Today from Yesterday



Suatu saat saya depresi-tidak tahu apakah benar-benar depresi stadium akhir atau hanya pelampiasan masalah saja- melihat teman-teman satu angkatan sudah bisa berkarya lebih di usianya. Bayangkan saja, sudah ada yang mempunyai usaha dengan omset jutaan rupiah, sudah ada yang pergi keluar negeri dengan lomba, sudah ada yang masuk koran, bla bla bla. Ya, sepenggal kisah tersendiri dari orang-orang hebat-atau lebih tepatnya, teman-teman hebat. Pernah merasakannya?

Pernahkah bertanya dalam diri sendiri. Ada apa dengan saya? Saya payah, saya bodoh, bla bla bla. Lalu apa yang salah dengan kita? Apa yang menjadi penghalang bagi diri kita? Satu hal yang perlu kita garis bawahi, “mungkin” kita belum mengenal diri kita, kita belum bisa memaksimalkan potensi diri kita, kita belum bisa menjadi diri sendiri untuk bisa berkarya lebih diatas mereka. Benarkah?

Suatu ketika saya membaca buku “Hidup Tak Mengenal Siaran Tunda-karya Ahmad Zairofi M”, satu hal yang membuat saya tertarik, adalah kalimat pertama, di halaman pertama [ya, penulis yang luar biasa, menggambarkan isi dari buku dimulai dari halaman pertama. Bisa di contoh!! :)]. Beliau menuliskan bahwa, “Setiap potongan waktu adalah momentum. Setiap penggal masa adalah kesempatan. Masing-masing punya fungsi dan karakternya. Hari senin ini, berbeda dengan Senin kemarin meskipun namanya sama“. Ya, singkat, tetapi kuat untuk menggambarkan buku tersebut. Lalu, apa yang menarik? Jelas, bahwa hari ini adalah kesempatan kita untuk mengolah, mengenal, hingga menyentuh diri kita sendiri jauh dari kita di satu minggu yang lalu. Titik!!

Pertanyaannya: Sudahkah kita mengenal diri kita sendiri lebih dari hari kemarin? Sudah kah kita memaksimalkan kekuatan kita lebih di hari ini lebih dari kemarin? Sudahkah kita lebih menjadi berguna dibanding kemarin? Sudahkah kita menjadi lebih baik dari kemarin? Sudahkah kita memanfaatkan momentum itu? [Silahkan Anda jawab menurut Anda sendiri, karena tiap individu jelas mempunyai versinya masing-masing]

Ah, apa iya? Jawabannya bisa iya, bisa nggak. Percaya?
Ok, seorang pengusaha jika selalu tetap tanpa ada perubahan ditiap harinya  [baca: kreatifitas nol], tidak ingin mengevaluasi setiap perubahan yang ada dengan usahanya, apakah tetap bisa bertahan hingga hari ini? Seorang peneliti, jika tidak pernah mencoba lagi dihari ini karena gagal di hari yang lalu, apakah akan menemukan sesuatu yang baru di hari ini atau hari esok? Pernahkah? Jawabannya pasti jelas dan pasti kompak: Tidak untuk keduanya!!🙂

Semua itu, terangkum dalam teori kehidupan yang saya buat, yaitu teori Today from Yesterday. Hari ini adalah cerminan kehidupan Anda dari kehidupan yang telah Anda ukir di masa-masa lampau [baca: kemarin]. Percaya? Anda harus percaya. Titik!!🙂

Ingat kata bang [robert f bennet] bahwa, kehidupan Anda adalah jumlah dari semua pilihan yang anda buat, baik secara sadar maupun tidak. Jika Anda dapat mengendalikan proses pemilihannya, Anda dapat mengendalikan seluruh aspek kehidupan Anda. Anda dapat menemukan kebebasan yang datang dari tanggung jawab terhadap diri Anda sendiri. 

3 thoughts on “Today from Yesterday

Please, give me advice for my articles!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s