ketimbang siswa. Satu hal yang dapat saya katakan adalah, itu belum pasti!! Jika kita sekarang melihat di khasanah kampus, apalagi jika bergerak di bidang organisasi (terlebih yang ada di kampus saya pribadi) rasanya etos kerjapun dapat dikatakan suatu hal yang fluktuatif (jika memang tidak mau dikatakan hampir punah). Miris memang, apalagi jika berkaitan dengan mahasiswa baru yang semuanya ingin di coba, dan akhirnya berguguran satu persatu.

Jika ditinjau dari segi character bulding yang terkadang banyak dicari, terlihat suatu hal yang “wah” jika memang dikatakan aktifis kampus [baca maserba alias dimana-mana ada-maaf, agak maksa dikit :)] dikategorikan sebagai suatu hal yang sakral apalagi jika dikaitkan dengan etos kerja. Hal ini terasa bahwa bukan seperti itu intinya. Menurut saya, pembentukan karakter dari seseorang dilihat dari bagaimana dia dapat berkontribusi maksimal meskipun hanya satu amanah yang digeluti, atau minimal kebutuhan suatu bidang akan sdm yang mumpuni ada dan sesuai. Jika dilihat realita sekarang tidak bisa dianggap remeh jika memang kebutuhan sdm yang bagus dan berkualitas menjadi suatu hal yang memang harus dipenuhi, tapi satu hal yang kadang tidak terpikirkan adalah kemampuan multitasking masing-masing individu jelas berbeda. Terkadang orang ditempatkan dimanapun, inilah itulah dan hasilnya, kebanyakan orang kurang bisa maksimal disana. Itu yang terkadang menjadi pengubur etos kerja yang terlihat semakin berkurang sekarang. Lantas, bagaimana dengan pemenuhan kebutuhan sdm yang mumpuni? Pemimpinnya harus hitler kali ya?🙂

Jika sering berbicara mengenai etos kerja, kita sering disuguhi dengan pandawa lima. He. . [Santai tu cuma kiasan kok], yaitu kerja keras, kerja cerdas, kualitas, tuntas, dan ikhlas. Saya tidak akan membahas terlalu dalam, karena jelas masing-masing punya porsinya tersendiri untuk mengartikan hal-hal tersebut. Ya to?

Kerja keras >> DIMENSI FISIK >> SUKSES: 1% INSPIRASI, 99% KERJA KERAS

Kerja cerdas >> DIMENSI AKAL >> MANUSIA DIMULIAKAN DARI MAKHLUK LAIN KARENA AKAL PIKIRAN. Benar?

Kerja kualitas >> MEMILIKI KOMITMEN UNTUK BERBUAT SEKECIL APAPUN DENGAN KUALITAS YANG TERBAIK

Kerja tuntas >> JANGAN SEPELEKAN HAL KECIL. TIDAK ADA KATA SETENGAH-SETENGAH, PILIHANNYA ADALAH 100%. Ingat, semangat kuat >> kontribusi maksimal

Kerja ikhlas >> Dalam beberapa artikel yang ditemukan, bahwa “kerja ikhlas” itu

IKHLAS ADALAH KEKUATAN
IKHLAS ADALAH KESELAMATAN
IKHLAS ADALAH MOTIVASI TERBESAR
IKHLAS ADALAH KEMENANGAN
IKHLAS ADALAH KEBAHAGIAAN
IKHLAS ADALAH KESEHATAN
IKHLAS ADALAH KETENANGAN
IKHLAS ADALAH KEBERSAMAAN
IKHLAS ADALAH KEMULIAAN
IKHLAS ADALAH KUNCI ETOS KERJA

Kata orang-orang: Kunci etos kerja adalah berasal dari qolbu. Perbaiki qolbumu, maka kunci terakhir akan mudah di dapat. Bagaimana cara mendapatkannya? Cari sendiri dong!!🙂

Dalam suatu artikel lain yang memuat tentang hadist (H.R. Thabrani), bahwa Ketika Nabi melihat tangan Saad bin Muaz yang melepuh, nabi bertanya: Kenapa Tanganmu?, “Karena Aku Mencangkul Untuk Menghidupi Keluargaku” Rasulullah SAW mengambil tangan Saad dan menciumnya, seraya bersabda :”Inilah tangan yang tidak akan  pernah disentuh api neraka”. Etos kerja? Adakah yang seperti itu?🙂

Sebagai pungkasan alias penutup tentang etos kerja berasal dari Ibn Qudamah, “Ketahuilah, waktu hidupmu sangat terbatas. Nafasmu sudah terhitung. Setiap desahnya akan mengurangi bagian dari dirimu. Sungguh, setiap bagian usia adalah mutiara yang mahal, tak ada bandingannya!!”. Masih belum mengenal atau mungkin tidak mau mengenal etos? Keterlaluan!!🙂

Kuncinya, totalitas, pegang etos kerja, karena banyak orang lain percaya kita mampu!! Kita berkontribusi mungkin hanya satu kali, ingat itu baik-baik!!

Sumber: beberapa mengutip dari presentasi mas Nugraha ak. Gambar dari sini

Semoga menginspirasi.🙂

Please, give me advice for my articles!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s